UTAMA

Hari Raya Membangun Kesalehan Sosial

4
×

Hari Raya Membangun Kesalehan Sosial

Sebarkan artikel ini

Oleh: H. Edy Oktafiandi, SAg, MPd (Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang)

Hari Raya, khususnya Idulfitri, bukan sekadar penanda berakhirnya Ramadhan, tetapi juga momentum refleksi sosial yang sarat makna dan penuh pesan kemanusiaan. Ia hadir bukan hanya sebagai perayaan kemenangan spiritual setelah sebulan menahan diri, tetapi juga sebagai ruang evaluasi terhadap kualitas hubungan kita dengan sesama. 

Di tengah gegap gempita takbir yang menggema dan tradisi saling bermaafan yang menghangatkan suasana, tersimpan nilai-nilai luhur yang mengajarkan bahwa keberagamaan tidak boleh berhenti pada ranah ritual semata. Idulfitri justru menjadi titik temu antara dimensi spiritual dan sosial, di mana nilai-nilai ibadah diuji relevansinya dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat.

Islam secara tegas menempatkan keseimbangan antara hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan (ḥablum minallāh) dan hubungan horizontal antarsesama manusia (ḥablum minannās) sebagai fondasi utama kehidupan beragama. Tidaklah cukup seseorang dinilai saleh hanya karena rajin salat, berpuasa, atau membaca Al Qur’an, tanpa diiringi kepedulian sosial, empati, dan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya. Kesalehan sejati justru tercermin dari bagaimana nilai-nilai ibadah tersebut menjelma menjadi tindakan nyata, menolong yang lemah, berbagi dengan yang membutuhkan, serta menjaga harmoni dalam kehidupan sosial. Dalam konteks ini, Idulfitri menjadi momentum strategis untuk mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut secara kolektif, sehingga ibadah tidak berhenti sebagai simbol, melainkan bertransformasi menjadi gerakan sosial yang berdampak luas.

Al Qur’an secara tegas menegaskan pentingnya dimensi sosial dalam keberagamaan. Dalam QS. Al Baqarah ayat 177 disebutkan bahwa kebajikan bukan hanya soal menghadapkan wajah ke timur atau barat, melainkan juga mencakup keimanan yang diwujudkan melalui kepedulian sosial seperti memberi harta kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, dan musafir. Ayat ini memperlihatkan bahwa inti kesalehan adalah keseimbangan antara iman dan aksi sosial. 

Hal ini diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Dengan demikian, Hari Raya sejatinya menjadi panggung nyata untuk mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut.

Dalam konteks masyarakat kontemporer, makna kesalehan sosial ini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Fenomena konsumtivisme menjelang Hari Raya, misalnya, sering kali menggeser esensi Idulfitri dari spiritualitas menuju materialisme. Tradisi membeli pakaian baru, makanan berlimpah, hingga gaya hidup pamer di media sosial kerap lebih menonjol dibandingkan semangat berbagi dan kepedulian terhadap sesama. Tidak sedikit masyarakat yang terjebak dalam budaya “Gengsi Lebaran”, bahkan sampai berutang demi memenuhi standar sosial yang semu. 

Baca Juga  Calon Ketua DPC Peradi SAI Padang, Martry Gilang Rosadi, Darah Kental Advokat Ada dalam Dirinya

Kecenderungan pergeseran makna Hari Raya ini sarat nilai spiritual dan sosial menjadi lebih berorientasi pada aspek seremonial dan material. Tradisi saling mengunjungi terkadang hanya menjadi formalitas, sementara semangat berbagi dan kepedulian sosial belum sepenuhnya terinternalisasi secara mendalam. 

Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali kesadaran bahwa Idulfitri bukan hanya tentang kembali suci secara individu, tetapi juga tentang membangun kembali relasi sosial yang lebih adil, harmonis, dan penuh empati.

Mengembalikan ruh Hari Raya sebagai sarana membangun kesalehan sosial. Praktik zakat fitrah, misalnya, bukan hanya kewajiban ritual, tetapi juga instrumen keadilan sosial yang sangat relevan hingga saat ini. Al Qur’an dalam QS. At Taubah ayat 60 menjelaskan bahwa zakat diperuntukkan bagi delapan golongan, termasuk fakir dan miskin.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam telah merancang sistem distribusi ekonomi yang adil jauh sebelum konsep kesejahteraan sosial modern berkembang. Jika dikelola dengan baik, zakat fitrah dapat menjadi solusi konkret dalam mengurangi kesenjangan sosial yang masih menjadi persoalan di banyak daerah.

Selain zakat, tradisi silaturahmi yang identik dengan Hari Raya juga memiliki kekuatan luar biasa dalam membangun kohesi sosial. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” Silaturahmi bukan sekadar kunjungan formal, tetapi ruang untuk mempererat hubungan, menyelesaikan konflik, dan membangun kembali kepercayaan sosial yang mungkin sempat retak.

Namun, di era digital saat ini, makna silaturahmi juga mengalami transformasi. Ucapan Hari Raya yang dahulu disampaikan secara langsung kini banyak digantikan oleh pesan singkat atau unggahan di media sosial. Meskipun teknologi memudahkan komunikasi, ada risiko berkurangnya kedalaman interaksi sosial. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk tetap menjaga esensi silaturahmi sebagai interaksi yang tulus dan bermakna, bukan sekadar formalitas digital.

Hari Raya bukan sekadar perayaan yang ditandai dengan pakaian baru, hidangan istimewa, dan suasana penuh kegembiraan, melainkan juga menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi diri secara mendalam. Setelah sebulan penuh menjalani ibadah Ramadhan, setiap individu diajak untuk merenungkan sejauh mana amalan yang telah dilakukan mampu membentuk karakter sosial yang lebih baik dan lebih peka terhadap sesama. 

Baca Juga  Dana Pokir “Disunat”, Kepala Distanhorbun Bantah Tudingan DPRD Sumbar

Puasa, misalnya, tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi seharusnya menjadi sarana untuk melatih empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan, merasakan apa yang dirasakan oleh kaum duafa, serta menumbuhkan rasa kepedulian yang tulus. Demikian pula dengan zakat, yang tidak hanya berfungsi sebagai kewajiban ritual semata, tetapi juga sebagai upaya membersihkan harta sekaligus menanamkan nilai solidaritas sosial dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat.

Tradisi silaturahmi yang mengiringi Hari Raya seharusnya tidak berhenti pada sekadar saling berkunjung dan bermaafan secara formal, tetapi menjadi sarana untuk benar-benar memperkuat ikatan persaudaraan, memperbaiki hubungan yang sempat renggang, serta membangun kembali kepercayaan dan kebersamaan dalam kehidupan sosial. 

Dengan demikian, Hari Raya sejatinya menjadi titik refleksi sekaligus titik tolak untuk melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang telah dilatih selama Ramadan ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga terbentuk pribadi yang tidak hanya saleh secara spiritual, tetapi juga saleh secara sosial.

Selanjutnya Hari Raya dapat menjadi momentum evaluasi diri. Sejauh mana ibadah yang telah dilakukan selama Ramadan mampu membentuk karakter sosial yang lebih baik. Apakah puasa telah melatih empati terhadap mereka yang kekurangan? Apakah zakat telah membersihkan harta sekaligus menumbuhkan kepedulian? dan apakah silaturahmi telah memperkuat persaudaraan?

Jika pertanyaan-pertanyaan ini dijawab dengan jujur, maka Hari Raya bukan hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga titik balik menuju masyarakat yang lebih adil, empatik, dan harmonis. Kesalehan sosial yang dibangun melalui nilai-nilai Al Qur’an dan Hadis akan menjadi fondasi kuat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman mulai dari kesenjangan ekonomi, individualisme, hingga disintegrasi sosial.

Pada akhirnya, Idulfitri mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan terletak pada pakaian baru atau hidangan mewah, melainkan pada hati yang bersih, kepedulian yang tulus, dan komitmen untuk terus menebar kebaikan. Inilah hakikat kesalehan sosial yang seharusnya menjadi wajah Islam dalam kehidupan bermasyarakat karena agama yang tidak hanya mengajarkan ibadah, tetapi juga menghadirkan rahmat bagi seluruh alam. Semoga! (*)