Saksikan Festival Multikultural di GOR HTT Padang! Ada Bazar UMKM Hingga Tarian Kontemporer 16 Etnis di Sumbar


HARIANHALUAN.id – Bazar Merah Putih dengan tema Festival Multikultural digelar Himpunan Tjinta Teman (HTT) di di GOR HTT Padang, Sabtu (12/8/2023). Kegiatan Festival Multikultural ini meriah dengan menampilkan kesenian dari 16 etnik dari berbagai elemen masyarakat di Sumatera Barat. 

Resmi dibuka dengan pemukulan tambur oleh Wakil Gubernur Sumbar Audy Joinaldy, bazar yang diramaikan dengan 38 stan UMKM dan ekonimi kreatif, 10 stan sponsorship dan 10 stan permainan ini telah dipadati ribuan pengunjung sejak hari pertama. Hingga tujuh hari kedepan, pengunjung Bazar Merah Putih juga akan dihibur dengan penampilan beragam tarian Nusantara, Tiong Hoa dan seni kontemporer.

Wakil Gubernur Audy Joinaldy dalam sambutannya mengapresiasi semangat serta rasa persatuan dan kesatuan etnis Tionghoa di Sumatera Barat. Festival ini kata Wagub merupakan cerminan kehidupan bernegara yang rukun dan harmonis dalam keberagaman. 

“Dengan terselenggaranya Bazar Merah Putih HTT ini diharapkan dapat mempererat rasa persatuan antar sesama anak bangsa,” harap Audy.

Tak hanya mempererat keberagaman, Bazar Merah Putih ini tentu juga berkontribusi menggerakkan perekonomian di Kota Padang.

Menyampaiakan hal serupa, Wakil Wali Kota Padang Ekos Albar mengatakan Bazar Merah Putih HTT ini menstimulus pengusaha agar terus bangkit dan maju. “Tentunya berujung pada menggeliat perekonomiannya Kota Padang,” harapnnya.

Sementara itu, Wakil Ketua HTT Padang, Albert Hendra Lukman mengatakan HTT telah menjadi salah satu wadah perkumpulan etnis Tionghoa sejak 159 tahun lalu. Hal Ini menurutnya menunjukkan bahwa perkumpulan ini telah berkontribusi pada pembangunan di Republik Indonesia, khususnya Provinsi Sumatera Barat dan Kota Padang.

“Bazar Merah Putih HTT ini adalah juga bentuk kontribusi dan upaya perkumpulan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” tutur anggota DPRD Sumbar itu.

Albert juga menyampaikan harapan komunitas Tiong Hoa yang umumnya mendiami kota tua di Padang, Agar kawasan kota tua atau biasa juga disebut kampung pondok dapat kembali ramai dikunjungi seperti halnya sebelum dilanda musibah gempa bumi pada tahun 2009 lalu. 

“Hari lahir Kota Padang berawal dari perlawanan masyarakat terhadap kolonial Belanda. Dimana perlawanan itu terjadi? ya disini, di kota tua ini saksi sejarahnya, ketika masyarakat membakar gudang-gudang atau loji-loji milik Belanda,” katanya. (*)

Exit mobile version