BREAKING NEWSSUMBAR

Malam Ketiga SARASO Fest Semakin Semarak

×

Malam Ketiga SARASO Fest Semakin Semarak

Sebarkan artikel ini

PADANG, HARIANHALUAN.ID — SARASO Fest Pekan Kebudayaan Daerah Sumatera Barat 2026 berlanjut di malam ketiga, Rabu (30/9/2026). Malam cukup dingin selepas hujan. Riak ombak masih terdengar di kawasan Dinas Kebudayaan Sumatera Barat — tempat perhelatan kegiatan.

Indang Tigo Sandiang dari Padang Pariaman mengawali pertunjukan. Tari Indang Tigo Sandiang merupakan seni tradisi khas dari daerah tersebut yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI).

Kesenian ini diperkirakan lahir pada abad ke-14 seiring masuknya ajaran Islam ke Ranah Minang. Sejarahnya berakar dari kebudayaan Aceh dengan perpaduan antara kesenian Indang dan Sama yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin setelah berguru kepada Syekh Abdurrauf Singkil.

Drama Tari Payung Sumatra menjadi pertunjukan kedua. Penceritaan roman Siti Nurbaya langsung memeriahkan panggung. Payung Sumatra memberikan perspektif segar terhadap cerita yang melegenda di Kota Padang tersebut.

Pertunjukan kontemporer yang berlangsung cukup lama itu memantik ketertarikan anak-anak muda yang antusias melihatnya.

Setelah Payung Sumatra disambutlah oleh pertunjukan Gamad dari Kota Padang. Kesenian Gamad dibawa oleh Perkumpulan Gamad Melayu Kumbang Janti (PGMKJ) Seberang Palinggam. Beberapa lagu dinyanyikan diiringi tarian (oleh empat orang laki-laki) dalam gerak khas Melayu yang tenang dan gemulai.

Sebagaimana khasnya Gamad, lantunan lirik melengking dan berkekuatan dalam alunan musik yang mendayu. Gitar elektronik, drum, gendang, biola, keyboard, dan akordeon menjadi ciri khas alat musik Gamad tersebut.

Lalu pertunjukan berlanjut oleh Komposisi Musik Soundenai dari Rofie Rahmatullah. Komposisi musik ini sebagai bentuk representasi dari hasil pelatihan musik yang telah digelar sebelumnya oleh UPTD Taman Budaya Sumatera Barat.

Baca Juga  Diduga Tak Sesuai Spek, Proyek Sabodam di Nagari Canduang Disorot Forum Peduli Canduang Koto Laweh

Pertunjukan musik kontemporer ini merupakan perpaduan musik tradisional Minangkabau denhan musik modern. Perpaduan ini dihadirkan untuk menumbuhkan ketertarikan generasi muda.

Sebelumnya telah dilaksanakan Soundenai dengan menghadirkan peserta muda berbakat yang telah memiliki bakat dalam bermusik. Sehingga pelatihan ini menjadi satu rangkaian berlanjut menuju SARASO Fest tersebut.

Setelahnya, tari tradisional dari Kota Sawahlunto. Tari Piriang Balenggek namanya. Kesenian tari ini telah ditetapkan sebagai WBTbI pada 2025 lalu. Tari Piriang Balenggek dibawa oleh Sanggar Patah Tumbuah Hilang Baganti.

Tari Piriang Balenggek ini berasal dari Nagari Lunto, Kota Sawahlunto. Tarian ini pada dasarnya merupakan tari piring pada umumnya, namun ciri khasnya terletak pada aksi akrobatik para penari, mulai dari menari sambil menaiki penari lain, menari di atas piring, dan aksi lainnya.

Usai tari tradisi tersebut, Sofie Anastasha yang menjadi guest star pada malam itu mulai menghibur dengan beberapa nyanyian. Kehadiran Sofie juga sebagai hiburan langsung kepada masyarakat agar kegiatan semakin semarak.

Dan penutup, Tari Turuk Langgai dari Kepulauan Mentawai mengakhiri malam ketiga SARASO Fest tersebut. Tariannya terlihat serius yang mengisyaratkan adanya suasana magis. Pakaian dari dedauan dan alat musik khasnya menguatkan identitas budaya Mentawai pada pertunjukannya.

Tarian ini lahir dari kebudayaan asli masyarakat Mentawai yang menganut kepercayaan Arat Sabulungan. Turuk Langgai bukan sekadar tarian, melainkan bagian dari upacara penyembuhan orang sakit yang dipimpin oleh dukun adat atau tabib yang disebut Sikerei.

Baca Juga  Masih Belum Ditemukan, Siska Okrina, Pendaki Gunung itu Mestinya Bakal Diwisuda Pekan Ini di UNP

Tarian ini ditarikan pada malam hari untuk menghibur roh-roh agar tidak meninggalkan tubuh pasien yang sedang diobati. Seiring waktu, selain untuk ritual pengobatan (turuk puliaijat), tarian ini juga mulai ditampilkan dalam pesta adat (turuk punen) hingga menjadi bentuk hiburan dan warisan budaya.

Besar Harapan ke Generasi Muda

Sebagaimana yang telah dikatakan sebelumnya oleh Plt Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Ahmad Zakri, bahwa SARASO Fest menjadi momen penting untuk bersama agar kesenian dan tradisi tidak hanya diinterpretasikan sebagai sekadar hiburan.

“Lebih dari itu, kebudayaan menjadi sarana edukasi dan pembentukan karakter bagi generasi anak-anak dan muda ke depannya,” katanya.

Ahmad Zakri menjelaskan, melestarikan tradisi dan budaya bukan menghidupkan masa lalu, melainkan menjemput masa lalu itu sebagai kesiapan terhadap pembentukan nilai dan menghadapi masa depan.

Sementara Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat (TBSB), M Devid, mengatakan kehadiran SARASO Fest ini sebagai wujud untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai dari seni tradisi, khususnya kepada anak-anak muda.

“Anak muda ini adalah harapan terbesar kita agar di kemudian hari merekalah yang menjadi penerus akan kebudayaan yang menjadi tonggak dasar kehidupan,” katanya.

SARASO Fest Pekan Kebudayaan Daerah Sumatera Barat 2026 merupakan agenda tahunan UPTD Taman Budaya Sumatera Barat. Festival ini dilangsungkan selama enam hari pada Senin (28/9) hingga Sabtu (3/10). SARASO Fest menghadirkan berbagai seni pertunjukan dari masing-masing kabupaten/kota dan komunitas seni. (h/jum)