PADANG, HARIANHALUAN.ID- Penguatan promosi pariwisata, perjuangan regulasi yang berpihak kepada pelaku usaha, serta pengembangan ekonomi kreatif menjadi agenda strategis Badan Pengurus Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) Sumatera Barat ke depan.
Di tengah tantangan kebencanaan yang berulang dan dampaknya terhadap kunjungan wisatawan, industri perhotelan dan restoran didorong untuk terus berbenah sekaligus membangun daya tarik baru bagi Ranah Minang.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Musyawarah Daerah (Musda) VI BPD PHRI Sumatera Barat yang digelar di Hotel Pangeran Beach, Kota Padang, Kamis (1/10). Dalam forum tersebut, peserta secara aklamasi kembali memilih Rina Pangeran sebagai Ketua Umum BPD PHRI Sumbar untuk periode kedua.
Kepemimpinan Rina Pangeran pada periode berikutnya diharapkan dapat melanjutkan program yang telah berjalan sekaligus memperkuat upaya membangkitkan industri hotel dan restoran. Salah satu tantangan utamanya adalah meningkatkan arus kunjungan wisatawan agar tingkat hunian hotel dan aktivitas restoran ikut terdongkrak.
Rina Pangeran mengakui, sektor pariwisata Sumatera Barat sangat sensitif terhadap isu kebencanaan. Setiap kejadian bencana dapat memengaruhi persepsi wisatawan, rencana perjalanan, hingga tingkat kunjungan ke berbagai destinasi.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak boleh membuat pelaku industri pariwisata kehilangan semangat untuk bangkit. Menurutnya, PHRI Sumbar akan terus berupaya mendorong peningkatan kunjungan wisatawan melalui penguatan promosi dan penjajakan pasar yang lebih luas.
“Sumatera Barat, khususnya sektor hotel dan restoran, memang sangat sensitif terhadap isu bencana. Namun, kita harus selalu bangkit. Apa yang bisa kita lakukan, akan kita lakukan. Kita selalu berusaha mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya ke Sumatera Barat,” ujar Rina dalam sesi konferensi pers di sela Musda VI PHRI Sumbar Kamis (1/10).
Salah satu pasar yang menjadi perhatian PHRI Sumbar adalah Malaysia. Rina Pangeranbmenilai, potensi wisatawan dari negara jiran tersebut masih dapat dikembangkan karena belum semua calon wisatawan mengenal keragaman destinasi dan fasilitas akomodasi yang tersedia di Sumatera Barat.
Pengalaman mengikuti kegiatan promosi di Malaysia pada tahun sebelumnya memperlihatkan bahwa pengenalan terhadap Sumatera Barat masih perlu diperluas. Tidak hanya destinasi wisata, fasilitas hotel berbintang maupun nonbintang juga perlu diperkenalkan secara lebih intensif kepada calon wisatawan.
Menurut Rina, promosi tidak cukup hanya dilakukan dengan memperkenalkan nama daerah. Pelaku industri perlu menunjukkan secara konkret apa yang dapat dinikmati wisatawan ketika berkunjung ke Sumatera Barat, mulai dari kekayaan kuliner, destinasi alam, budaya, hingga pilihan akomodasi.
Karena itu, PHRI Sumbar berencana memperluas partisipasi dalam kegiatan promosi pariwisata, termasuk menjajaki keikutsertaan dalam pameran pariwisata di Malaysia. Upaya tersebut diharapkan dapat mempertemukan pelaku usaha dengan pasar potensial sekaligus memperkenalkan produk dan destinasi unggulan Ranah Minang.
“Promosi sangat penting. Pasar Malaysia perlu kita garap lebih serius karena masih banyak masyarakat di sana yang belum mengenal Sumatera Barat secara utuh. Kita harus menjemput pasar itu, memperkenalkan destinasi dan fasilitas yang kita miliki,” katanya.
Di samping promosi, Rina menyoroti pentingnya kebijakan yang tidak semakin membebani pelaku usaha hotel dan restoran. Dalam kondisi industri yang masih berupaya memulihkan kunjungan, regulasi terkait lingkungan maupun kewajiban operasional perlu mempertimbangkan kemampuan pelaku usaha.
Ia menegaskan, PHRI akan memperjuangkan kebijakan yang tetap menjaga kepentingan lingkungan, tetapi penerapannya juga memperhatikan kondisi riil dunia usaha.
“Regulasi ini penting bagi kami. Jangan sampai beban pelaku usaha semakin berat di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih. Kalau bisa dipermudah, tentu harus dipermudah,” ujarnya.
Rina berharap, penguatan promosi dan pembenahan kebijakan tersebut dapat berjalan beriringan dengan hadirnya destinasi atau atraksi baru yang mampu mendatangkan lebih banyak wisatawan ke Sumatera Barat.
Sementara itu, Ketua Umum PHRI Pusat, Haryadi B. Sukamdani, menilai peningkatan kunjungan wisatawan tidak bisa hanya mengandalkan keberadaan hotel dan restoran. Wisatawan membutuhkan alasan untuk datang, sesuatu yang ingin dilihat, pengalaman yang ingin dirasakan, serta produk yang dapat dibawa pulang.
Karena itu, Sumatera Barat perlu memperkuat daya tarik destinasi melalui pengembangan atraksi wisata, baik berbasis alam maupun wisata buatan yang dikelola secara profesional. Salah satu peluang yang dapat dikembangkan adalah mengintegrasikan pariwisata dengan ekonomi kreatif yang memiliki akar kuat dalam kebudayaan Minangkabau.
Haryadi melihat Sumatera Barat mempunyai potensi besar dalam pengembangan wastra atau kain tradisional, termasuk songket dan tenun, serta kerajinan perak dan produk berbahan kulit. Potensi tersebut dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan, sekaligus membuka pasar yang lebih luas bagi para perajin dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Orang datang ke Sumatera Barat tentu karena ada sesuatu yang ingin dilihat dan dinikmati. Karena itu, kita harus membangun destinasi atau atraksi yang menarik. Pariwisata memiliki irisan yang sangat besar dengan industri kreatif, dan Sumatera Barat punya potensi yang cukup baik di sektor ini,” kata Haryadi.
Ia mendorong pengembangan sentra penjualan produk ekonomi kreatif tradisional yang dapat menjadi salah satu tujuan wisata belanja. Sentra tersebut bisa menghimpun berbagai produk khas Sumatera Barat dalam satu kawasan, sehingga wisatawan lebih mudah menemukan dan membeli cendera mata maupun produk kerajinan lokal.
Dengan konsep itu, wisatawan tidak hanya berkunjung untuk menikmati alam dan kuliner, tetapi juga mendapatkan pengalaman mengenal kebudayaan Minangkabau melalui produk yang dihasilkan para perajin.
Haryadi menilai pendekatan tersebut memiliki keunggulan karena pengembangan industri kreatif lebih banyak bertumpu pada kualitas sumber daya manusia dan keterampilan perajin. Dengan pembinaan yang tepat, investasi pada sektor ini berpeluang membuka ruang usaha bagi masyarakat tanpa selalu membutuhkan pembangunan fisik berskala besar seperti hotel atau fasilitas pariwisata lainnya.
Salah satu produk yang menjadi perhatian adalah songket Sumatera Barat. Menurut Haryadi, songket memiliki nilai budaya dan daya tarik yang dapat dikembangkan menjadi identitas produk kreatif daerah. Namun, produk dengan proses pembuatan yang rumit dan waktu pengerjaan panjang memiliki pasar yang relatif terbatas karena harga jualnya tidak selalu terjangkau oleh semua kalangan.
Karena itu, ia mengusulkan pengembangan desain yang lebih inovatif dengan memanfaatkan motif atau ornamen songket untuk diaplikasikan pada produk fesyen lainnya. Pendekatan tersebut memungkinkan unsur tradisional tetap dipertahankan, tetapi hadir dalam bentuk produk yang lebih beragam dan memiliki rentang harga lebih luas.
“Songket merupakan potensi yang bagus. Tetapi kalau seluruh produk membutuhkan waktu pengerjaan yang lama dan harganya tinggi, pasarnya tentu terbatas. Bagaimana ornamen songket bisa diaplikasikan pada produk fesyen lain dengan desain yang lebih efisien, sehingga masyarakat bisa mendapatkan produk bernuansa songket dengan harga yang lebih terjangkau,” ujarnya.












