UTAMA

Mendamba Orkestrasi Besar Pemulihan Bencana Sumbar

0
×

Mendamba Orkestrasi Besar Pemulihan Bencana Sumbar

Sebarkan artikel ini
Sejumlah tokoh masyarakat, pers, dan akademisi berfoto bersama dalam diskusi dan dialog terbuka yang digelar Senator Irman Gusman dan PWI Sumbar di Rumah Makan Suasso, Kota Padang, Senin (15/12) malam. Dalam diskusi tersebut disepakati bahwa Sumbar membutuhkan orkestrasi pemulihan bencana yang lebih terukur dan berkeadilan. IST

Hal senada juga disampaikan tokoh pers senior, Hasril Chaniago. Menurutnya, pemulihan pascabencana membutuhkan orkestrasi besar yang tidak bisa diserahkan semata kepada mekanisme birokrasi rutin.

“Terlepas dari status bencana nasional atau tidak, Presiden sudah menyatakan negara bertanggung jawab. Persoalannya, ketika bantuan asing ditolak, bantuan dari pemerintah yang diharapkan justru belum berjalan optimal. Di sinilah dilema itu muncul,” ujar Hasril.

Ia menilai, situasi ini harus menjadi momentum membangkitkan kembali kebersamaan. Penanganan bencana bukan hanya urusan pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat.

Baca Juga  Gubernur Mahyeldi : Sanksi Tegas Menanti ASN dan PPPK Sumbar yang Terlibat Judi Online Maupun Offline

Hasril menekankan perlunya satu figur atau lembaga yang mampu mengorkestrasi seluruh potensi pemulihan, mulai dari tenaga, pemikiran, sumber daya, hingga kewenangan. Ia mengusulkan pembentukan badan khusus pemulihan pascabencana, serupa dengan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh pascabencana tsunami 2004.

“Pemerintah sudah menetapkan anggaran pemulihan, tapi jelas tidak semua bisa ditanggung. Aparatur juga diliputi ketakutan akan pemeriksaan aparat penegak hukum, sehingga dana yang ada tidak terserap maksimal. Sementara masyarakat menjerit butuh penanganan,” katanya.

Baca Juga  Studi Tiru ke Desa Sikapak Timur, Wali Nagari Pasia Laweh: Kagum dengan Stadion Mini, Dibangun Hanya Gunakan Dana Desa

Keresahan serupa disampaikan Ketua Majelis Kelitbangan Sumbar, Prof. Musliar Kasim. Dari hasil pengamatannya di lapangan, ia menilai gerak paling nyata justru terlihat dari unsur TNI, sementara pemerintah daerah bergerak sangat terbatas akibat kendala kewenangan dan pembiayaan.