HARIANHALUAN.ID – Produktivitas pekebun sawit swadaya masih menjadi isu strategis dalam bisnis kelapa sawit nasional. Dengan kepemilikan lahan sekitar 40% dari total nasional dan tersebar di 26 provinsi, pekebun swadaya hanya menyumbang 30-35% produksi CPO nasional. Angka ini masih jauh dari ideal.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) melalui program pengembangan SDM kembali menggelar Pelatihan Teknik Pemetaan Lokasi Perkebunan Kelapa Sawit Pelatihan yang berlangsung 28 – 31 Juli 2026 di Riau ini diikuti 79 peserta dari Kabupaten Indragiri Hulu, Kuantan Singingi, dan Rokan Hilir, dan ditunjuk kepada LPP Agro Nusantara sebagai penyelenggara.
Acara pembukaan berlangsung di Grand Elite Hotel Pekanbaru pada 28 Juli 2026, diawali dengan pertunjukan Tarian Sekapur Sirih. Sambutan disampaikan oleh Supriyadi, S.Hut., M.T, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau.
BPDP sebagai lembaga di bawah Kementerian Keuangan bertugas mengelola dana pungutan ekspor untuk mendanai program strategis sawit. Salah satunya adalah pelatihan bagi pekebun swadaya, pengurus KUD, perangkat pendamping daerah, hingga keluarga pekebun melalui mekanisme rekomendasi teknis atau “rekomtek”. Tujuannya agar pelatihan diberikan tepat sasaran.
Selama 4 hari peserta dibekali materi penggunaan GPS, Drone, ArcGIS/QGIS, pemetaan batas dan blok, serta pembuatan peta tematik. Puncaknya, pada 30 Juli 2026 peserta melakukan Field Trip ke PTPN IV Regional 3 Kebun Sei Pagar untuk praktik langsung pemetaan di lapangan.
“Dengan keterampilan pemetaan yang baik, diharapkan tata kelola kebun sawit rakyat bisa lebih tertib, produktivitas meningkat, dan mendukung program ISPO serta PSR,” ujar Pranoto Hadi Raharjo, S.T, M.M Direktur LPP Agro Nusantara.
Di akhir pelatihan seluruh peserta menerima sertifikat. BPDP dan LPP Agro Nusantara berharap lulusan pelatihan ini menjadi agen perubahan untuk mewujudkan perkebunan sawit yang modern dan berdaya saing. (h/yes)






