PADANG, HARIANHALUAN.ID – Persoalan seni pertunjukan di Sumatera Barat (Sumbar) dalam ranah ekosistemnya masih disimpulkan sebagai sesuatu yang kusut tak terselesaikan. Beberapa pengamat seni dan akademisi masih menyepakati anggapan tersebut.
Hal itu diulas pada Seminar Seni Pertunjukan yang diselenggarakan Nan Jombang Dance Company bekerja sama dengan Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Padang (UNP) di Auditorium lantai empat FBS UNP, Rabu (14/5).
Praktisi seni dan dosen FBS UNP, Prof. Indrayuda, memaparkan materinya tentang seni pertunjukan. Ia menilai seni pertunjukan kini telah bertranformasi menjadi fungsi yang membentuk adanya stratifikasi sosial. Artinya fungsi itu menunjukkan elite modern terhadap seni pertunjukan.
“Misalnya penyambutan tari galombang pada acara pernikahan yang juga digelar di gedung, ini justru seperti melihatkan fungsi elite bagi kalangan menengah ke atas. Kalau kontemporer, hanya menjadi tontonan bagi akademisi dan intelektual saja,” katanya.
Namun, begitulah adanya seni pertunjukan hari ini. Menurut Indrayuda, tuntutan komersil dan zaman memaksa seni pertunjukan tradisi berjalan seperti itu. Dari fenomena inilah seni pertunjukan memang harus digodokkan bersama.
Dr. Roza Muliati, seorang dosen di ISI Padangpanjang, menyambung bahwa Minangkabau dulunya sudah berada dalam tatanan orang-orang moderat. Sehingga Roza menyampaikan materinya mengenai perempuan dan dehegemoni kaum elite dalam perkembangan tari di Sumbar.
“Tari Melayu itu representasi kesenian di Minangkabau dan sebagai kesenian kaum elite modern. Lalu setelahnya muncul dehegemoni oleh Hoerijah Adam dan Gusmiati Suid yang menjadikan silek sebagai identitas tari di Minangkabau. Dan itu yang kita amini sampai kini dari fase historis itu,” ujarnya.
Roza menyimpulkan, perspektif hegemoni tari di Minangkabau dalam perjalanannya seperti pertarungan pengaruh dan ideologi. Dari kejayaan Tari Melayu oleh kaum elite di masa itu, setelahnya dihimpit oleh Hoerijah Adam dan Gusmiati Suid yang ingin menjadikan silek sebagai akar untuk mengorientasikan tari di Minangkabau.
Begitu juga Armeynd Sufhasril. Praktisi teater itu sebaliknya melihat perubahan sosial dari berbagai seni pertunjukan. Termasuk karya Ery Mefri sendiri yang diamatinya sebagai keresahan akan pergeseran nilai akan seni dan budaya yang semakin memburuk.
“Beberapa karya Ery seperti merunut perubahan-perubahan sosial yang sedang terjadi yang mengarah kepada perubahan yang buruk. Dan kebanyakan karya seni pertunjukan di Sumbar menghadirkan itu sebagai repertoarnya,” kata Armeynd. (*)