PADANG, HARIANHALUAN.ID – Tahun ini dan mungkin akan berlanjut di 2026 nanti, efisiensi anggaran memang menjadikan Sumatera Barat (Sumbar) dalam beban dan kondisi yang cukup sulit. Terlebih bagi Sumbar dengan sektor pariwisatanya yang menunjukkan adanya kemunduran bagi industri pariwisatanya sendiri.
Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Kota Bukittinggi, Syafril mengatakan, Sumbar dalam sektor pariwisatanya memang dihadapkan oleh banyak tantangan yang sulit dibendung dengan cepat.
Sehingga sangat dibutuhkan jalan lain yang tak mengganggu fokus pembangunan yang lainnya dan juga tak mengabaikan industri pariwisata seperti pelaku pariwisata dan perhotelan.
“Tahun ini menjadi kondisi yang cukup sulit bagi pelaku hotel dan pelaku pariwisata, karena efisiensi anggaran dan segala macamnya. Kami tentunya sangat memerlukan campur tangan pemerintah untuk mencari jalan keluarnya sebagai industri pariwisata ini,” katanya kepada Haluan, Minggu (13/7/2025).
Melihat kondisi kunjungan dalam tahun ini, kata Syafril, memang terjadi peningkatan kunjungan mancanegara ke Sumbar. Tapi sebaliknya, kunjungan domestik terjadi penurunan. Hal ini tidak terlepas dari pergeseran yang mengubah kelakuan wisatawan domestik untuk lebih memilih liburannya ke luar negeri.
“Bayangkan tiket ke Jakarta justru lebih mahal daripada ke Kuala Lumpur, Malaysia. Tiket PP Kuala Lumpur bisa sama dengan tiket one way ke Jakarta. Artinya, masyarakat kita beranggapan bahwa lebih baik ke luar negeri, karena tiketnya murah. Dan ini juga yang menyebabkan tamu domestik kita menjadi berkurang ke sini,” ucapnya.
Tamasya pikiran dari wisatawan domestik ini, pikir Syafril, tentunya turut memberikan keriskanan terhadap upaya menggenjot kunjungan wisatawan ke Indonesia dan juga bagi Sumbar sendiri yang tengah bergeliat dengan sektor pariwisata.
Sehingga pergeseran ini perlu segera diantisipasi atau dicegah. Salah satunya melalui pengkajian ulang terkait pembiayaan atau harga tiket pesawat. Sebab, dominasi kunjungan berwisata itu sumbangsih besarnya dari wisatawan domestik itu sendiri.
“Kami pihak perhotelan dan juga pelaku pariwisata menekankan terus bagaimana tiket pesawat ini bisa dikurangi supaya bisa tamu dari luar, baik di luar government pun bisa datang ke Sumbar untuk menutupi celah-celah yang kekurangan tadi akibat efisiensi anggaran. Kalau pemerintah daerah dan pusat tidak bisa menekan harga tiket, celah-celah ini akan muncul terus. Kita dari pihak PHRI dan asosiasi pelaku pariwisata mengimbau supaya ini bisa diupayakan,” kata Ketua ASPPI Kota Bukittinggi tersebut. (*)