Kondisi ini akan mendorong tubuh untuk mengaktifkan penggunaan cadangan makanan yang tersimpan dalam tubuh (lemak dan kolesterol) untuk dijadikan energi yang mendukung kegiatan harian. Lemak dan kolestrol yang jika dalam proporsi seimbang ada dalam tubuh sebenarnya sangat baik dalam mendukung faal tubuh. Akan tetapi, ketika telah berlebih, dan ini biasanya terjadi ketika kita jarang berolahraga serta biasa berlebihan makan, menimbulkan potensi kerugian bagi tubuh. Karena keduanya dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah dan jantung yang sangat fatal bagi manusia.
Puasa juga memiliki efek peningkatan fungsi otak, menstabilkan mood (perasaan), mengurangi stres, detoksifikasi, sampai pada memperlambat proses penuaan. Sekali lagi, karena dalam kondisi lapar yang terkendali tersebut, tubuh justru memiliki optimalitas untuk melakukan remediasi (perbaikan) terhadap sel-sel yang menjadi penunjang tubuh secara fisik.
Tidak heran dengan manfaat positif yang sangat besar dalam menyeimbangkan kondisi tubuh, puasa juga menjadi salah satu persyaratan yang jamak ditemukan saat seseorang akan mendapatkan tindakan medis semisal operasi. Dapat diartikan bahwa puasa menyiapkan kondisi yang optimal bagi tubuh dalam menghadapi interupsi besar (operasi) tadi, sehingga kemungkinan suksesnya akan menjadi lebih besar lagi.
Lebih jauh lagi, di dalam ibadah puasa umat Islam sebenarnya tidak hanya diminta untuk melakukannya secara fisik semata. Layaknya ibadah-ibadah lainnya, ada dimensi mental-spritual yang menyertai sehingga di dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 dijelaskan output dari mereka yang melaksanakan ibadah puasa secara paripurna, yakni menjadi “insan yang bertakwa” alias kedudukan tertinggi seorang hamba di mata Sang Khalik.
Secara kasar, merasakan rasa lapar dalam waktu yang cukup panjang harusnya dapat membuat seseorang menjadi lebih dapat berempati dengan kondisi orang lain di sekitarnya. Terutama pada mereka yang karena kondisi ekonominya bahkan tidak dapat makan yang layak selama berhari-hari.
Tentu ujungnya adalah timbulnya keikhlasan untuk saling berbagi dan tolong-menolong, sehingga kesejahteraan bersama dapat dicapai dari bawah. Ke dalamnya (intrapersonal), kondisi lapar sendiri dapat membuat seseorang semakin sadar dengan kondisinya yang mungkin lebih beruntung, sehingga dapat semakin membuatnya berempati dengan mereka yang tidak beruntung.