HEADLINE

Lahan Pertanian Sumbar Kembali Direndam Banjir

×

Lahan Pertanian Sumbar Kembali Direndam Banjir

Sebarkan artikel ini

PADANG, HARIANHALUAN.ID — Baru saja pulih dari bencana yang melanda pada akhir November 2025 lalu, petani Sumatera Barat (Sumbar) kembali ketiban sial. Lahan sawah yang baru saja selesai direhabilitasi malah kembali rusak diterjang banjir.

Cuaca ekstrem yang memicu banjir di sejumlah wilayah Sumatera Barat pada Senin (3/8) diketahui ikut berdampak terhadap sektor pertanian. Sedikitnya 17 hektare sawah yang ditanami padi dilaporkan terendam banjir, dengan Kota Padang menjadi daerah yang mengalami kerusakan paling parah.

Data sementara Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Distanhorbun) Sumbar menunjukkan, dari total lahan yang terdampak, sekitar 14,5 hektare berada di Kota Padang, sedangkan 1,5 hektare lainnya berada di Kabupaten Padang Pariaman.

Kepala Distanhorbun Sumbar, Afniwirman mengatakan, tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah pesisir barat Sumbar menjadi penyebab utama terendamnya areal persawahan. Hingga kini, dua daerah tersebut menjadi wilayah dengan dampak paling signifikan terhadap lahan pertanian.

“Curah hujan memang sangat tinggi di Kota Padang dan Padang Pariaman. Dari hasil koordinasi sementara, daerah lain belum melaporkan adanya sawah yang terdampak banjir,” ujarnya kepada Haluan, Rabu (5/8) kemarin.

Afniwirman menuturkan, tanaman padi yang terendam berada pada berbagai fase pertumbuhan. Sebagian baru berumur sekitar 30 hari setelah tanam, sementara sebagian lainnya telah memasuki usia sekitar 90 hari atau mendekati masa panen.

Kondisi itu membuat kerugian petani diperkirakan tidak kecil. Bahkan, sebagian tanaman dilaporkan mengalami puso atau gagal panen akibat terlalu lama terendam air. “Sebagian memang sudah masuk kategori puso. Namun kami masih melakukan pendataan untuk memastikan luas kerusakan dan menghitung total kerugian yang ditimbulkan,” ujarnya.

Baca Juga  Sumbar Kehilangan Tokoh Sastrawan Adat Minang, Yus Datuak Perpatiah Meninggal Dunia

Distanhorbun Sumbar telah melaporkan dampak bencana tersebut kepada Kementerian Pertanian (Kementan). Pemerintah provinsi juga tengah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mengusulkan langkah penanganan, termasuk rehabilitasi lahan serta kemungkinan pemberian bantuan kepada petani terdampak. “Kami sudah menyampaikan laporan ke kementerian. Untuk bentuk bantuan maupun kompensasi, kami masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat,” ucapnya.

Di balik angka kerusakan itu, para petani terdampak kini kembali menghadapi ketidakpastian. Emi, petani di kawasan Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, mengaku sawah yang baru selesai direhabilitasi pascabanjir sebelumnya kini kembali rusak setelah diterjang banjir. Empat petak sawah miliknya yang sudah ditanami padi kembali tertimbun lumpur dan material batu yang terbawa arus sungai. “Iya, ada sekitar empat petak sawah. Sudah selesai ditanam, sekarang tertimbun lagi,” ujarnya ditemui Haluan di lokasi.

Bagi Emi, kerusakan sawah bukan sekadar kehilangan tanaman, tetapi juga ancaman terhadap sumber penghidupan keluarganya. Ia berharap pemerintah segera memberikan solusi konkret agar petani dapat kembali mengolah lahan dan melanjutkan musim tanam. “Kalau tidak bertani lagi, kami mau kerja apa. Bertani satu-satunya sumber ekonomi kami,” katanya.

Cuaca ekstrem yang melanda Sumbar sejak awal pekan tidak hanya memicu banjir dan longsor di sejumlah daerah, tetapi juga mulai mengancam produktivitas sektor pertanian. Jika hujan dengan intensitas tinggi masih terus terjadi dalam beberapa hari ke depan, luas lahan pertanian yang terdampak diperkirakan masih berpotensi bertambah seiring pendataan yang terus dilakukan pemerintah daerah.

Sebelumnya diberitakan, banjir yang terjadi dipicu oleh hujan dengan intensitas sangat tinggi yang mengguyur wilayah Kota Padang pada Senin (3/8), sekitar pukul 11.00 WIB hingga 17.00 WIB. Curah hujan yang tinggi menyebabkan sejumlah sungai meluap dan menggenangi kawasan permukiman dengan tinggi muka air mencapai sekitar 150 sentimeter di beberapa titik.

Baca Juga  Pemprov  Sumbar Terapkan Pengaturan Lalu Lintas Jelang Mudik, Pengawasan Lapangan Perlu Diperketat

Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Kuranji, Koto Tangah, Bungus Teluk Kabung, Lubuk Begalung, dan Nanggalo, yang mencakup sejumlah kelurahan seperti Gunung Sarik, Pasar Lalang, Rimbo Tarok, Kuranji, Sungai Sapih, Aia Pacah, Koto Panjang Ikua Koto, Bungus Selatan, Teluk Kabung Utara, Pagambiran Ampalu Nan XX, hingga Surau Gadang. Pendataan terhadap dampak banjir, baik korban jiwa maupun kerugian materiil, masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.

Dalam upaya penanganan darurat, BPBD Kota Padang bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Sumbar, didukung Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, telah melakukan evakuasi warga terdampak serta melaksanakan kaji cepat dan pendataan. Penanganan juga melibatkan Basarnas, TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan, serta masyarakat setempat.

Saat ini, Pemprov masih menetapkan Status Transisi Darurat ke Pemulihan Bencana Banjir, Banjir Bandang, Tanah Longsor, dan Angin Kencang berdasarkan Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 360-195-2026 yang berlaku hingga 18 September 2026. Status tersebut menjadi dasar dalam pelaksanaan penanganan dan percepatan pemulihan di wilayah terdampak.

Pemerintah mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih dapat terjadi. Warga diharapkan mengikuti informasi resmi dari BMKG dan pemerintah daerah, menghindari aktivitas di kawasan rawan banjir saat hujan lebat, serta segera melaporkan kondisi kedaruratan kepada petugas apabila terjadi potensi ancaman bencana demi keselamatan bersama. (h/fzi)