Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU-PR Pesisir Selatan, Fahresi Eka Siska, menjelaskan bahwa jembatan tersebut tidak lagi memungkinkan diperbaiki secara bertahap karena hampir seluruh struktur utama mengalami kerusakan berat.
“Panjang bentang jembatan itu sekitar 180 meter dengan lebar 2,4 meter. Jembatan ini tidak bisa dibangun separuh-separuh atau setengah-setengah. Karena kondisinya sudah keropos semua, maka harus diganti total,” jelas Eka.
Ia menyebutkan kebutuhan anggaran pembangunan ulang jembatan diperkirakan mencapai sekitar Rp5 miliar.
Menurut Eka, pemerintah daerah sebenarnya sempat mengalokasikan anggaran sekitar Rp1 miliar pada tahun 2025 untuk penanganan awal jembatan tersebut. Namun setelah dilakukan kajian teknis, anggaran itu dinilai tidak cukup karena kerusakan terjadi hampir di seluruh bagian konstruksi.
“Karena seluruh konstruksinya sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi, maka anggaran Rp1 miliar itu tentu tidak cukup. Harus dibangun baru secara keseluruhan,” katanya.
Eka menyebut, pada tahun 2026 pemerintah daerah juga sempat berencana kembali menganggarkan pembangunan jembatan tersebut. Namun rencana itu tertunda setelah Pesisir Selatan dilanda bencana banjir besar sehingga anggaran daerah diprioritaskan untuk penanganan dampak bencana.
Selain itu, adanya pemotongan anggaran dari pemerintah pusat turut mempengaruhi kemampuan daerah dalam merealisasikan sejumlah proyek pembangunan.
“Anggaran yang dikembalikan ke daerah itu sudah ada peruntukannya untuk penanganan bencana alam, sehingga tidak bisa dialihkan. Sementara kerusakan Jembatan Luhung ini bukan akibat bencana,” ungkapnya.
Meski belum dapat direalisasikan tahun ini, Pemkab Pessel tetap menargetkan pembangunan Jembatan Gantung Luhung bisa dilaksanakan pada tahun 2027 mendatang.
“Insya Allah mudah-mudahan tahun 2027 bisa kita anggarkan,” tuturnya.












