NTT, HARIANHALUAN.ID — Bagi anak-anak di Nusa Tenggara Timur (NTT), pemulihan pascagempa bukan hanya tentang kembali berdiri di ruang kelas. Lebih dari itu, mereka membutuhkan ruang untuk kembali merasa aman, bermain, belajar, dan perlahan memulihkan keberanian setelah mengalami bencana.
Semangat itulah yang dibawa TelkomGroup melalui program penguatan keterampilan guru dan dukungan psikologis bagi anak pascagempa di SDN Reo 1 dan SDN Reo 2, Kabupaten Manggarai, NTT, pada 22–25 September 2026. Mengusung semangat Bersama Jadi Bisa, program ini memadukan penguatan kapasitas guru, aktivitas pemulihan psikologis anak, pemanfaatan teknologi digital, serta dukungan fasilitas pembelajaran untuk membantu sekolah kembali menjalankan aktivitas secara bertahap.
Kebutuhan akan dukungan tersebut menjadi semakin penting mengingat skala dampak gempa terhadap sektor pendidikan. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2026, sebanyak 1.378 sekolah, 177.678 siswa, dan 21.166 guru terdampak, dengan 5.521 ruang kelas mengalami kerusakan. Sebanyak 923 sekolah bahkan harus meliburkan siswa sementara, 171 sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh, dan 35 sekolah menjalankan kegiatan belajar mengajar di ruang darurat.
Menguatkan Guru, Memulihkan Anak
Program TelkomGroup dimulai dengan pelatihan Training of Trainers (ToT) yang diikuti oleh 30 guru dari kedua sekolah. Tidak hanya dibekali keterampilan pendampingan anak, para guru juga mendapatkan penguatan untuk mengenali dan mengelola kondisi emosional diri sendiri sebagai bagian penting dari proses pendampingan pascabencana.
Setelah mengikuti ToT, para guru kemudian mengimplementasikan pembelajaran dan pendampingan tersebut secara langsung kepada para siswa melalui sejumlah aktivitas yang dirancang untuk menciptakan suasana belajar yang aman, menyenangkan, dan suportif.
Di sekolah, TelkomGroup menghadirkan pos khusus yang menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengikuti aktivitas penguatan keterampilan sekaligus mendapatkan dukungan psikologis. Melalui pendekatan yang lebih dekat dengan dunia anak, yaitu bermain, berinteraksi, berkarya, hingga memanfaatkan teknologi digital, sebanyak 150 siswa dari SDN Reo 1 dan SDN Reo 2 secara antusias mengikuti rangkaian kegiatan secara bersama-sama.
Pendekatan ini menjadi bagian penting karena pemulihan pascabencana tidak berhenti ketika kondisi fisik mulai membaik. Anak-anak juga perlu mendapatkan ruang untuk mengekspresikan diri, membangun kembali rasa percaya diri, serta merasakan kembali pengalaman belajar yang positif.
Teknologi Hadir untuk Menjaga Hak Belajar
Sebagai perusahaan digital, TelkomGroup juga memberikan dukungan teknologi sebagai bagian dari pemulihan aktivitas pendidikan. Bantuan yang diberikan mencakup dua unit tenda darurat, dua paket Orbit Telkomsel, 10 paket perangkat tablet, serta 150 paket Healing Kit untuk anak-anak seperti baju, alat gambar, dan kertas origami.
Dukungan tersebut dihadirkan untuk membantu sekolah tetap memiliki ruang dan sarana pendukung dalam menjalankan aktivitas pembelajaran di tengah kondisi pascabencana.
“Sebagai perusahaan digital, Telkom senantiasa berkomitmen untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga memberikan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat. Di tengah proses pemulihan pascabencana ini, kami ingin memastikan anak-anak di NTT tetap mendapatkan hak belajarnya dalam suasana yang aman dan nyaman, sekaligus memastikan para guru memiliki kapasitas dan dukungan yang memadai untuk mendampingi mereka,” ujar Hery Susanto, Senior General Manager Social Responsibility Telkom Indonesia.
Lebih dari sekadar bantuan, kehadiran TelkomGroup diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pemulihan yang berkelanjutan. Dengan memperkuat kapasitas guru, memberikan ruang pemulihan bagi anak, serta menghadirkan dukungan teknologi dan fasilitas pembelajaran, sekolah diharapkan dapat kembali menjadi ruang yang aman bagi anak-anak untuk tumbuh dan belajar.
Bersama Jadi Bisa, Bangkit dan Kembali Belajar
Program penguatan keterampilan guru dan dukungan psikologis bagi anak pascagempa di NTT merupakan bagian dari implementasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) TelkomGroup, sekaligus bentuk kontribusi perusahaan terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4: Pendidikan Berkualitas.
Melalui semangat Bersama Jadi Bisa, TelkomGroup percaya bahwa pemulihan pascabencana bukan hanya tentang membangun kembali apa yang rusak, tetapi juga tentang memperkuat manusia yang berada di dalamnya.
Ketika guru kembali kuat, anak-anak mendapatkan ruang untuk kembali percaya diri. Dan ketika anak-anak kembali berani belajar, harapan untuk bangkit pun tumbuh kembali. (h/dj)












