Membandingkan Minangkabau dengan Bali
Orang Bali memiliki identitas budaya yang kuat, dan mereka bangga dengan warna-warni warisan yang unik dan kaya. Aspek keagamaan dan spiritual masyarakat Bali tak terpengaruh oleh arus modernisasi. Dengan kekuatan jati diri budaya yang terpelihara, mereka bersatu menjaga warisan yang tetap tumbuh dan berkembang, bahkan menjadi penghias globalisasi. Semangat kebersamaan dan solidaritas sosial dalam masyarakat Bali justru semakin terpelihara dan kuat di tengah arus globalisasi dan modernisasi. Keadaan ini membuat pendidikan budaya menjadi penting, dan pada saat yang sama promosi budaya di media massa berdampak sangat positif terhadap pengembangan ekonomi masyarakat terutama melalui sektor pariwisata.
Sementara itu warisan budaya orang Minangkabau di Sumbar, walaupun pada dasarnya tidak kalah kaya dibanding Bali, tetapi masyarakatnya terutama generasi muda mengalami ketergerusan jati diri budaya. Hal ini disebabkan minimnya pengetahuan dan pemahaman budaya para pengambil kebijakan, termasuk para wakil rakyat. Keadaan ini membuat kalangan muda sekarang tidak lagi bangga dengan budayanya. Pengaruh modernisasi, migrasi dan urbanisasi menjadi semakin kuat, sehingga terjadilah perubahan sosial dan ekonomi. Tak lama lagi mungkin akan ada konflik internal terkait dengan nilai-nilai tradisional dan modern. Inilah akibat dari peminggiran pendidikan budaya yang dianggap tidak penting.
Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa kekuatan jati diri budaya orang Bali, serta kelemahan jati diri budaya orang Minangkabau, menunjukkan pentingnya membangun kesadaran pada tataran tokoh dan pemimpin masyarakat terhadap faktor-faktor yang berkaitan dengan pendidikan sejarah, warisan budaya, serta peran dan fungsi bahasa sebagai sumber kecerdasan orang Minangkabau masa lalu. Artinya, sekali lagi, keadaan ini memerlukan penekanan terhadap pentingnya pendidikan budaya terhadap generasi muda.
Kekuatan Minangkabau yang masih tinggal dan mungkin bisa dijadikan celah untuk melakukan manuver mempertahankan jati diri budaya adalah karena masih adanya sisa-sisa peninggalan sejarah yang masih asli. Termasuk kekayaan budaya dan sumber daya alam, serta semangat kewirausahaan yang ada pada masyarakat Minangkabau. Kewirausahaan itu sangat penting, karena upaya mempertahankan dan memperkuat jati diri budaya masyarakat tentu memerlukan pendanaan. Pendanaan tidak harus selalu datangnya dari pemerintah, yang diperlukan adalah dana awal oleh pemerintah dalam usaha membangun kesadaran bersama. Jika kesadaran ini sudah terbangun, masyarakat akan mencari sendiri cara untuk mempertahankannya. Dalam hal ini potensi besar kalangan perantau Minangkabau belum tersentuh. Mereka yang tinggal di negara-negara maju dapat dikatakan punya wawasan kebudayaan jauh lebih baik dibandingkan dengan yang tinggal di ibu kota negara Indonesia.
Zaman kini, sebenarnya bukan tidak ada orang Minangkabau yang cerdas dan pintar, serta berprestasi. Catatan Hasril Chaniago (2018), menunjukkan masih banyak orang-orang Minangkabau yang mampu berkiprah di tingkat nasional maupun internasional. Namun yang saya persoalkan di sini adalah, bahwa kebanyakan jati diri budaya orang Minangkabau hebat zaman sekarang sudah tergerus. Mereka tidak lagi membawa alam Minangkabau itu ke tanah rantau, seperti tokoh-tokoh hebat masa lalu. Artinya kebanyakannya sekarang tidak nampak lagi ciri budaya Minangkabau itu melekat dalam diri mereka, dan itu tergambar dari sikap dan perilaku. Hingga akhirnya mereka hanya jadi orang Indonesia biasa saja, dan kurang ada dampaknya terhadap Minangkabau sebagai sebuah suku kaum.
Contoh sederhana saja, jika bahasa itu menunjukkan bangsa/suku kaum, dapat dikatakan sebagian besar Minangkabau rantau sudah tidak mampu lagi berbahasa Minangkabau. Walaupun mampu, tapi ada yang enggan berbahasa Minangkabau, pada hal itu adalah salah satu simbol jati diri budaya seseorang. Bahkan sebahagian ada yang malu mengaku sebagai orang Minangkabau, lebih suka bergaya Jakarta atau bergaya luar negeri. Tidak sama dengan perilaku budaya tokoh-tokoh Minangkabau hebat zaman dulu yang menjadikan budaya sebagai pakaian kehidupan mereka. Itulah salah satu faktor yang membuat Minangkabau zaman dulu dikenal orang, mereka hebat dan tidak kehilangan jati diri budayanya. Sehingga dulu ada kata-kata bahwa alam Minangkabau itu luas, di mana saja ada orang Minangkabau, di situ ada alam Minangkabau. Artinya generasi hebat dulu bangga menjadi Minangkabau dan itu tercermin dalam perilakunya. Tapi generasi kini kebalikannya, mereka malu sebagai orang Minangkabau.