Menilik Kolektivitas “Catatan si Padang”

LAPORAN: Juli Ishaq Putra

FOTO: Tio Furqan

Dahaga akan pertunjukan seni luar jaringan (luring) terbayar lunas lewat tiga hari pementasan Catatan si Padang, yang disajikan oleh Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) di Gedung Abdullah Kamil, Genta Budaya Padang, 23 hingga 25 Oktober 2021 lalu.

Hasil pembacaan sang sutradara, Mahatma Muhammad, terhadap naskah berjudul sama yang ditulis aktor senior Muhammad Ibrahim Ilyas—yang turut tampil sebagai aktor dalam pertunjukan ini—disajikan lewat karya seni panggung yang komplit, kompleks, menghibur, dan sarat pengetahuan serta pengajaran.

Pertunjukan diawali dengan munculnya seorang anak perempuan yang tengah menelusuri kawasan Kota Tua Padang. Adegan dengan kualitas sinematografi yang apik ini ditampilkan pada layar proyektor super besar, yang terbentang di hadapan penonton yang menyesaki Gedung Abdullah Kamil, Genta Budaya Padang.

Adegan kemudian sampai pada momen di mana si anak tak sengaja masuk ke gedung cagar budaya Geo Wehry & Co. Kemudian, adegan berlanjut dengan kemunculan si anak secara fisik di hadapan penonton, di tengah panggung pertunjukan. Mulai dari momen ini, si anak dituntun oleh sosok perempuan tua yang disebut sebagai “si Padang”, untuk menyaksikan berbagai penggalan peristiwa tentang Kota Padang.

Karya ini merupakan bagian dari kampanye Festival dan Muhibah Budaya Jalur Rempah, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Ristek, dan akan disiarkan pada kanal indonesiana.tv. Sehingga wajar, jika fragmen-fragmen yang disaksikan oleh penonton pertunjukan ini bertitik isu pada sejarah Kota Padang sebagai salah satu bandar perdagangan rempah-rempah ternama sejak abad ke-15.

Mulai dari kisah Nilonali, penghancuran loji VOC pada 1669, pemenggalan si Patai, penolakan atas penguasaan Belanda terhadap hasil rempah, penjajahan Jepang, perjuangan Bagindo Aziz Chan, nasib pejuang veteran di masa kini, hingga bentukan Kota Tua sebagai etalase keberagaman di Kota Padang.

Ragam kisah di atas, tersaji dalam bentuk potongan per potongan, dengan pertunjukan tari serta musik yang hadir sebagai pemisah fragmen yang sangat memikat. Sehingga, makin mempertegas bahwa Kota Padang sebagai pusat bagi orang-orang beraktivitas, yang telah menerima berkah kekayaan seni-budaya dari berbagai etnik yang pernah singgah hingga menetap di kota ini. Sebut saja, Minangkabau, India, Latin, Jawa, Tionghoa, Nias, Melayu, Eropa, Arab, dan lain sebagainya.

Catatan terpenting dari pertunjukan ini yang membuatnya layak mendapat apresiasi tinggi, adalah keterlibatan puluhan seniman dari lintas generasi dan lintas konsentrasi berkesenian. Pembauran seniman senior seperti Muhammad Ibrahim Ilyas dan Zamzami Ilyas dengan para seniman muda di atas panggung pertunjukan yang sama, dapat dianggap sebagai wujud tersambungnya napas berkesenian di Sumatra Barat, dari satu generasi ke generasi seterusnya dan seterusnya.

Kerja kolektif produser, penulis naskah, sutradara, pemeran, koreografer, komposer, sutradara video, pengkarya instalasi, penata panggung, penata cahaya, pemeran, penari, pemusik, operator cahaya, penata kostum, pendokumentasi, kru panggung, kru tata suara, kerumahtanggaan, hingga pemberi catatan atas pertunjukan ini, membuat pementasan Catatan si Padang sangat layak untuk kembali digelar. (*)

*JULI ISHAQ PUTRA. Lahir di Kota Solok, Juli 1989. Bekerja sebagai wartawan di Harian Haluan dan saat ini menjabat Wakil Pemimpin Redaksi. Alumni Ponpes MTI Canduang dan Pascasarjana Sosiologi Universitas Andalas.

*TIO FURQAN. Bekerja sebagai pewarta foto di Harian Haluan. Alumni Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Negeri Padang.

Exit mobile version