Potret Bidan di Pelosok Mentawai, Tangani Pasien Gawat Darurat Berbekal Lampu Senter

LAPORAN : REDI HARIANTO

Pasien yang akan dirujuk ke Puskesmas menggunakan perahu Pompong ditemani tenaga medis dan Sikerei di Pelosok Mentawai beberapa waktu lalu. Kondisi ini umum ditemukan di Bumi Sikerei karena keterbatasan akses transportasi, listrik, dan komunikasi di sana. Kondisi ini perlu menjadi perhatian pemerintah daerah menjelang HUT IBI ke-72. REDI HARIANTO

Nurhidayah Saluluni, perempuan 30 tahun ini merupakan salah satu tenaga kesehatan Bidan dari hanya beberapa tenaga kesehatan yang mau mengabdi di pelosok Bumi Sikerei, Kabupaten Kepulauan Mentawai.  Ia berjuang dan tetap bertahan memberikan pelayanan kesehatan dengan berbagai keterbatasan sarana pendukung seperti komunikasi, listrik, dan transportasi.

Nurhidayah tahu betul tantangan menjadi Tenaga Kesehatan (Nakes) di daerah pelosok Mentawai yang memanglah tidak gampang. Butuh nyali dan tekad yang kuat untuk bisa bertahan di sini (Mentawai, red). Kalau pun ditawarkan, pasti akan banyak berpikir dua kali bahkan langsung menolaknya.

Bagi Nurhidayah, ada alasan tersendiri untuk tetap bertahan dan mengabdi di Mentawai. Banyaknya hambatan dan tantangan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat kadang ironi dengan kesulitannya sendiri memenuhi kebutuhan hariannya.

Dikatakan Nurhidayah, listrik menjadi aspek yang sangat penting untuk kebutuhan masyarakat secara umum, baik untuk penerangan pada malam hari maupun sebagai sumber energi untuk kebutuhan elektronik rumah tangga, namun di Poskesdes Dusun Gulu-guluk, Desa Saliguma, Kecamatan Siberut Tengah, tempat Nurhidayah bertugas belum terjangkau jaringan listrik PLN dan sama sekali tidak memiliki fasilitas umum listrik.

“Kondisi ini yang selalu kami rasakan. Kalau dibilang jadi hambatan pelayanan tentu, iya. Kami membutuhkan listrik di saat ada pasien yang datangnya malam hari. Bahkan ada pasien darurat yang tidak mungkin kita tolak dengan alasan tidak ada lampu listrik,” ungkapnya kepada Haluan, Selasa (20/06).

Ia menyebutkan, untuk penerangan pihaknya menggunakan lampu batrai atau aki. Pada siang hari aki tersebut diantarkan ke rumah warga yang memiliki madul atau panel surya untuk mengisi daya batrai. Setelah penuh baru dijemput lagi. Namun, yang namanya lampu btrai tidak bisa bertahan lama.

“Pernah ada pasien gawat darurat malam hari, karena lampu dari aki ini sudah lama hidup tentu redup, terpaksa kami menggunakan senter untuk penanganan pasien gawat darurat. Kami berharap kalau bisa listrik segera masuk, karena ini penting sekali,” tukasnya.

Tak hanya terkendala listrik, akses transportasi di daerah tersebut juga menjadi kendala utama dalam memberikan pelayanan kesehatan yang prima kepada masyarakat. Misalnya, dalam melakukan tindakan rujukan pasien ke Puskesmas atau rumah sakit itu terhalang karena jalan yang buruk. “Jalan memang ada tetapi hanya bisa dilalui kendaraan bermotor. Karena hanya jalan setapak, mustahil untuk bisa membawa pasien sakit, kita saja yang sehat sulit melewati medan yang turun naik gunung dan berlubang-lubang,” paparnya.

Satu-satunya solusi untuk membawa pasien yaitu menggunakan pompong atau long boat menggunakan mesin long tail menyusuri sungai dan menyisir pantai untuk bisa sampai ke Puskesmas Siberut Tengah atau ke Puskesmas Muara Siberut.

Kalau merujuk pasien menggunakan pompong kata Nurhidayah, dirinya terpaksa ikut mendampingi naik ke perahu tradisional tersebut. Tentu saja dirinya merasa awas atas keselamatannya, karena di tempat ia bertugas tidak ada petugas lainnya kecuali hanya dia seorang diri saja dan melayani sekira 50 Kepala Keluarga (KK) di dusun tersebut.

“Saya masuk di Dusun Gulu-guluk ini sejak Maret 2022. Sebelumnya saya bertugas di Dusun Tinambu masih di Kecamatan yang sama selama 5 tahun dan kondisinya jauh lebih buruk daripada di sini (Mentawai, red) karena sangat terpencil, “ ungkap ibu dua anak itu.

Kendati demikian dirinya selaku Tenaga Kontrak Kesehatan Daerah selalu bersyukur dan itu sudah menjadi pilihannya untuk menjadi pelayan kesehatan. Namu, ia berharap infrastruktur penunjang pelayanan kesehatan di Mentawai bisa memadai, sehingga pelayanan kesehatan bisa berjalan dengan lancar.

“Banyak perlu dibenahi mulai akses transportasi, listrik dan jaringan telekomunikasi. Untuk nelpon saja, kita harus naik gunung baru dapat sinyal. Sinyal ini perlu, sebab kita harus berkonsultasi dengan dokter jika ada kasus yang memerlukan dokter,” tuturnya. (*)

Exit mobile version