Saya kira alasan klasik dan sering didengar sebagai justifikasi atas tindakannya. Persoalan masa tua memang menjadi sebuah fenomena nyata dalam kehidupan manusia di jagat raya. Bukan hanya di negeri ini, tapi juga di hampir semua negara.
Persoalan orang tua dan masa tua belakangan ini semakin banyak dibicarakan. Persoalan masa tua seseorang memang kompleks, setidaknya bersentuhan erat dengan bermacam dimensi, seperti tradisi, budaya, kepercayaan, agama, psikologi, pendidikan dan banyak nilai lainnya. Sehingga kadang negara harus ikut campur menyikapinya.
Di beberapa negara, seperti Jepang, Singapura dan China, banyak orang tua yang tetap bekerja di usia tuanya, dan negara memberi ruang yang luas untuk itu, agar tetap sehat bahkan produktif di usia senja. Pekerjaan untuk mereka biasanya bukanlah mengandalkan kekuatan fisik, melainkan pekerjaan yang menggunakan sedikit tenaga, seperti mencuci piring di restoran, menyapu di kafe atau rumah makan, dan mengolah bahan bahan makanan yang semenjak muda sudah mereka geluti juga dan sebagainya.
Perusahaan atau goverment tidak mengharapkan hasil kerja optimal, tapi sebatas kemampuan mereka, dengan upah yang tentu juga tidak harus tinggi seperti pekerja usia produktif. Yang penting tidak membuat mereka kesepian dalam keramaian dan agar mereka tetap merasa berguna meskipun sudah tua (tidak merasa terbuang bahkan lebih jauh dianggap sampah sosial ).
Tapi persoalan ini umumnya muncul pada orang tua yang miskin. Bila mereka kaya, tentu saja dapat membayar sejumlah orang untuk mengurusnya. Mereka dapat jalan-jalan kemana saja di damping orang orang yang mengurusnya.
Di negara RRT, ada aturan khusus yang mengatur kewajiban anak untuk merawat dan mengurus orang tua. Aturan ini disebut elderly right, atau hukum lansia.










