EkBis

UMKM Binaan Rumah BUMN BRI Bukittinggi: Dapurnya Ami, Usaha Rantangan Rumahan Menembus Pasar Swalayan

×

UMKM Binaan Rumah BUMN BRI Bukittinggi: Dapurnya Ami, Usaha Rantangan Rumahan Menembus Pasar Swalayan

Sebarkan artikel ini
Berlokasi di Perumahan 234 Residen Padang Luar Kota Bukittinggi, Dapurnya Ami memproduksi berbagai frozenfood atau makanan beku sehat tanpa pengawet dan tanpa micin serta aneka bumbu instan. DOK AFRIANITA

BUKITTINGGI, HARIANHALUAN.id— Berawal dari usaha katering rumahan, Dapurnya Ami berhasil menguasai pasar ritel di Sumatra Barat dan Pekanbaru dengan omzet hingga puluhan juta per bulan.

Mardeli Yusna (47), pemilik Dapurnya Ami merupakan salah satu UMKM binaan Rumah BUMN BRI Bukittinggi yang “naik kelas” dari usaha katering rantangan rumahan hingga mampu merambah pasar swalayan.

Berlokasi di Perumahan 234 Residen Padang Luar Kota Bukittinggi, Dapurnya Ami memproduksi berbagai frozenfood atau makanan beku sehat tanpa pengawet dan tanpa micin serta aneka bumbu instan.

Diantaranya ayam kecap, ayam krispi, dendeng balado premium, rendang paru, sambal cumi petai, paru rempah balado, itik balado hijau, dan ayam ungkap serta tahu isi bakso dan bakso homemade.

Lauk beku dan bumbu Dapurnya Ami saat ini sudah tersedia di Budiman Swalayan, ritel terbesar di Sumbar yang jaringannya tersebar di Bukittinggi, Kota Padang bahkan hingga ke daerah tetangga Pekanbaru.

Produk Dapurnya Ami melalui sistem reseller atau keagenan bahkan juga sudah dikirim ratusan bungkus atau pieces per bulan ke berbagai kota di tanah air seperti Pekanbaru, Jambi dan Jakarta.

Mardeli Yusna (47) pemilik Dapur Ami mengatakan mulai merintis usaha membuka katering rantangan di rumahnya pada awal tahun 2020 dengan niat awal untuk menambah pendapatan keluarga.

Saat awal berjualan, Mardeli hanya menjual beberapa menu saja seperti ayam kecap dan sambal cumi yang diantarkan langsung ke pelanggannya.

Ia sama sekali tidak memiliki modal besar, hanya berbekal uang belanja dapur sehari-hari yang kemudian dimanfaatkan untuk membeli kebutuhan menu katering.

“Bisa dikatakan sama sekali tidak ada modal karena seperti minyak goreng juga hanya memanfaatkan minyak yang kita gunakan untuk memasak sehari-hari,” ujarnya kepada Haluan, Jumat (12/6).

Mardeli masih bisa mengingat dengan jelas berapa banyak uang yang didapatnya dari usaha rumahan tersebut pada awal membuka usaha yakni sebesar Rp130 ribu .

“Pada hari pertama memulai usaha hanya laku dua rantang saja, kemudian pada hari kedua terjual ayam kecap dan sambal cumi sekitar 4 rantang, dapat uang Rp260 ribu,” ceritanya.

Baru saja memulai usaha, badai Covid-19 datang dan berimbas terhadap usahanya karena berbagai pembatasan sosial membuat pesanan kateringnya juga menurun.

Baca Juga  Pelindo Regional 2 Teluk Bayur Sampaikan Capaian Kinerja

Pada tahun 2021 ia pun mulai berpikir untuk beralih usaha membuat makanan beku setengah jadi yang praktis, hanya dipanaskan kemudian sudah bisa disantap.

Ia pun segera mewujudkan niatnya dengan mengurus perizinan untuk usaha makanan beku yang diproduksinya di rumah sendiri dengan bahan premium dan tanpa pengawet.

Target pasarnya adalah para wanita atau ibu-ibu bekerja yang seharian di kantor sehingga lebih memilih membeli lauk beku yang praktis untuk bersantap keluarga di rumah.

Promosi saat itu masih dilakukan dengan cara sederhana yakni dari mulut ke mulut, melalui pelanggan kateringnya serta kelompok ibu-ibu yang ada di sekitar lingkungannya.

Seiring berjalannya waktu, Dapurnya Ami akhirnya semakin dikenal masyarakat karena kualitas rasa yang terjaga dan bahan baku premium yang digunakan.

Pelatihan yang diterimanya dari Rumah BUMN BRI Bukittinggi selama dua bulan pada tahun 2022, juga semakin menambah kepercayaan dirinya dalam mengembangkan usaha tersebut.

“Ada perubahan besar yang saya rasakan dengan mengikuti pelatihan di Rumah BUMN BRI Bukittinggi karena banyak ilmu yang bisa didapatkan mulai dari pengelolaan keuangan, pemasaran digital hingga inovasi produk,” ungkapnya.

Sejak bergabung dengan Rumah BUMN BRI Bukittinggi, usahanya juga semakin dikenal banyak orang dan ia juga sering dilibatkan pihak perbankan ketika ada iven seperti pameran produk UMKM.

Lauk rumahan Dapurnya Ami yang biasanya hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil pelanggan saat ini sukses menembus pasar swalayan dengan menjaga kualitas rasa, inovasi kemasan dan perluasan jaringan distribusi.

Mardeli Yusna juga telah membantu pemerintah menekan angka pengangguran dengan memberdayakan beberapa tetangga di lingkungannya untuk membantu produksi di dapurnya.

Dapurnya Ami membuktikan dengan kemauan, semangat untuk selalu ingin maju, kerja keras, kreativitas serta terus meningkatkan kualitas, usaha meski tanpa modal pun juga bisa jalan dan berkembang signifikan.

BRI melalui Rumah BUMN Bukittinggi telah menunjukkan rasa peduli dalam membantu memajukan UMKM daerah yang secara langsung menjaga menggerakan ekonomi di tingkat akar rumput atau paling bawah.

Baca Juga  4.876 UMKM Dipulihkan Lewat Klinik Minang Bangkit

BRI berkomitmen mendorong UMKM naik kelas dan menembus pasar global diantaranya melalui pemberdayaan berkelanjutan di Rumah BUMN.

Rumah BUMN BRI Bukittinggi merupakan salah satu wadah pendampingan UMKM yang  telah berdiri sejak tahun 2017 dengan anggota aktif sebanyak 3 ribu UMKM.

Pemimpin BRI Branch Office Bukittinggi, Kurniadi mengatakan Rumah BUMN Bukittinggi melaksanakan berbagai program untuk pemberdayaan UMKM.

“Mulai dari pelatihan usaha, digitalisasi pemasaran, membantu pengurusan legalitas hingga menfasilitasi pameran atau bazar produk UMKM,” ujar Kurniadi.

Ia mengatakan selama  tahun 2025 Rumah BUMN Bukittinggi telah memberikan sebanyak 80 pelatihan usaha yang disesuaikan dengan kebutuhan UMKM .

“Pelatihan rutin dilakukan setiap bulannya dengan menghadirkan langsung instruktur yang ahli di bidangnya sehingga para pelaku usaha bisa menyerap langsung ilmunya,” ujar Kurniadi.

Selain itu UMKM binaan juga mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program rebranding atau pembaruan kemasan agar lebih menarik dan mampu bersaing di pasaran.

Setiap tahunnya juga ada seleksi program BRIincubator lokal dan nasional yakni pendampingan dan pelatihan terpadu agar UMKM naik kelas dan mampu menembus pasar global.

Terpisah Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatra Barat, Endrizal mengatakan jumlah UMKM di Sumbar naik signifikan dari 594 ribu pada 2024 menjadi lebih 740 ribu pada 2025.

“Dominannya adalah pelaku usaha mikro 738.322, kemudian usaha kecil 1.750 dan 275 usaha menengah tersebar di 19 kabupaten dan kota se-Sumatra Barat,” ujar Endrizal ketika dikonfirmasi Haluan di Padang, Jumat (12/6).

Ia mengatakan berbagai program disiapkan pemerintah untuk mendorong UMKM naik kelas diantaranya memfasilitasi pengurusan legalitas usaha dan produk seperti pengurusan NIB, Sertifikasi Halal, Merk, P-IRT, BPOM.

Selanjutnya juga meningkatkan literasi keuangan UMKM dengan memberikan bimtek dan pelatihan, juga memfasilitasi pemasaran produk on line dan offline.

Kemudian membantu peningkatan kualitas produk melalui layanan kemasan, pembinaan berbasis kawasan dan meningkatkan kapasitas SDM UMKM melalui Pluzy Academy.

“UMKM merupakan penggerak ekonomi daerah. Dengan kerja keras, kreativitas dan kolaborasi, menjadi usaha yang mandiri, berdaya saing dan mampu menembus pasar lebih luas lagi,” harapnya. (Afrianita)