HALUAN MADRASAH

Bukan Sekadar Ikrar, MAN Sawahlunto Teguhkan Komitmen Jadi Madrasah Ramah Anak dan Bebas Perundungan

×

Bukan Sekadar Ikrar, MAN Sawahlunto Teguhkan Komitmen Jadi Madrasah Ramah Anak dan Bebas Perundungan

Sebarkan artikel ini

SAWAHLUNTO, harianhaluan. id – Madrasah dan sekolah bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga rumah kedua bagi anak-anak untuk tumbuh, menemukan jati diri, membangun persahabatan, dan menjemput masa depan. Karena itu, setiap anak berhak belajar dalam suasana yang aman, nyaman, menyenangkan, harmonis, serta terbebas dari segala bentuk kekerasan dan perundungan.

Semangat itulah yang dikobarkan MAN Kota Sawahlunto melalui Deklarasi Madrasah Antibullying dan Anti-Perundungan, usai pelaksanaan muhadharah rutin di halaman madrasah, Jumat, 25 September 2026.

Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh keceriaan. Para murid mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan riang gembira, penuh semangat dan kebersamaan. Senyum, tepuk tangan, lantunan lagu, serta pesan-pesan persahabatan menyatu dalam satu atmosfer, madrasah harus menjadi tempat yang membuat setiap anak merasa diterima dan dihargai.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penampilan puisi, pantun, dan lagu bertema antibullying dan anti-perundungan. Pesan-pesan yang disampaikan tidak hanya mengajak peserta didik untuk tidak melakukan perundungan, tetapi juga berani mencegah, melaporkan, dan membantu teman yang menjadi korban.

Suasana kemudian semakin khidmat ketika seluruh keluarga besar madrasah bersama-sama membacakan naskah ikrar Madrasah Antibullying dan Anti-Perundungan.

Ikrar tersebut menjadi simbol bahwa komitmen melawan perundungan bukan hanya tugas guru, guru BK, atau pimpinan madrasah, melainkan tanggung jawab seluruh warga madrasah.

Usai pembacaan ikrar, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan deklarasi oleh Kepala Madrasah, Kepala Urusan Tata Usaha, para Wakil Kepala Madrasah, guru dan tenaga kependidikan, hingga seluruh peserta didik MAN Kota Sawahlunto.

Baca Juga  MTsN 1 Pasaman Bertabur Prestasi di Ajang O2SN dan Lomba Pidato HANI

Penandatanganan itu menjadi saksi bahwa komitmen membangun madrasah yang aman dan ramah anak telah menjadi kesepakatan bersama.

Kegiatan tersebut turut dihadiri anggota DPRD Sumbar, Ir. Hj. Neldaswenti, MSi dan rombongan. 

Kehadiran tersebut memberikan energi tersendiri bagi keluarga besar MAN Kota Sawahlunto dalam memperkuat gerakan menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, harmonis, dan berkarakter.

Kepala MAN Kota Sawahlunto, Dafril Tuanku Bandaro, menegaskan bahwa deklarasi tersebut bukan sekadar seremoni atau kegiatan seremonial yang berhenti pada pembacaan ikrar dan pembubuhan tanda tangan.

Menurutnya, deklarasi merupakan titik awal untuk membangun budaya madrasah yang benar-benar menjadikan keamanan, kenyamanan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Madrasah harus menjadi rumah kedua yang aman dan nyaman bagi setiap anak. Tidak boleh ada seorang pun murid yang datang ke madrasah dengan membawa rasa takut, tertekan, atau merasa dirinya tidak berharga,” ujar Dafril.

Ia menegaskan, setiap peserta didik memiliki keunikan, potensi, dan perjalanan hidup yang berbeda. Karena itu, perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan, mengejek, mengucilkan, mengintimidasi, apalagi melakukan kekerasan.

Dafril berharap gerakan antibullying tersebut tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjadi gerakan budaya yang hidup dalam keseharian seluruh warga madrasah.

“Saya berharap deklarasi ini tidak hanya dibaca hari ini, tetapi menjadi komitmen yang kita hidupkan setiap hari. Mari kita ganti budaya mengejek dengan budaya menguatkan, budaya merendahkan dengan budaya menghargai, dan budaya menyakiti dengan budaya menyayangi,” harapnya.

Baca Juga  MTsN 1 Padang Juara Turnamen Sepak Bola se-Sumbar

Ia juga mengajak seluruh peserta didik untuk menjadi bagian dari solusi. Jika melihat tindakan perundungan, murid tidak boleh diam atau ikut menertawakan, tetapi harus berani mencegah dan melaporkannya kepada guru, wali kelas, atau guru BK.

Sementara itu, dua guru Bimbingan dan Konseling (BK) MAN Kota Sawahlunto, Putri Suhaida dan Vivied Nopitrianis, menyampaikan bahwa pencegahan perundungan membutuhkan keterlibatan seluruh unsur madrasah.

Menurut mereka, guru BK tidak hanya hadir ketika terjadi persoalan, tetapi juga memiliki peran penting dalam membangun kesadaran, memberikan edukasi, mendampingi peserta didik, serta menciptakan ruang komunikasi yang terbuka dan aman.

“Perundungan sering kali bermula dari sesuatu yang dianggap bercanda. Karena itu, anak-anak perlu memahami bahwa candaan yang membuat orang lain terluka, malu, takut, atau tertekan bukan lagi candaan yang sehat,” ujar Putri Suhaida.

Senada dengan itu, Vivied Nopitrianis menekankan pentingnya keberanian untuk saling peduli.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa menjadi teman yang baik bukan hanya ikut tertawa ketika teman bahagia, tetapi juga hadir ketika teman sedang terluka. Jangan menjadi penonton ketika ada perundungan. Jadilah orang yang menghentikan dan membantu,” tuturnya.

Deklarasi antibullying di MAN Kota Sawahlunto menjadi bagian dari ikhtiar membangun pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga menumbuhkan kepekaan hati. (humas).