Oleh:
Dr. Sarbaitinil, M.Pd dan Dr. Faisal Yasin, S.Sos, M.Pd
Dosen Pendidikan Sosiologi, Universitas PGRI Sumatera Barat
Di tengah semakin kompleksnya persoalan sosial yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, bullying atau perundungan menjadi salah satu tantangan utama yang menghantui sekolah-sekolah di berbagai tingkatan. Berbagai studi telah mengungkapkan dampak serius bullying terhadap kondisi psikologis dan prestasi akademik siswa. Yang lebih mengkhawatirkan, budaya diam dan pembiaran terhadap praktik perundungan ini justru memperkuat keberlanjutannya.
Melihat kenyataan tersebut, civitas akademika tidak dapat hanya duduk diam. Sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, para dosen dan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Sosiologi Universitas PGRI Sumatera Barat melaksanakan sebuah program pengabdian masyarakat dengan pendekatan baru dan solutif: Program Teman Peduli. Kegiatan ini digelar di SMP Negeri 3 IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan pada 9 Januari 2025.
Berbeda dari pendekatan tradisional yang seringkali hanya menyampaikan informasi normatif soal bahaya bullying, Program Teman Peduli menawarkan sesuatu yang lebih substansial: penguatan karakter dan pembentukan komunitas berbasis empati antar siswa. Dalam program ini, siswa tidak hanya diberi tahu bahwa bullying itu salah, tetapi juga diajak memahami mengapa mereka harus peduli dan bagaimana menjadi bagian dari solusi.
Melalui sesi interaktif dan diskusi kelompok, para siswa menyampaikan pengalaman pribadi, mengidentifikasi bentuk-bentuk bullying yang mereka alami atau saksikan, serta menyusun langkah preventif yang bisa dilakukan bersama. Di sinilah nilai pendidikan sejati hidup siswa belajar menyuarakan, mendengarkan, dan membangun rasa tanggung jawab sosial. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip-prinsip pendidikan karakter menurut Lickona (1992) yang menekankan tiga aspek penting: moral knowing, moral feeling, dan moral action. Dengan membangun kesadaran dan empati, siswa dilatih untuk tidak menjadi penonton pasif, melainkan teman yang peduli dan aktif bertindak jika terjadi perundungan.
Salah satu kekuatan dari Program Teman Peduli adalah pelibatan aktif siswa sebagai “agen perubahan” di lingkungannya sendiri. Mereka tidak hanya menjadi objek pembinaan, tetapi juga subjek yang memiliki peran penting dalam menciptakan sekolah yang aman.
Dr. Faisal Yasin, salah satu pelaksana program, menjelaskan bahwa anak-anak yang memiliki karakter kuat, empatik, dan berani menyuarakan kebenaran akan lebih tangguh menghadapi tekanan sosial negatif. Inilah inti dari pendekatan preventif yang ditawarkan membangun daya tahan sosial dan moral siswa, bukan sekadar memberikan sanksi pada pelaku bullying.
Keberhasilan program seperti ini tidak bisa dilepaskan dari peran sekolah dan orang tua. Kepala SMPN 3 IV Jurai, Masdi, S.Pd.I, menyatakan bahwa kegiatan ini sangat membantu sekolah memahami strategi baru dalam menangani kasus bullying. Ia menekankan perlunya keberlanjutan melalui pembinaan rutin dan kerja sama dengan guru bimbingan konseling. Sementara itu, para guru yang hadir dalam kegiatan ini mengungkapkan pentingnya membangun mekanisme deteksi dini dan pelaporan yang tidak menyalahkan korban. Budaya menyalahkan atau meremehkan laporan siswa justru menjadi penghalang utama pencegahan. Orang tua juga perlu diajak terlibat. Bullying seringkali bermula dari ketidakmampuan anak dalam mengelola emosi atau meniru pola perilaku dari lingkungan luar sekolah. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus dilakukan secara konsisten di rumah dan di sekolah.
Pengabdian ini bukan hanya kegiatan sekali jalan. Tim dosen Universitas PGRI Sumatera Barat menargetkan pengembangan modul Program Teman Peduli yang dapat dijadikan panduan bagi sekolah lain di wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya. Harapannya, program ini bisa menjadi model replikasi untuk sekolah-sekolah lain yang ingin membangun budaya anti perundungan berbasis partisipasi aktif siswa. Banyak program anti-bullying yang gagal karena top-down dan hanya formalitas. Dengan pendekatan akar rumput yang dikembangkan lewat Program Teman Peduli, sekolah tidak hanya “melarang” bullying, tetapi juga menciptakan budaya saling menjaga dan menghargai di kalangan siswa.
Program Teman Peduli tidak berhenti pada kegiatan satu hari. Dalam rencana jangka menengah, tim dosen dan mahasiswa akan melakukan pendampingan berkala melalui kunjungan rutin, pelatihan guru pendamping, serta evaluasi dampak sosial yang muncul. Evaluasi dilakukan dengan wawancara mendalam kepada siswa, guru, serta observasi iklim sosial di sekolah. Metode ini bertujuan memastikan bahwa nilai-nilai karakter yang dibangun benar-benar membudaya dalam keseharian siswa. Lebih jauh, keterlibatan aktif guru BK dan wali kelas menjadi penentu keberlanjutan program.
Dalam konteks lebih luas, Program Teman Peduli membuka peluang kolaborasi antara perguruan tinggi dan Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Selatan. Diharapkan model ini bisa masuk dalam agenda pembinaan karakter peserta didik di seluruh SMP, baik negeri maupun swasta. Apalagi, Permendikbud No. 82 Tahun 2015 telah menekankan pentingnya pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan satuan pendidikan. Kolaborasi semacam ini akan memperkuat sistem pencegahan bullying tidak hanya sebagai proyek sesaat, tetapi sebagai program sistemik yang masuk dalam kurikulum pembinaan siswa.
Program Teman Peduli telah membuktikan bahwa perubahan sosial bisa dimulai dari empati sederhana di ruang kelas. Ia menjadi antitesis dari sistem pembinaan yang menekankan hukuman, dengan menggantinya melalui nilai tanggung jawab dan kepedulian. Dengan semangat kolaborasi, keberlanjutan, dan pendekatan humanistik, inisiatif ini bisa menjadi salah satu model unggulan pendidikan karakter di era Kurikulum Merdeka, di mana murid bukan hanya dituntut pintar secara akademik, tapi juga berkarakter kuat dalam menghadapi tantangan hidup.
Sebagai refleksi akhir edukasi yang menyentuh hati, program ini bukan hanya bentuk pelaksanaan kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ia adalah refleksi dari kepedulian dan keberpihakan pada dunia pendidikan yang lebih manusiawi. Ketika siswa belajar peduli satu sama lain, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh menjadi manusia yang utuh.
Di tengah narasi tentang rusaknya moral generasi muda, inisiatif seperti ini menjadi titik terang. Pendidikan bukan sekadar urusan nilai dan ranking, tetapi tentang bagaimana kita membentuk generasi yang saling menyayangi, berani membela yang benar, dan mampu hidup dalam keberagaman.
Semoga langkah kecil di Pesisir Selatan ini bisa menjadi inspirasi besar bagi perubahan di dunia pendidikan Indonesia.
Artikel ini merupakan hasil kegiatan pengabdian masyarakat dari dosen dan mahasiswa Universitas PGRI Sumatera Barat di SMPN 3 IV Jurai, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 9 Januari 2025. (*)