SUMBAR

Arabia Tour & Travel Bantah 80 Jamaah Umrah Sumbar Gagal Berangkat, Sebut Hanya Kursi Pesawat Tak Terjual

×

Arabia Tour & Travel Bantah 80 Jamaah Umrah Sumbar Gagal Berangkat, Sebut Hanya Kursi Pesawat Tak Terjual

Sebarkan artikel ini

PADANG, HARIANHALUAN.ID— Arabia Tour & Travel membantah informasi mengenai 80 jamaah umrah asal Sumatera Barat (Sumbar) yang disebut gagal berangkat ke Tanah Suci setelah beredarnya pemberitaan terkait inspeksi mendadak (sidak) Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sumatera Barat di Bandara Internasional Minangkabau (BIM).

Pihak Arabia menegaskan, tidak ada jamaah yang gagal berangkat sebagaimana informasi yang beredar. Menurut mereka, angka 80 orang yang disebut dalam pemberitaan merujuk pada kursi pesawat yang tidak terjual, bukan jamaah yang batal menunaikan ibadah umrah.

Klarifikasi tersebut disampaikan Senior Manager Arabia Tour & Travel, Deri Aliyandra, bersama Manager Marketing Arabia Tour & Travel, Hendri, menyusul pemberitaan yang menurut mereka menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat dan mitra usaha.

Hendri mengatakan, pihaknya tidak mempersoalkan pemberitaan mengenai sidak maupun informasi yang disampaikan terkait 80 kursi pesawat. Namun, ia keberatan karena foto dirinya digunakan bersama judul yang menyebut jamaah umrah Sumbar gagal berangkat.

Menurutnya, perpaduan judul dan foto tersebut menimbulkan kesan seolah-olah Arabia Tour & Travel merupakan biro perjalanan yang gagal memberangkatkan jamaah.

“Kami tidak mempersoalkan isi berita yang menyebut 80 jamaah umrah Sumbar gagal berangkat. Namun, judul dan foto yang dipasang adalah foto saya sendiri. Kami menilai seolah-olah informasi itu berkaitan dengan Arabia, padahal hal tersebut tidak pernah terjadi,” ujar Hendri dalam jumpa pers yang digelar di kantor Arabia Tour & Travel Kota Padang Kamis (1/10).

Ia menegaskan, sejak perusahaan berdiri, Arabia tidak pernah mengalami insiden pembatalan keberangkatan ataupun penelantaran jamaah sebagaimana yang dipersepsikan dari pemberitaan tersebut.

Hendri menyebut, Arabia merupakan perusahaan penyelenggara perjalanan umrah berizin dengan akreditasi A. Ia juga menjelaskan bahwa perusahaan tersebut memiliki peran sebagai penyedia visa (visa provider) dan pencarter pesawat untuk penerbangan umrah.

Baca Juga  Cari Rongsokan, Pria di Padang Tewas Tenggelam di Banjir Kanal

Menurutnya, Arabia secara rutin memberangkatkan jamaah lima hingga enam kali dalam sebulan. Sejak musim umrah hingga September lalu, perusahaan itu mengklaim telah memberangkatkan ribuan jamaah.

Karena itu, pihaknya menyayangkan penggunaan foto tersebut yang dinilai berdampak terhadap reputasi perusahaan. Hendri mengatakan, sejumlah cabang dan mitra Arabia yang tersebar dari Sumatera Barat hingga Jambi turut menyampaikan keberatan karena pemberitaan itu memunculkan keresahan dan kesimpangsiuran informasi.

“Kami sangat menyayangkan karena judul dan foto berita tersebut menimbulkan kerisauan. Cabang dan mitra kami ikut mempertanyakan hal ini. Kami ingin meluruskan bahwa tidak ada jamaah Arabia yang gagal berangkat,” katanya.

Hendri menjelaskan, keberatan pihaknya bermula dari penjelasan yang diperolehnya saat mendatangi Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sumatera Barat untuk menanyakan dasar informasi mengenai 80 jamaah yang disebut gagal berangkat.

Berdasarkan penjelasan yang ia terima, pesawat tersebut memiliki kapasitas 180 penumpang. Sementara itu, menurut Hendri, penerbangan tersebut diisi oleh jamaah dari dua biro perjalanan, yakni Cordoba dan Arabia, dengan total sekitar 100 jamaah.

Dari perhitungan tersebut, Hendri menilai angka 80 yang muncul merujuk pada kursi pesawat yang tidak terisi, bukan jamaah yang telah memiliki jadwal keberangkatan tetapi kemudian batal berangkat.

Ia menjelaskan, Arabia juga menjalankan usaha pencarteran pesawat untuk penerbangan Lion Air dan Batik Air pada rute Padang-Jeddah. Dalam skema tersebut, kursi pesawat yang tidak terjual menjadi risiko usaha pencarter, sehingga tidak serta-merta dapat disimpulkan sebagai jamaah yang gagal berangkat.

“Kalau tiket tidak terjual dan kursi pesawat kosong, itu bukan berarti jamaah tidak berangkat. Kerugian akibat kursi yang tidak terjual berada pada pihak pencarter pesawat. Jadi, ini yang perlu diluruskan. Sampai saat ini, kami memastikan tidak ada jamaah Arabia yang tidak berangkat. Yang ada adalah kursi pesawat yang tidak terjual,” tegasnya.

Baca Juga  Kemenag Targetkan Dana BOP RA dan BOS Madrasah Cair Sebelum Idulfitri

Hendri berharap klarifikasi tersebut dapat meluruskan informasi yang berkembang dan mencegah kesalahpahaman berkepanjangan. Ia meminta agar informasi mengenai keberangkatan jamaah dibedakan secara jelas dari persoalan keterisian kursi pesawat.

Sementara itu, Senior Manager Arabia Tour & Travel, Deri Aliyandra, mengatakan sidak memang berlangsung ketika pihaknya sedang melepas keberangkatan jamaah umrah. Pada kesempatan tersebut, sebanyak 40 jamaah Arabia diberangkatkan dan dilepas secara resmi oleh Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sumatera Barat.

Deri menyebut, dalam kegiatan itu petugas juga memeriksa kelengkapan administrasi jamaah, termasuk nomor kamar, asuransi, dan dokumen pendukung lainnya.

Menurutnya, dokumen yang disiapkan Arabia bahkan dijadikan contoh bagi salah satu perusahaan penyelenggara perjalanan umrah di Sumatera Barat. Ia mengatakan proses pelepasan jamaah berlangsung khidmat, dengan suasana sukacita dari para jamaah dan keluarga yang mengantar.

“Ketika sidak dilakukan, kami sedang melepas jamaah. Ada 40 jamaah Arabia yang dilepas secara resmi oleh Kakanwil. Saat itu juga dilakukan pemeriksaan kelengkapan administrasi, nomor kamar, asuransi, dan sebagainya. Bahkan, dokumen kami dijadikan contoh untuk salah satu perusahaan,” ujar Deri.

menurut Deri 40 jamaah umrah Arabia Tour And Travel kini bahkan telah melaksanakan ibadah umrah di Tanah Suci.

Deri menilai, pemberitaan yang mengaitkan foto dan nama Arabia dengan informasi jamaah gagal berangkat telah merugikan perusahaan. Karena itu, klarifikasi diperlukan agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai situasi yang sebenarnya.

“Kami mengambil hikmahnya saja. Namun, persoalan ini cukup merugikan kami sehingga perlu diluruskan. Kami ingin masyarakat mengetahui bahwa pada saat sidak, jamaah kami justru sedang diberangkatkan dan proses administrasinya diperiksa,” pungkasnya. (*).