HEADLINE

Banjir Surut, Langkah Penanganan Dipacu

×

Banjir Surut, Langkah Penanganan Dipacu

Sebarkan artikel ini
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah meninjau kawasan Guo, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, salah satu lokasi yang terdampak banjir cukup parah, Selasa (4/8). Ia menginstruksikan pengerahan alat berat untuk memulihkan aliran sungai yang berubah akibat banjir di Kota Padang. IST/PEMPROV

PADANG, HARIANHALUAN.ID — Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mahyeldi Ansharullah menginstruksikan pengerahan alat berat untuk memulihkan aliran sungai yang berubah akibat banjir di Kota Padang, Selasa (4/8). Langkah itu dilakukan untuk mempercepat penanganan dampak banjir sekaligus membuka kembali akses jalan yang sempat terputus.

Instruksi tersebut disampaikan Mahyeldi saat meninjau kawasan Guo, RT 001/RW VI, Kelurahan Kuranji, Kecamatan Kuranji, salah satu lokasi yang terdampak cukup parah. Derasnya arus sungai menyebabkan aliran air berpindah jalur, melintasi badan jalan hingga merendam permukiman warga.

Didampingi sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), Mahyeldi melihat langsung kondisi rumah warga serta infrastruktur yang terdampak. Ia meminta Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDA-BK) Sumbar segera menurunkan alat berat agar aliran sungai kembali ke jalur semula.

“Kami ingin penanganan dilakukan secepat mungkin. Aliran sungai harus segera dipulihkan agar potensi banjir susulan bisa diminimalkan dan aktivitas masyarakat kembali normal,” ujar Mahyeldi.

Selain pengerahan alat berat, Gubernur juga menginstruksikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Dinas Sosial (Dinsos) Sumbar, serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait bergerak cepat menangani dampak bencana. Pendataan kerusakan, distribusi bantuan, hingga pemenuhan kebutuhan dasar warga diminta dilakukan secara terpadu.

Berdasarkan data sementara, sedikitnya 15 titik banjir tersebar di Kota Padang. Bencana serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah daerah lain di Sumbar, termasuk Kabupaten Agam. Meski demikian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar belum menetapkan status siaga darurat. Menurut Mahyeldi, penanganan masih dapat dilakukan melalui koordinasi pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota.

Ia juga mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut hujan berintensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi dalam tiga hari ke depan.

“Warga yang berada di bantaran sungai maupun daerah rawan longsor harus tetap waspada. Jangan memaksakan diri menyeberangi arus sungai yang deras karena keselamatan adalah yang utama,” katanya.

Baca Juga  Spirit Perjuangan Natsir Jadi Arah, DDII Sumbar Perkuat Gerakan Umat

Di lokasi yang ditinjau, sekitar 30 rumah terdampak banjir. Sebagian warga memilih mengungsi ke rumah kerabat sambil menunggu genangan surut. Pemprov Sumbar juga menyalurkan bantuan logistik berupa kasur, selimut, makanan siap saji, serta kebutuhan pokok kepada warga terdampak.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy memimpin langsung proses evakuasi warga di kawasan Parak Jambu, Kelurahan Dadok Tunggul Hitam, Kecamatan Koto Tangah, Senin (3/8) malam.

Bersama personel Basarnas dan BPBD, Vasko mengevakuasi warga menggunakan perahu karet. Saat proses evakuasi berlangsung, ketinggian air dilaporkan mencapai dada orang dewasa sehingga sejumlah warga terpaksa bertahan di lantai dua rumah mereka.

Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan kelompok rentan menjadi prioritas dalam proses penyelamatan. Evakuasi berlangsung hingga Selasa dini hari, kemudian warga dipindahkan ke masjid yang dijadikan tempat pengungsian sementara. “Yang terpenting tidak ada warga yang tertinggal di lokasi berbahaya. Walaupun kapasitas perahu terbatas, seluruh warga akan dievakuasi secara bertahap,” kata Vasko.

Ia memastikan Pemprov Sumbar terus berkoordinasi dengan BPBD, Basarnas, TNI, Polri, pemerintah kabupaten/kota, serta relawan untuk mempercepat penanganan bencana.

Berdasarkan informasi BMKG, hujan lebat yang mengguyur sebagian besar wilayah Sumbar dipicu pola konvergensi atau pertemuan massa udara yang membentuk awan hujan di sepanjang wilayah barat Pulau Sumatera. Kondisi tersebut diperkirakan masih berpotensi terjadi dalam dua hingga tiga hari ke depan.

Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan segera mengungsi ke lokasi yang lebih aman apabila debit air terus meningkat atau muncul tanda-tanda longsor.

Banjir Mulai Surut

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, berdasarkan pembaruan data hingga Selasa (4/8) pukul 14.30 WIB, kondisi banjir di sejumlah wilayah terdampak telah berangsur surut. Seiring dengan surutnya genangan, masyarakat mulai kembali ke rumah masing-masing dan melakukan pembersihan lingkungan pascabanjir.

Baca Juga  Pemko Pariaman Fasilitasi OPD dan Pengusaha

“Banjir dipicu oleh hujan dengan intensitas sangat tinggi yang mengguyur wilayah Kota Padang pada Senin (3/8), sekitar pukul 11.00 WIB hingga 17.00 WIB. Curah hujan yang tinggi menyebabkan sejumlah sungai meluap dan menggenangi kawasan permukiman dengan tinggi muka air mencapai sekitar 150 sentimeter di beberapa titik,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.

Ia menjelaskan, wilayah terdampak meliputi Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, Bungus Teluk Kabung, Lubuk Begalung, dan Nanggalo, yang mencakup sejumlah kelurahan seperti Gunung Sarik, Pasar Lalang, Rimbo Tarok, Kuranji, Sungai Sapih, Aia Pacah, Koto Panjang Ikua Koto, Bungus Selatan, Teluk Kabung Utara, Pagambiran Ampalu Nan XX, hingga Surau Gadang. Pendataan terhadap dampak banjir, baik korban jiwa maupun kerugian materiil, masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.

Dalam upaya penanganan darurat, BPBD Kota Padang bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Sumbar, didukung organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, telah melakukan evakuasi warga terdampak serta melaksanakan kaji cepat dan pendataan. Penanganan juga melibatkan Basarnas, TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan, serta masyarakat setempat.

Saat ini, Pemprov Sumbar masih menetapkan Status Transisi Darurat ke Pemulihan Bencana Banjir, Banjir Bandang, Tanah Longsor, dan Angin Kencang berdasarkan Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 360-195-2026 yang berlaku hingga 18 September 2026. Status tersebut menjadi dasar dalam pelaksanaan penanganan dan percepatan pemulihan di wilayah terdampak.

“BNPB mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi. Warga diharapkan mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah, menghindari aktivitas di kawasan rawan banjir saat hujan lebat, serta segera melaporkan kondisi kedaruratan kepada petugas apabila terjadi potensi ancaman bencana demi keselamatan bersama,” ujarnya. (h/fzi)