NASIONAL

Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 29 Juli 2026

×

Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 29 Juli 2026

Sebarkan artikel ini
BPBD Kabupaten Sumedang bersama Pemadan Kebakaran dan aparat terkait melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Desa Cinanjung, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, pada Senin (28/07). Sumber : Pusdalops BPBD Kabupaten Sumedang

JAKARTA, HARIANHALUAN.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia pada periode Selasa (28/7) pukul 07.00 WIB hingga Rabu (29/7) pukul 07.00 WIB. Berdasarkan data yang dihimpun, kekeringan masih mendominasi kejadian bencana di berbagai wilayah seiring berlangsungnya musim kemarau. Di sisi lain, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian nasional, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.

Kejadian baru pertama adalah kekeringan di Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat, yang terjadi pada Selasa (28/7). Bencana ini berdampak pada 175 kepala keluarga atau 520 jiwa. Wilayah terdampak berada di Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar. BPBD setempat telah mendistribusikan bantuan air bersih sebanyak 4.000 liter atau dua ritase guna memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.

Masih di Provinsi Jawa Barat, karhutla di Kabupaten Sumedang yang terjadi pada Selasa (28/7) menghanguskan sekitar 3 hektare lahan. Lokasi kebakaran berada di Desa Cinanjung, Kecamatan Tanjungsari. Berkat penanganan cepat oleh tim gabungan, api berhasil dipadamkan sehingga tidak meluas ke area sekitar.

Di Provinsi Jawa Tengah, kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Sragen yang terjadi pada Selasa (28/7) menghanguskan sekitar 3 hektare lahan tebu siap panen. Lokasi kejadian berada di Desa Saren, Kecamatan Kalijambe. Api berhasil dipadamkan dan kondisi lokasi telah dinyatakan aman.

Selain kejadian baru, BNPB terus memantau perkembangan bencana kekeringan di berbagai daerah.

Di Provinsi Jawa Barat, kekeringan di Kabupaten Bogor yang terjadi sejak Selasa (1/7) kini berdampak pada 21.504 kepala keluarga atau 69.889 jiwa. BPBD Kabupaten Bogor kembali menambah distribusi air bersih sebanyak 30.000 liter atau enam ritase, di antaranya disalurkan kepada warga Kampung Cipambuan RT 02/RW 04, Desa Cipambuan, Kecamatan Babakan Madang.

Di Provinsi Jawa Tengah, kekeringan di Kabupaten Banjarnegara yang terjadi sejak Minggu (22/6) telah berdampak pada 3.805 kepala keluarga atau 11.920 jiwa. Hingga Selasa (28/7), BPBD telah mendistribusikan 120.000 liter air bersih menggunakan 20 mobil tangki dan 16 trip kendaraan bak terbuka.

Kekeringan di Kabupaten Grobogan yang terjadi sejak Kamis (1/5) juga masih berlangsung dan berdampak pada 1.434 kepala keluarga. BPBD Kabupaten Grobogan menyalurkan 30.000 liter air bersih menggunakan dua unit mobil tangki. Berdasarkan hasil asesmen di lapangan, debit sumber air yang dimanfaatkan masyarakat terus mengalami penurunan sehingga distribusi bantuan air bersih masih terus dilakukan.

Baca Juga  PT Semen Padang Peduli Salurkan 16.000 Liter Air Bersih untuk Korban Bencana di Durian Tarung

Di Kabupaten Demak, kekeringan yang terjadi sejak Minggu (1/06) berdampak pada 850 kepala keluarga atau 2.490 jiwa. Distribusi bantuan air bersih sebanyak 25.000 liter dilakukan kepada masyarakat di Desa Undaan Kidul, Kecamatan Karanganyar.

Sementara itu, kekeringan di Kabupaten Banyumas yang terjadi sejak awal Juli 2026 kini berdampak pada 5.512 kepala keluarga atau 17.692 jiwa. Distribusi bantuan air bersih masih terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak.

Di Kabupaten Pemalang, kekeringan yang terjadi sejak Minggu (1/6) berdampak pada 6.109 kepala keluarga. Hingga saat ini, bantuan air bersih telah menjangkau 1.095 kepala keluarga melalui BPBD, 420 kepala keluarga melalui PMI, 487 kepala keluarga melalui Baznas, serta 40 kepala keluarga melalui Sabawana.

Sedangkan di Kabupaten Pekalongan, kekeringan yang terjadi sejak Juli 2026 berdampak pada 259 kepala keluarga atau 458 jiwa. BPBD Kabupaten Pekalongan kembali mendistribusikan 8.000 liter air bersih, sehingga total bantuan yang telah disalurkan mencapai 100.000 liter atau 25 tangki.

Sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau dan potensi El Nino, BNPB bersama pemerintah daerah terus memperkuat upaya mitigasi melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah prioritas, pembangunan sumur bor, pipanisasi, serta dukungan distribusi air bersih bagi masyarakat terdampak guna menjaga ketersediaan air bersih dan mendukung kebutuhan pertanian.

Sementara itu, perkembangan pemantauan dan penanganan karhutla juga masih menjadi perhatian nasional.

Di Provinsi Riau, total luas lahan terbakar hingga Senin (28/7) mencapai 15.372,88 hektare. Penambahan luasan kebakaran terjadi di Desa Rawa Sekip, Kecamatan Kuala Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu seluas sekitar 0,5 hektare. Penanganan dilakukan melalui operasi darat dan operasi udara oleh BNPB bersama pemerintah daerah.

Di Provinsi Sumatera Selatan, luas lahan terbakar sejak awal tahun mencapai 664,87 hektare yang tersebar di 12 kabupaten, dengan total 520 kejadian karhutla hingga 28 Juli 2026. Operasi udara BNPB masih terus dilaksanakan untuk mendukung pemadaman dan mencegah meluasnya kebakaran.

Di Provinsi Jambi, luas lahan terbakar hingga Selasa (28/7) mencapai 213,05 hektare yang tersebar di 9 kabupaten dan 2 kota. Tim Operasi Udara BNPB terus mendukung upaya penanganan bersama pemerintah daerah.

Baca Juga  Tambang Galian C Gunung Kuda Cirebon Longsor: Tim SAR Gabungan Kembali Menemukan 3 Jenazah, Total Korban Meninggal 13 Jiwa

Di Provinsi Kalimantan Barat, total luas lahan terbakar hingga 25 Juli 2026 mencapai 28.680,47 hektare berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan. Operasi udara dan pemadaman darat masih terus dilakukan untuk menekan potensi perluasan kebakaran.

Di Provinsi Kalimantan Tengah, total luas lahan terbakar hingga Minggu (26/7) mencapai 1.268,33 hektare, bertambah sekitar 83,89 hektare dibandingkan sebelumnya. BNPB bersama pemerintah daerah terus memperkuat operasi udara untuk mempercepat penanganan di wilayah terdampak.

Sementara itu, di Provinsi Kalimantan Selatan, total luas lahan terbakar berdasarkan data BPBD Provinsi Kalimantan Selatan mencapai 1.029,75 hektare. Pemerintah provinsi masih memberlakukan status siaga darurat hingga 31 Oktober 2026, sementara operasi udara dan darat terus dilaksanakan.

Di Provinsi Aceh, kebakaran lahan di Kabupaten Aceh Barat masih dalam proses pemadaman dan penyekatan. Hingga Selasa (28/7), total luas lahan terbakar mencapai 13 hektare dan beberapa titik asap masih terpantau sehingga proses pendinginan terus dilakukan.

Sementara itu, di Provinsi Jawa Timur, karhutla di Kabupaten Probolinggo yang terjadi sebelumnya telah berhasil dikendalikan. Meski titik api tidak lagi terpantau, petugas tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya kebakaran susulan.

Selain itu, BNPB juga terus mendukung penanganan kebakaran permukiman di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, yang terjadi sejak Jumat (24/7). Kejadian ini berdampak pada 52 kepala keluarga atau 160 jiwa. Status tanggap darurat masih berlaku hingga 31 Juli 2026. Bantuan dari berbagai instansi pemerintah, dunia usaha, dan relawan terus berdatangan, sementara tim gabungan melakukan kaji cepat serta pemenuhan kebutuhan dasar bagi warga terdampak.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau. Upaya pencegahan karhutla perlu diperkuat dengan tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar, meningkatkan patroli di wilayah rawan, serta memastikan ketersediaan sumber air yang dapat diakses untuk penanganan dini.Di samping itu, masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak dalam menghadapi ancaman kekeringan.

Mengantisipasi potensi ancaman bahaya, masyarakat dapat mengikuti informasi resmi dari BMKG, BPBD, dan instansi terkait, serta segera melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran maupun kondisi darurat lainnya agar dapat segera ditangani. Kesiapsiagaan dan respons cepat seluruh unsur menjadi kunci dalam meminimalkan risiko serta dampak bencana.