EkBis

Kisah Hidup Haji Sagi “Si Raja Emas dari Andalas” (Bagian I): Dia Tak Tega Ibunya Menangis!

27
×

Kisah Hidup Haji Sagi “Si Raja Emas dari Andalas” (Bagian I): Dia Tak Tega Ibunya Menangis!

Sebarkan artikel ini
Abak dan Amak Haji Sagi

Tak lama berselang, Wahid muncul di ambang pintu diikuti perempuan enam puluhan yang kelihatan masih cekatan dan langsung menghampiri Jamarah yang terlihat meringis menahan rasa sakit. Hanya dengan meraba perut Jamarah, tek Suri tersenyum kecil.

“Belum saatnya, nanti beberapa jam lagi tapi kau tak boleh tertidur,” kata sang dukun.

Ada guratan kekhawatiran terbayang di wajah Kari Wahid. Ia sendiri tak mengerti kenapa, padahal kelahiran anaknya kali ini bukanlah yang pertama tapi untuk kesembilan kalinya. Tak biasanya ia seperti sekarang. Ada rasa cemas bercampur gelisah. Namun ia coba untuk menenangkan diri sambil duduk Kari berdo’a untuk keselamatan istrinya.

Baca Juga  Touring Jakarta-Bali! PLN Buktikan Mobil Listrik Hemat Rp8.250 per Liter Bensin, Begitu Perhitunganya

Malam kian beranjak larut. Sementara istrinya mulai mengerang menahan rasa sakit. Pelan Kari Wahid, lelaki yang biasanya sangat tegar ini mulai gelisah. Jam dinding berdentang satu kali, Wahid, memalingkan wajahnya ke arah jam.

“Setengah dua belas,” gumamnya. Kegelisahannya semakin terasa, pelan dia berdiri berjalan ke arah pintu kemudian duduk kembali di kursi rotan yang sudah mulai usang dimakan usia.

Istrinya bersama dukun sudah pindah ke ruang tengah. Lapat-lapat Kari Wahid mendengar suara Tek Suri, menyuruh istrinya ngedan.” Ulang baliak, ayo taruih, taruih, tarui, iyah. Alhamdulillah,” terdengar Tek Suri mengakhiri perintahnya. Bersamaan dengan itu terdengar suara bayi menangis.

Baca Juga  Buru Kepastian Pendanaan Proyek Tol, Pemprov Sumbar Gencarkan Lobi ke Pusat