Dalam memimpin, Ulul membawa filosofi SMART: sinergy, modern, adaptif, religius, dan terdepan. SMART menjadi dasar pijakannya dalam mengelola organisasi dan menyusun arah kebijakan PII Riau. Sinergy tercermin dari kemampuannya merangkul semua unsur; modern tampak dalam keberaniannya mengadopsi teknologi dan sistem digital; adaptif ia wujudkan dengan sigap membaca perubahan; religius ia tunjukkan lewat sikap etis dan keberpihakan kepada masyarakat; dan terdepan ia buktikan melalui langkah-langkah inovatif yang mendahului kebutuhan zaman. Bagi Ulul, SMART bukan hanya akronim, tetapi komitmen yang hidup dalam tindakan.
Ia menegaskan bahwa semua capaian yang diraihnya adalah hasil kolaborasi dan kepercayaan dari para senior serta sahabat insinyur di seluruh penjuru Indonesia. Bagi Ulul, kekuatan terbesar seorang pemimpin bukan hanya pada gagasan, tetapi pada kemampuannya menyatukan semua potensi untuk bergerak bersama demi kemajuan kolektif.
Semangat kepemimpinannya tidak lepas dari inspirasi tokoh teknokrat bangsa yang juga merupakan Ketua Umum PII pertama dan pahlawan nasional, Ir. H. Djuanda Kartawidjaja. Ulul kerap mengutip warisan nilai yang ditinggalkan Ir. Djuanda, bahwa menjadi insinyur bukan sekadar persoalan perhitungan atau rancangan teknis, tetapi adalah tentang keberanian mempersatukan bangsa melalui karya nyata. Prinsip-prinsip kejujuran, keilmuan, dan keberpihakan pada kepentingan rakyat menjadi kompas moral dalam setiap langkah dan keputusan yang ia ambil dalam memimpin.
Melalui perannya sebagai Ketua PII Riau, Ulul Azmi mengajak seluruh lulusan teknik, sains, pertanian, perikanan, hayati, kehutanan, dan rumpun keinsinyuran lainnya untuk bergabung ke dalam rumah besar Persatuan Insinyur Indonesia. Ia mengingatkan bahwa profesi ini bukan sekadar status, melainkan amanah yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. Bergabung di PII adalah bagian dari menjaga legalitas, kualitas, dan kehormatan profesi insinyur di tengah tantangan pembangunan nasional dan global.
Ulul percaya bahwa insinyur tidak hanya membangun jembatan dan gedung, tetapi juga membangun masa depan, nilai, dan peradaban. Ia meyakini bahwa dari Riau, akan tumbuh pemimpin-pemimpin insinyur masa depan yang tidak hanya unggul dalam ilmu, tetapi juga kokoh dalam etika dan kuat dalam pengabdian.(*)