PADANG, HARIANHALUAN.ID — Bencana galodo yang menerjang kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, turut menyoroti perubahan fungsi lahan di kawasan perbukitan.
Ketua Forum DAS Sumatera Barat, Prof Isril Berd, mengatakan perubahan fungsi lahan, khususnya di areal penggunaan lain (APL), perlu menjadi perhatian setelah galodo menerjang kawasan tersebut.
Menurutnya, perubahan pemanfaatan lahan di kawasan perbukitan terlihat cukup masif, terutama di jalur menuju kawasan Danau Kembar.
“Areal khususnya di APL, sepertinya banyak berubah fungsi. Kalau kita jalan ke Danau Kembar, banyak dibangun vila atau kafe di daerah perbukitan,” ujarnya kepada Haluan Selasa (22/9/2026).
Ia mengatakan kondisi tersebut perlu dikaji lebih jauh untuk melihat bagaimana perubahan bentang alam dan pemanfaatan lahan berpengaruh terhadap kondisi lingkungan dan tata air di kawasan tersebut.
Terlebih, Arosuka berada di kawasan dataran tinggi dan perbukitan di sekitar lereng Gunung Talang. Wilayah dengan karakter seperti itu memiliki kondisi medan yang membutuhkan perhatian khusus dalam pemanfaatan ruang, terutama ketika pembangunan berkembang di kawasan lereng.
Guru besar Universitas Gunadharma ini memang tidak menyebut perubahan fungsi lahan sebagai satu-satunya penyebab galodo Arosuka. Namun, menurutnya, kondisi kawasan hulu dan perubahan penggunaan lahan perlu menjadi bagian dari evaluasi setelah bencana.
“Info data tersebut bisa diklarifikasi lagi. Namun, buat observasi cepat di lapangan sangat bisa kita pahami,” ujarnya.
Forum DAS Sumbar, kata dia, siap melakukan kajian lebih lanjut mengenai kondisi kawasan tersebut.
“Forum DAS siap untuk kita kaji dan diskusi di P4S kita,” katanya.
Galodo yang menerjang Arosuka pada Senin (21/9/2026) malam sebelumnya membawa material lumpur, batu dan kayu hingga masuk ke sejumlah kawasan, termasuk akses jalan dan kawasan perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok.
Peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah warga menjadi korban. Tim gabungan juga masih melakukan pencarian terhadap satu warga yang hingga kini belum ditemukan.
Bencana itu sekaligus kembali membuka perhatian terhadap kondisi kawasan perbukitan di Kabupaten Solok, terutama perkembangan pembangunan dan perubahan fungsi lahan yang berlangsung di wilayah tersebut.
Forum DAS Sumbar mengingatkan bahwa persoalan itu penting dikaji dari kawasan hulu hingga hilir agar perubahan bentang alam tidak luput dari evaluasi dalam upaya mengurangi risiko bencana di masa mendatang. (*)












