JAKARTA, HARIANHALUAN.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum sejumlah laporan kejadian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD pada periode Senin (13/7) pukul 07.00 WIB hingga Selasa (14/7). Memasuki musim kemarau, kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan masih mendominasi sejumlah wilayah, khususnya di Provinsi Jawa Tengah.
Kejadian pertama yang dilaporkan adalah kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Peristiwa terjadi pada Senin (13/7) pukul 09.45 WIB di Desa Bendo, Kecamatan Sukodono. Kebakaran dipicu aktivitas pembakaran rumput oleh seorang warga yang kemudian merambat ke lahan perkebunan tebu.
BPBD Kabupaten Sragen mencatat luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 4,5 hektare dan tidak menimbulkan korban jiwa. BPBD bersama Dinas Pemadam Kebakaran, aparat kecamatan dan pemerintah desa segera melakukan pemadaman darat. Hingga Senin (13/7), dilaporkan proses pendinginan di lokasi masih berlangsung.
Sementara itu, dampak musim kemarau masih menyebabkan krisis air bersih di Kabupaten Klaten. Sedikitnya 3.148 kepala keluarga atau 10.407 jiwa terdampak di empat desa yang berada di Kecamatan Kemalang, antara lain Desa Kendalsari, Desa Tegalmulyo, Desa Tlogowatu dan Desa Sidorejo.
BPBD Kabupaten Klaten terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan melaksanakan pendistribusian air bersih. Selama periode 15 Juni hingga 13 Juli 2026, sebanyak 236 tangki atau sekitar 1.180.000 liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat di Desa Kendalsari (46 tangki air), Tegalmulyo (51 tangki air), Tlogowatu (67 tangki air) dan Sidorejo (72 tangki air).
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Banyumas. Kekeringan yang dipicu musim kemarau berdampak pada sedikitnya 1.820 kepala keluarga atau 5.648 jiwa yang tersebar di enam kecamatan, yakni Kecamatan Purwokerto Timur, Karanglewas, Sumpluh, Jatilawang, Cilongok, Kemrajen.
BPBD Kabupaten Banyumas bersama otoritas daerah setempat menyiapkan sarana penampungan air. Pada Senin (13/7), BPBD mendistribusikan masing-masing 5.000 liter air bersih ke dua titik di Desa Kedungpring, Kecamatan Kemranjen menggunakan truk tangki air. Selain itu, air bersih juga telah disalurkan langsung kepada warga melalui toren berkapasitas 2.000 liter serta penampungan air yang tersedia.
Di Kabupaten Pemalang, kekeringan juga masih berlangsung dan berdampak pada sedikitnya 2.923 kepala keluarga di Kecamatan Belik, Bawang, Pulosari. Pemerintah Kabupaten Pemalang telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Kekeringan hingga 31 November 2026. BPBD Kabupaten Pemalang terus mendistribusikan bantuan air bersih kepada masyarakat. Pada Senin (13/7), sebanyak 56.000 liter air bersih disalurkan menggunakan tiga armada mobil tangki. Berdasarkan hasil asesmen di lapangan, kebutuhan air bersih masyarakat diperkirakan dapat terpenuhi untuk tiga hari ke depan.
Berdasarkan prediksi curah hujan kumulatif dasarian II bulan Juli 2026 (11-20 Juli 2026) yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia didominasi mengalami hujan pada kategori rendah.
Merespon hal tersebut, BNPB mengimbau pemerintah daerah terus mengoptimalkan distribusi air bersih serta menyiapkan sarana penampungan air di wilayah rawan kekeringan agar penyaluran bantuan dapat berlangsung lebih efektif. Masyarakat juga diimbau untuk menggunakan air secara bijaksana dan efisien.
Di sisi lain, meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau, masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin oleh otoritas daerah setempat. (*)












