JAKARTA, HARIANHALUAN.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 42 kejadian bencana dalam periode pemantauan di penghujung Juli, atau sejak Kamis (30/7) pukul 07.00 WIB hingga Jumat (31/7) pukul 07.00 WIB. Dari jumlah tersebut, terdapat 36 kejadian yang berdampak signifikan. Berdasarkan hasil pemantauan, sejumlah kejadian baru didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta bencana kekeringan di beberapa wilayah Indonesia.
Kejadian baru karhutla terjadi di Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Kamis (30/7). Titik api dilaporkan berada di area Kawasan Hutan Lindung Seulawah atau persisnya di daerah Seunapet. Penyebab kebakaran dipicu kondisi cuaca yang panas dan terik membuat lahan mudah terbakar dan api cepat menjalar.
Hasil kaji cepat tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, kebakaran menghanguskan sekitar 20 hektare lahan yang masuk wilayah Desa Suka Damai, Kecamatan Lembah Seulawah dan Desa Data Makmur di Kecamatan Blang Bintang.
Di Desa Suka Damai, proses pemadaman dan pendinginan berhasil diselesaikan petugas pada hari yang sama pada pukul 16.00 WIB. Sementara itu, di Desa Data Makmur, api masih belum sepenuhnya padam sehingga tim gabungan masih bersiaga dan melanjutkan upaya pemadaman di lokasi.
Karhutla juga terjadi di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, Kamis (30/7), dengan luas lahan terdampak sekitar 3 hektare. Titik api diketahui berada di Desa Tampanombo, Kecamatan Ulubongka. Hingga kini petugas masih melakukan pemadaman. Api pada ranting-ranting kecil telah berhasil dipadamkan, namun bara masih tersisa pada batang pohon yang berada di area tebing sehingga proses penanganan terus dilakukan untuk mencegah api kembali meluas.
Di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, kebakaran lahan seluas sekitar 2,81 hektare di Dusun Kurui Desa Wewangriu Kecamatan Malili, berhasil ditangani. Secara kronologi kebakaran terjadi ketika warga melakukan pembakaran pada lahan miliknya dengan tujuan membersihkan semak belukar dan pengusiran hama. Akibat kondisi cuaca yang kering dan tiupan angin, api dengan cepat membesar dan merambat ke bagian lain dari lahan sehingga tidak dapat dikendalikan oleh pemilik. Setelah tim gabungan turun melakukan pemadaman, api telah berhasil ditaklukkan sehingga kondisi di lokasi dinyatakan terkendali.
Sementara itu, kejadian karhutla di Kota Sorong, Papua Barat Daya, yang membakar sekitar 2 hektare lahan juga telah berhasil dipadamkan oleh petugas gabungan.
Kejadian karhutla ini berlangsung pada Kamis (30/7) pukul 15.30 WIT di TPU Covid, Kelurahan Malasilen, Kecamatan Sorong Utara. Kebakaran terjadi diduga akibat tindakan pembakaran oleh orang yang tidak bertanggung jawab ditambah cuaca panas dan angin kencang menyebabkan api cepat membesar sehingga menimbulkan kepanikan warga sekitar. Kebakaran tersebut juga membakar beberapa makam di TPU Covid.
Selain karhutla, BNPB juga mencatat dua kejadian baru bencana kekeringan di Provinsi Gorontalo. Di Kabupaten Gorontalo, kekeringan berdampak pada 1.060 kepala keluarga atau 2.194 jiwa. BPBD Provinsi Gorontalo bersama BPBD Kabupaten Gorontalo saat ini masih melakukan pendataan dan asesmen terhadap warga terdampak sekaligus mengidentifikasi kebutuhan air bersih. Sementara itu, di Kabupaten Bone Bolango, kekeringan berdampak pada 453 kepala keluarga atau 1.192 jiwa. BPBD setempat telah menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 20.000 liter untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla dan kekeringan yang masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Di wilayah yang mengalami kekeringan, masyarakat diimbau menghemat penggunaan air bersih, memanfaatkan sumber air yang tersedia secara bijak, serta mengikuti arahan pemerintah daerah terkait distribusi bantuan air bersih.
Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG untuk dua hari ke depan, 31 Juli hingga 2 Agustus 2026, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada periode musim kemarau dengan potensi cuaca cerah hingga cerah berawan. Meski demikian, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi secara lokal di beberapa wilayah akibat dinamika atmosfer. Kondisi cuaca yang cenderung kering di sejumlah daerah, khususnya Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan sebagian Jawa, tetap meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan serta meluasnya dampak kekeringan.
BNPB mengajak seluruh pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dunia usaha, serta masyarakat untuk memperkuat upaya pencegahan dan kesiapsiagaan melalui patroli terpadu, deteksi dini titik panas, penyediaan sumber air untuk pemadaman, percepatan distribusi air bersih di wilayah terdampak, serta memastikan rencana kontinjensi dan kesiapan personel maupun peralatan agar dampak bencana dapat diminimalkan. (*)












