Menyambut Jemputan Dunsanak dari Utara
Keberangkatan rombongan dari Sumatera Barat (termasuk yang bertolak dari Jakarta) ke Provinsi Yunnan bukanlah kegiatan yang tiba-tiba. Setidaknya, rencana dan komunikasinya sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Bahkan, seperti dikatakan Haneco Widjaja Lauwensi, pengusaha perkapalan yang juga pemilik Hotel Mercure dan Hotel Ibis Padang, hal ini sudah diancar-ancar sejak kedatangan utusan Suku Mosuo dari Yunnan yang hadir pada Festival Bundo Kanduang di Unand tahun 2014. Hal ini diakui oleh Ketua Umum Perkumpulan Bundo Kanduang, Prof. Dr. Ir. Hj. Puti Reno Raudha Thaib.
“Kehadiran utusan Suku Mosuo dalam Festival Bundo Kanduang tersebut telah membuka mata kami, khususnya Perkumpulan Bundo Kanduang, bahwa ternyata di Tiongkok sana juga ada satu suku bangsa atau etnis yang hidup dalam sistem kekerabatan matrilineal seperti kita di Minangkabau,” kata Prof. Raudha Thaib.
“Karena itulah, saya sangat antusias ketika diajak Pak Haneco untuk ikut dalam kunjungan ke Yunnan kali ini. Wah, saya pikir, dari kunjungan ini bisa lahir banyak tulisan bahkan bisa menjadi sebuah buku,” sambungnya. Menurut Prof. Raudha, Haneco adalah salah satu pendorong Festival Bundo Kanduang tersebut dan yang ikut mensponsori kedatangan utusan Suku Mosuo dari Yunnan.
Sementara dari sisi pemerintah daerah, ini juga bukan kunjungan biasa, karena diharapkan akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kemajuan Sumatera Barat maupun bagi kerja sama di bidang ekonomi, pariwisata maupun pendidikan dan kebudayaan. Menurut Kepala Bagian Kerja Sama Biro Pemerintahan Sumbar, M. Zaki Fahminanda, rencana kunjungan ke Yunan ini sudah dicetuskan oleh Gubernur Mahyeldi sekitar dua tahun silam. Waktu itu, cerita Zaki, dalam pertemuan Gubernur dengan Direktur Utama In-Journey Doni Oskaria (kini Wamen BUMN dan COO Dinantara), disarankan Gubernur untuk menjajaki hubungan dengan Yunnan, provinsi di Barat Daya Republik Rakyat China.
Alasannya, waktu itu Sumbar dengan dukungan In-Journey sedang berusaha membuka kembali penerbangan langsung Padang–Singapura oleh maskapai Scoot. “Karena Scoot juga mempunyai rute pernebangan langsung Singapura–Kunming, ibu kota Yunnan, Pak Doni menyarankan dijajaki juga peluang kerja sama provinsi bersaudara Sumbar–Yunnan. Maksudnya, Yunnan bisa dijadikan salah satu tempat mempromosikan pariwisata Sumatera Barat,” kata Zaki.
Pucuk dicinta ulam tiba. Tak lama antaranya, datang “salam” dari Pemerintah Provinsi Rakyat Yunnan sendiri. Melalui Konsulat Jenderal China di Medan, terbuka komunikasi antara pemerintah Provinsi Yunnan dengan Pemprov Sumatera Barat untuk penjajakan kemungkinan kerja sama provinsi bersaudara (sister province) tersebut. Pembicaraan makin mengarah ketika Konsul Jenderal China di Medan, Zhang Min, datang ke Padang dalam rangka Seminar “Menelusuri Jejak Yu Dafu di Sumatera Barat” pada September 2024. Yu Dafu adalah sastrawan besar China yang dibunuh Jepang di Payakumbuh tahun 1945. Selain menghadiri seminar, Konjen Zhang Min juga melakukan audiensi dengan Gubernur Mahyeldi. Tokoh di balik layar dari komunikasi intensif dengan Yunnan dan Konjen Medan ini tak lain adalah juga Haneco Widjaja Lauwensi sendiri bersama dua aktivis sosial masyarakat Tionghoa Padang, yakni Kahar The (HBT) dan Rikiat Tasib (HTT).