JAKARTA, HARIANHALUAN.ID – BNPB mempercepat penanganan darurat bencana gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada Senin (17/8), Deputi Bidang Logistik dan Peralatan BNPB Dra. Andi Eviana, M.Si., bersama Plt. Direktur Optimasi Jaringan Logistik dan Peralatan BNPB Brigjen TNI Herry Setiono melakukan koordinasi dengan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Posko TNI AU Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma terkait dukungan operasi penanggulangan bencana gempa di NTT. Koordinasi tersebut dilakukan untuk memastikan dukungan logistik dan transportasi udara dapat berjalan secara cepat dan terkoordinasi sesuai kebutuhan di wilayah terdampak.
Koordinasi tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui penguatan operasi distribusi logistik dari Pos Pendukung Logistik Nasional Halim Perdanakusuma.
Sejak Sabtu (15/8), Posko PPN Halim Perdanakusuma menggelar operasi distribusi bantuan kemanusiaan berskala besar dengan melibatkan pemerintah, TNI, serta berbagai mitra kemanusiaan. Dalam operasi tersebut, pesawat angkut berat TNI AU dikerahkan untuk mengirimkan kebutuhan logistik ke sejumlah wilayah terdampak gempa di NTT. Pada Senin (17/8), sebanyak tiga penerbangan diberangkatkan dengan total muatan bantuan mencapai 40.567 kilogram (kg).
Penerbangan pertama menggunakan pesawat Hercules A-1328 dengan rute Halim Perdanakusuma (HLM) – Labuan Bajo (LBJ) – Halim Perdanakusuma (HLM). Pesawat tersebut mengangkut 13.504 kg logistik untuk mendukung pemenuhan kebutuhan darurat di wilayah barat NTT. Muatan terdiri atas paket sembako seberat 3.019 kg atau 549 koli dari Sekretariat Militer Presiden (Setmilpres), serta dua unit tenda rumah sakit lapangan dengan berat total 10.485 kg dari Pusat Krisis Kesehatan (Puskris). Bantuan tersebut ditujukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar sekaligus pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.
Selanjutnya, distribusi bantuan diarahkan ke wilayah tengah dan timur NTT melalui penerbangan kedua menggunakan Hercules A-1344 dengan rute Halim Perdanakusuma (HLM) – Maumere (MOF) – Halim Perdanakusuma (HLM). Pesawat tersebut membawa total 13.563 kg logistik. Muatan terbesar berupa 13.500 kg paket sembako dalam 2.454 koli dari Setmilpres. BNPB turut mengirimkan bantuan nonpangan berupa 200 potong kaos dengan berat 48 kg, sedangkan Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyumbangkan 15 kg obat-obatan dalam enam koli untuk mendukung kebutuhan kesehatan darurat di pengungsian.
Untuk melanjutkan pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak, penerbangan ketiga menggunakan Hercules A-1339 dengan rute Halim Perdanakusuma (HLM) – Labuan Bajo (LBJ) – Halim Perdanakusuma (HLM). Pesawat tersebut membawa 13.500 kg logistik yang terdiri atas 13.100 kg paket sembako dalam 2.380 koli dari Setmilpres dan 400 kg kornet kaleng dalam 40 koli dari Rumah Zakat. Bantuan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat terdampak, terutama di tengah keterbatasan akses pascagempa.
Tiga penerbangan tersebut merupakan bagian dari operasi distribusi logistik terpadu yang dilaksanakan melalui jalur udara dan laut. Posko Bantuan NTT di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma berfungsi sebagai pusat kendali yang menerima dan mengonsolidasikan bantuan dari berbagai sumber, termasuk lembaga dan organisasi kemanusiaan, pemerintah pusat dan daerah, serta pihak swasta. Melalui jalur udara, distribusi dilakukan dari Bandara Halim Perdanakusuma menuju Labuan Bajo dan Maumere. Sementara itu, distribusi melalui jalur laut dilakukan dari Pelabuhan Tanjung Priok menggunakan KRI menuju sejumlah pelabuhan di NTT, di antaranya Pelabuhan Laurentius di Maumere, Pelabuhan Soekarno-Hatta di Ende, dan Pelabuhan Reo di Manggarai.
Pelaksanaan operasi melalui berbagai moda transportasi tersebut terus diperkuat selama masa tanggap darurat. Dalam kurun waktu 15–17 Agustus 2026, tercatat tujuh sortie penerbangan yang memberangkatkan total 101.494 kg logistik. Operasi tersebut didukung oleh dua unit pesawat A-400M Atlas dan empat unit pesawat C-130 Hercules, serta armada KRI untuk distribusi melalui jalur laut.
Kelancaran seluruh rangkaian operasi tersebut didukung oleh personel gabungan yang bertugas di Pangkalan Aju Halim Perdanakusuma. Sebanyak 710 personel terlibat dalam pelaksanaan operasi, mulai dari penerimaan dan konsolidasi bantuan hingga proses pemuatan dan pemberangkatan logistik menuju wilayah terdampak.
BNPB mengimbau masyarakat dan mitra yang ingin menyalurkan bantuan untuk berkoordinasi dengan Koordinator Posko Halim guna menyinkronkan jadwal dan kebutuhan distribusi. Koordinasi tersebut diperlukan agar bantuan yang disalurkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat terdampak, baik dari sisi jenis, jumlah, waktu maupun moda transportasi, sehingga dapat tersalurkan secara efektif dan tepat sasaran. (*)












