Oleh: Ronny P Sasmita (Analis Ekonomi Indonesia Strategic and Economics Action Institution)
Agak mengagetkan juga data pertumbuhan ekonomi Sumbar kuartal II tahun ini, sebagaimana telah dirilis oleh BPS Sumbar beberapa hari lalu. Secara year on year, dibanding kuartal II tahun lalu, PDRB (Product Domestik Regional Bruto) Sumbar tumbuh 3,94 persen. Sementara dibanding kuartal I tahun ini, PDRB Sumbar tumbuh 1,52 persen. Angka pertumbuhan ekonomi Sumbar kuartal ini juga tercatat masih rendah dibanding raihan pertumbuhan kuartal I tahun ini, yang berada di angka 4,66 persen secara year on year
Dan cukup mengaggetkan bahwa secara komparatif, dari data BPS Sumbar, pertumbuhan ekonomi Sumbar kuartal II tahun ini ternyata tercatat sebagai pertumbuhan terendah se-Sumatera. Lihat saja, ekonomi Aceh masih mampu tumbuh seebsar 4,82 persen, Sumatera Utara sebesar 4,69 persen, Riau sebesar 4,59 persen, Kepulauan Riau sebesar 7,14 persen, Jambi sebesar 4,99 persen, Bengkulu sebesar 4,99 persen, Sumatera Selatan sebesar 5,42, dan Lampung sebesar 5,9 persen.
Pun jika dibandingkan dengan data pertumbuhan ekonomi nasional, pertumbuhan PDRB Sumbar juga tercatat jauh berada di bawahnya. Pertumbuhan ekonomi nasional kuartal II tahun ini dibanding kuartal II tahun lalu masih tumbuh 5,12 persen. Sementara dibanding kuartal I tahun ini, 2025, pertumbuhan ekonomi nasional masih tercatat sebesar 4,04 persen. Di kuartal I tahun ini, Indonesia masih mampu mencatatkan pertumbuhan sekira 4,7an persen. Sehingga pertumbuhan di kuartal II 2025 cukup mengagetkan. Bukan karena turun seperti di Sumbar, tapi karena naik cukup signifikan.
Lalu, jika kita telusuri lebih dalam, hampir semua sektor tumbuh tipis, kecuali sektor informasi dan komunikasi yang naik cukup signifikan (plus 6,67 persen). Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, bahkan terkontraksi minus 1,63 persen. Sektor konstruksi bergerak cukup positif jika dibanding kuartal sebelumnya yang sempat tercatat minus. Dan dari sisi pengeluaran, faktor penekan pertumbuhan datang dari impor yang tumbuh sangat tinggi di kuartal kedua tahun ini, sebesar 64,39 persen, sementara ekspor hanya tumbuh 3,50 persen. Konsumsi atau belanja pemerintah tercatat naik cukup baik, sebesar 20 persen, sementara investasi (PMTB) hanya naik 4,04 persen, sedikit di atas pertumbuhan ekonomi Sumbar.
Yang agak mengkhawatirkan adalah konsumsi rumah tangga tercatat terkontraksi sebesar 0,15 persen. Data ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat Sumbar masih cukup tertekan. Boleh jadi karena tekanan pendapatan secara umum di mana terjadi pemutusan hubungan kerja, kehilangan pendapatan karena faktor lain (gaji belum dibayar, seperti yang baru-baru ini terjadi di salah satu perusahaan di Sumbar), dan bisa juga karena aksi menahan belanja di kalangan kelas menengah dan atas di Sumbar akibat persepsi ketidakpastian ekonomi untuk waktu-waktu mendatang . Hal ini agak kontras dengan kondisi konsumsi rumah tangga secara nasional yang tercatat naik tipis, karena faktor momentum tahun ajaran baru.
Data-data ini, dalam hemat saya, harus menjadi catatan penting bagi pemerintahan baru di Sumbar, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota. Belanja pemerintah yang naik cukup tinggi di kuartal II, belum bisa mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding daerah lain di Sumatera. Artinya, belanja pemerintah daerah belum produktif. Hal ini seiring dengan tingkat investasi yang juga tumbuh kurang signifikan. Sementara konsumsi rumah tangga terkontraksi di saat momentum di mana konsumsi rumah tangga semestinya naik.