Keempat, jika wisata jalan kaki ini dapat dikemas dengan baik, juga akan ada dampak ekonomi langsung terhadap rakyat, khususnya pada setiap rute perjalanan yang akan dilalui oleh wisatawan pejalan kaki. Pemko perlu mendorong agar dihadirkan “lapau-lapau” tradisi yang menjual makanan tradisi jika dikemas pula dengan baik dan elegan dengan tidak meninggalkan nilai tradisinya, bukan tidak mungkin akan menjadi daya tarik tersendiri sebagai ciri khas jati diri budaya (cultural identity) Minangkabau di Kota Bukittinggi.
Kalau mau studi banding, pergilah ke salah satu kampung di seberang Sungai Mekong di Vietnam, di sana ada lapau-lapau tradisi dengan Vietnamese coffee-nya yang sering dicari wisatawan, termasuk proses membuat “galamai” persis seperti di 50 Kota, menjadi daya tarik tersendiri di sana. Suaut ketika dulu, saya menyaksikan para bule-bule berjubel di sana.
Dampak Lain Wisata Jalan Kaki Terhadap Kota Wisata
Dalam sejarah pengembangan satu kota menjadi kota wisata dari nol hingga berhasil pernah terjadi di Sumatera Barat ini, yaitu di Kota Sawahlunto pada zaman Walikota Amran Nur. Saya adalah saksi hidup yang mengikuti perkembangan kota tersebut selama sembilan tahun. Memang semuanya tergantung pada visi seorang pemimpin, dan Ramlan punya itu.
Mungkin strategi komunikasi dan aspek pemasaran, serta dukungan sumber daya terpilih yang perlu dipikirkan. Amran Nur di Sawahlunto benar-benar meninggalkan sebuah “legacy”. Buktinya hingga kini, ketika bicara wisata Sawahlunto nama Amran Nur tetap melekat dan tidak bisa dilepaskan. Legacy yang akan dikenang masyarakat dan akan menjadi kebanggaan anak cucu ini lah yang jarang terpikirkan oleh kebanyakan para pemimpian politik zaman sekarang.
Berikut beberapa dampak pengembangan wisata jalan kaki jika bisa dihadirkan di Kota Bukittinggi:
- Dalam pengembangan pariwisata, ia akan mempromosikan wisata sejarah dan budaya: semisal Jam Gadang, Istana Bung Hatta, Benteng Fort de Kock, Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta, Musium Perjuangan, dan lain-lain. Wisata Kuliner: promosi rendang dan nasi kapau misalnya. Untuk itu penataan “Pasa Lambuang” sebagai pusat kuliner tradisi perlu dikembangkan menghadirkan nuansa moderen, tapi tidak meninggalkan aspek tradisi. Penataan para pedagang di Pasa Lereang menjadi satu keperluan bagi membangun kenyamanan pejalan kaki. Suatu saat festival kuliner perlu dirancang khusus, kelas memasak untuk wisatawan, dan kolaborasi dengan platform digital untuk memperluas jangkauan pemasaran tentu juga perlu dipikirkan. Menurut saya, secara berkala lantai dasar Mall Pasar Ateh sekarang bisa di manfaatkan untuk berbagai events. Wisata Belanja: Penataan pusat oleh-oleh dan kerajinan tangan lokal dengan penataan yang menarik serta dengan peningkatan kualitas produk juga perlu ditingkatkan.
- Dalam pengembangan Pendidikan. Dengan memanfaatkan iklim yang sejuk dan nyaman, Bukittinggi dapat menjadi kota pendidikan yang istimewa. Pendirian Institusi Pendidikan tidak perlu berkompetisi secara ketat berebut di lahan sempit dengan daerah lain. Di sini diperlukan wawasan, kerja sama dengan pihak luar negeri sangat diperlukan. Pengembangan pendidikan vocasional sangat diperlukan untuk mengurangi pengangguran. Bagaimana melahirkan program pelatihan berkualitas dan menarik siswa dari berbagai daerah adalah prioritas, dan kerja sama dengan Pemkab Agam sangat potensial mengingat lahan Kota yang terbatas.
- Pengembangan Ekonomi dan Perdagangan. Sebagai kota transit yang strategis berada di persimpangan transportasi Padang-Medan-Pekanbaru, Bukittinggi perlu merancang ulang pembangunan infrastruktur untuk mendukung kelancaran arus barang dan penumpang. Meningkatkan kualitas peran terminal Aue Kuniang, terminal Angkot di Aue Tajungkang. Memikirkan modernisasi Pasar Bawah sebagai pasar tradisionil, termasuk memanfaatkan Gedung Pasar Banto peninggalan Wako Jufri yang terbiarkan. Jangan melihat itu sebagai kerja Jufri, tapi fokus pada “zaman Ramlan-Ibnu” lah suasana Pasar Banto itu jadi moderen dan meriah. Pembenahan kesemrawutan di sekitar Pasar Banto satu keharusan, daerah ini berbahaya untuk pejalan kaki, mobil-mobil sering parkir di trotoar yang dulu dibuat Ramlan.
- Masih terkait Ekonomi dan Perdagangan, para pedagang asongan yang tidak terkendali mengganggu kenyamanan wisatawan di titik-titik utama seperti Jam Gadang, mungkin perlu zona khusus PKL dan Pedagang Asongan. Misalnya dengan membangun area khusus untuk pedagang di dekat objek wisata tanpa mengganggu estetika dan kenyamanan, misalnya dengan menerapkan desain kios yang estetik dan ramah lingkungan. Namun, diperlukan edukasi dan pemberdayaan pedagang dengan memberikan pelatihan tentang pelayanan wisatawan, kebersihan dan cara pemasaran produk. Dorong para pedagang itu untuk menyediakan produk khas Bukittinggi (souvenir, kuliner lokal) agar tetap relevan dengan konsep wisata.