PUISI – Andreas Mazland: Patahan Surga dll

“Stairway to heaven” by Monica Shemel
This is the newest acrylic painting. Picture shows stairs to heaven with a couple of lovers on them. Acrylic on canvas 50×60 cm. Edges painted.

Patahan Surga

bunga-bunga memang tumbuh mekar di rosario
tapi nahkoda mana yang tahan kena goda
aroma rempah yang menjalar dari aliran sungai barus
menuju samudera barat daya sumatera

emas dan intan benar tak terkira di manhattan
tapi ranum pala dari pulau run dan banda neira
yang berhambus halus di bujur khatulistiwa
tentu lebih kuat pikatnya

jauh sebelum navigator nubian menguak lautan
para tualang bugis telah lebih dahulu
bertengkar hebat melawan badai di samudera
tempat bersarangnya segala ketakutan

inilah negeri yang terbentuk dari patahan surga
bukankah sebab itu pula orang barat membelah
dunia menjadi dua, agar dapat mereka pijaki
dan khayalkan bagaimana rasanya tinggal di surga

 

 

Sepasang Kata

Jean- Jacques Rosseau;

kita adalah sepasang kata yang bertemu di antara
dua kurung pada paragraf ketiga dalam sebuah
hikayat yang panjangnya melebihi
kekang kuda genewa

dalam kurung itu, kita selalu bergandengan tangan
sepanjang zaman, meski masehi berulang kali
terlipat dan terjungkang

sejak kita bersua di paragraf ketiga pada
1762, sejak itu pula kita disajaki dan
dijadikan mantra

kata orang, kurung yang mengebat kita
adalah penggalan yang membebaskan dunia
dari segala bentuk bala dan tuba

 

 

Kenang-kenanglah Sayang

kauingat sayangku,  jalan dari pekanbaru
menuju mandau yang kita lewati tempo lalu
saat berbulan madu, ternyata dibangun
oleh nenek moyangku dari kumpulan mantra
yang tak dilengkapi syarat-syaratnya

itulah alasannya mengapa setiap kali kita
melewati jalan ini, kau selalu kupaksa untuk
mengaitkan tanganmu dengan erat ke pinggangku

kautau kasihku, sanding dan bibir
jalan ini dibangun di atas tinggam
yang dihilangkan beberapa kalimatnya
oleh penghulu kaumku

itulah sebabnya jalan ini dipenuhi lobang
sebagaimana yang kita dapati tempo lalu:
jalanan yang membuat kau dan aku lelah
setengah mati, meskipun belum berbulan madu

 

 

Gadih Pariaman

                     Pada Lesly Fatmayanti;

dalam sajak-sajak yang kaubaca, kafka
terbawa rendong ke tepi jurang neraka;
tempat di mana kata-kata yang hampir
terucap dihukum pancung

pada langgam yang kauucap, tagore
tersesat sendirian di rimba bunian;
ruang di mana ketakutan dan kecemasan
bertumpuk dan tumbuh

dalam dendang yang kausiulkan
dazai tergelantung di dahan bekas kera
kawin tak henti-henti sepanjang malam

pada tinggam yang kaunyanyikan
aku terkebat dalam buhul-buhul mantra
dan terguna-guna di bait rimanya
tanpa bisa apa-apa

 

Andreas Mazland; lahir Juni 1997. Menulis essai, cerpen, dan puisi. Unggulan II Payakumbuh Poetry Festival serta nominator terpilih Lomba Puisi Teuku Umar Meulaboh. Bergiat di Lapakbaca Pojok Harapan, sebuah komunitas sastra di Kota Padang. Bermukim di Pauh, Kota Padang.

Exit mobile version