Catatan : Hasril Chaniago
PENGANTAR REDAKSI—Wartawan senior HarianHaluan, Hasril Chaniago selama sepekan (18-24 Juni 2025) melawat ke Yunnan, provinsi di bagian barat Tiongkok, menyertai delegasi 18 orang dari Sumatera Barat, memenuhi undangan pemerintah daerah setempat. Setelah mengikuti kegiatan resmi selama tiga hari, rombongan khusus 13 orang yang disertainya melanjutkan kunjungan empat hari lagi ke berbagai tempat penting di provinsi tersebut, menempuh perjalanan darat sejauh lk. 2.500 km. Berikut ini diturunkan laporan perjalanannya secara berseri, di samping laporan yang bersifat khas di edisi Haluan Minggu. Selamat membaca.
Ketika pesawat Air Asia AK 101 yang kami tumpangi mencecahkan roda pendaratnya di Bandara Internasional Changsui Kunming (KMG), Yunnan, jarum jam menunjukkan pukul 19.18 waktu setempat. Zona waktu Yunnan sama dengan Kuala Lumpur, satu jam lebih dulu dari WIB. Meskipun sudah hampir pukul setengah delapan malam, tetapi di luar cuaca masih terang. Sebagai kota yang terletak di belahan bumi utara (25 derajat Lintang Utara), pada musim panas di Kunming dan Yunnan umumnya, siang hari memang lebih panjang. Setelah saya periksa melalui aplikasi “Muslim Pro”, pada hari itu, Rabu 18 Juni 2025, waktu salat Maghrib di Kunming baru tiba pukul 20.09 waktu setempat, sedangkan salat Isya pukul 21.25 atau hampir jam setengah sepuluh malam.
Ini adalah perjalanan bersejarah dengan delegasi yang susunannya cukup unik: pejabat pemerintah daerah, anggota DPD RI dan tokoh-tokoh masyarakat Sumatera Barat, pengusaha serta penulis dan wartawan. Kami berangkat dari Padang dan Jakarta pada pagi hari yang sama dalam dua rombongan untuk memenuhi undangan dari Pemerintah Provinsi Rakyat Yunnan, Tiongkok. Rombongan pertama dari Padang terdiri dari Gubernur Mahyeldi bersama istri Harneli Bahar didampingi Sekda Provinsi Arry Yuswandi, Kepala Biro Pemerintahan Ezeddin Zain, dan Adc Gubernur Nosa Ekananda, berangkat dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Padang Pariaman. Rombongan kedua merupakan unsur tokoh masyarakat dan Senator DPD RI, terdiri dari Irman Gusman dan istri Liestyana Rizal, Gamawan Fauzi dan istri Vita Nova Gamawan, Haneco Widjaja Lauwensi, Shofwan Karim (kelimanya berangkat dari Bandara Soeta), serta Musliar Kasim, Puti Reno Raudha Thaib, Hasril Chaniago dan istri Nelfida, Kahar The, Rukiat Tasib, dan Rahmat Irfan Denas (bertolak dari BIM). Kedua rombongan menumpang maskapai Air Asia dengan transit dan penerbangan lanjutan dengan maskapai yang sama dari Bandara Internasional Kuala Lumpur 2 (KLIA2). Penerbangan dari KLIA2 ke KMG memakan waktu sekitar empat jam.
Ikut serta dalam delegasi yang melawat ke tanah kelahiran Laksamana Cheng Ho serta negeri yang terkenal dengan cerita silat klasik China Pendekar-Pendekar dari Negeri Tayli karya Jin Yong ini, mengingatkan saya pengalaman lebih 30 tahun silam. Ketika itu, 1994, saya juga diajak ikut delegasi besar Sumatera Barat ke Negeri Johor, Malaysia. Rombongan muhibah ekonomi yang dikirim Gubernur Hasan Basri Durin itu terdiri atas para pejabat pemerintah daerah dipimpin Asisten II (Ekonomi dan Pembangunan) Drs. Alimin Sinapa, kalangan dunia dunia yang dikoordinasikan Kadinda Daerah yang dikomandoi H. Basril Djabar, serta para akademisi dari Fakultas Ekonomi Unand seperti Prof. Khaidir Anwar, M.B.A. (Alm). Saya satu-satunya wartawan dalam rombongan sekitar 30 orang ini. Irman Gusman yang waktu itu masih pengusaha muda juga ikut bergabung dan bertolak dari Jakarta.
Hasil kunjungan ke Malaysia ini kemudian menghasilkan dampak cukup besar bagi pembangunan dan perekonomian Sumatera Barat. Selain mendorong lahir dan berkembangnya penerbangan langsung Padang–Kuala Lumpur hingga kini, muhibah ini juga berhasil mendorong masuknya Sumatera Barat dalam bagian kerja sama segita tiga pertumbuhan (growth triangle) ASEAN, yakni IMS-GT (Indonesia-Malaysia-Singapura Growth Tiangle) dan IMT-GT (Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle). Berkat kedua kerja sama ekonomi ini, kebijakan pembangunan Outward Looking (Menoleh Keluar) yang dicanangkan Gubernur Hasan Basri Durin di periode kedua masa jabatannya menjadi bermakna dan berhasil guna. Pengusaha dan warga Sumatera Barat memperoleh berbagai fasilitas dan kemudahan dari pemerintah pusat terbukanya hubungan langsung dengan Malaysia dan Singapura. Di antaranya yang terpenting waktu itu adalah pemberian fasilitas bebas fiskal (pajak ke luar negeri) bagi pemegang KTP dan paspor dari Imigrasi Sumbar yang hendak bepergian ke Malaysia, Singapura, maupun Thailand. Padahal, waktu itu biaya fiskal ke luar negeri untuk bepergian dengan pesawat udara sangat mahal, yakni Rp2,5 juta per orang untuk sekali perjalanan, di saat kurs saat itu adalah sekitar Rp2.000/dolar Amerika.
Dengan adanya fasilitas bebas fiskal tersebut, hubungan langsung dengan Malaysia dan Singapura menjadi bergairah. Sejak itu, banyaklah warga Sumatera Barat, terutama dari sentra-sentra kerajinan tenun, bordir dan sulaman seperti dari Lima Puluh Kota, Agam, dan Padang Pariaman yang berdagang langsung ke Malaysia. Selain berdagang ulang-alik, banyak pula yang membuka toko di Negeri Jiran itu. Usaha mereka bertahan dan berkembang hingga kini. Sementara penerbangan langsung Padang–Kuala Lumpur juga terus berkembang dengan frekuensi tahun 2025 ini mencapai 10–12 penerbangan (datang dan berangkat) sehari, dengan tingkat keterisian seat di atas 60 persen.
Hasil berikutnya kunjungan muhibah ke Johor tersebut adalah terjadinya hubungan langsung bisnis dan investasi antara Sumatera Barat dengan Malaysia. Di antaranya yang masih langgeng sampai kini adalah kerja sama Johor Coporation dengan Perumda Sumatera Barat serta pihak swasta, mendirikan Kawasan Industri Padang (PIP—Padang Industrial Park). Sebelumnya ada joint venture RS Selasih (berlokadi di TransMart sekarang), dan beberapa kerja sama langsung pendirian dan pengelolaan usaha bersama antara pengusaha Malaysia dengan pebisnis Sumatera Barat. Tak kalah pentingnya adalah meningkatnya aktivitas kunjungan wisata di antara kedua negara.