“Masyarakat merasa rugi karena keuntungan yang diperoleh terlalu kecil. Padahal, tanpa partisipasi mereka, kebijakan yang ada akan sulit berjalan,” tuturnya.
Isril menambahkan, kolaborasi antara pemerintah dan unit usaha daur ulang sangat diperlukan. Ia menilai pemerintah mesti turun hingga ke tingkat kelurahan untuk menggerakkan warga agar terbiasa memilah sampah sejak dari rumah.
“Pengelolaan sampah plastik tidak akan terselesaikan jika hanya mengandalkan regulasi. Pemerintah perlu bergerilya, membiasakan masyarakat memilah sampah, sekaligus memperkuat kerja sama dengan unit usaha pengolahan,” katanya.
Persoalan sampah plastik, sambungnya tidak hanya berhenti di daratan, tetapi sudah merembes ke ekosistem air. Berdasarkan penelitian, Sungai Batang Arau telah terindikasi mengandung mikroplastik.
“Jika jumlahnya semakin banyak dan bermuara ke laut, dampaknya akan sangat serius. Mikroplastik bisa termakan ikan, lalu berpindah ke tubuh manusia saat ikan itu dikonsumsi. Ini akan menimbulkan efek berantai terhadap kesehatan,” ucapnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, ia menilai edukasi, penyuluhan, dan pembinaan masyarakat harus dilakukan secara konsisten dan menyeluruh.














