HARIANHALUAN.ID – Pernahkah Anda melihat rekan kerja yang hadir setiap hari, menyelesaikan tugas sesuai deskripsi kerja, namun tampak enggan berinisiatif, enggan terlibat lebih jauh, bahkan tidak lagi memiliki keterikatan emosional terhadap pekerjaannya? Fenomena ini kini semakin sering ditemukan di berbagai lingkungan kerja baik di sektor publik maupun swasta.
Banyak yang mengira kondisi semacam ini hanyalah fase kelelahan biasa, atau bentuk penyesuaian semangat pasca pandemi. Namun dalam kenyataannya, ada kecenderungan yang lebih dalam dan sistemik. Banyak karyawan yang tetap hadir secara fisik, tetap menjalankan tugas profesionalnya, namun mulai menarik diri secara psikologis dari pekerjaannya.
Istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ini adalah quiet quitting. Ia menggambarkan situasi di mana seseorang tidak benar-benar “berhenti” bekerja, tetapi berhenti untuk benar-benar “terlibat.” Tidak ada pengunduran diri secara formal, tetapi ada penarikan diri dari inisiatif, komitmen emosional, dan kontribusi ekstra.
Sejumlah literatur menyebut bahwa quiet quitting bukanlah bentuk kemalasan. Sebaliknya, ia adalah respons rasional terhadap lingkungan kerja yang tidak suportif, tidak adil, atau tidak lagi bermakna secara personal. Faktor seperti kelelahan kerja (burnout), stagnasi karier, kurangnya apresiasi, atau tekanan emosional jangka panjang kerap menjadi pemicu utama.
Melalui tulisan ini, saya ingin memberikan gambaran yang lebih jernih tentang quiet quitting dari berbagai definisi yang ditawarkan oleh sumber-sumber kredibel, hingga analisis mendalam mengenai penyebab dan konteks organisasi yang melatarbelakanginya. Di bagian akhir, saya juga akan mengusulkan beberapa hal penting yang dapat dilakukan khususnya oleh para pemimpin agar fenomena ini tidak terus tumbuh dan merusak semangat kolektif di dunia kerja.
Definisi Quiet Quitting
Menurut laporan Gallup (2022), quiet quitting menggambarkan karyawan yang “hanya hadir secara fisik namun tidak lagi terlibat secara psikologis.” Mereka tetap bekerja, tetapi hanya dalam batas minimum yang disyaratkan tanpa kontribusi tambahan, tanpa keterlibatan emosional.
Sementara itu, artikel dari Harvard Business Review (2022) menjelaskan bahwa quiet quitting bukan tentang berhenti bekerja, melainkan berhenti “melakukan hal-hal ekstra” karena adanya ketidakjelasan peran, kurangnya dukungan kepemimpinan, atau ketimpangan antara usaha dan imbalan.
Dalam laman edukatifnya, Johns Hopkins University juga mendeskripsikan quiet quitting sebagai situasi ketika seseorang tetap melaksanakan tugas pekerjaannya, namun secara sadar menghentikan investasi emosional terhadap pekerjaan tersebut.
Penting untuk membedakan quiet quitting dengan tagline populer seperti “lari aja dulu” sebuah ekspresi yang kerap digunakan oleh anak muda ketika merasa tidak cocok dengan pekerjaan dan memutuskan untuk keluar atau resign.