SUMBAR

Barek Samo Dipikua, Ringan Samo Dijinjiang: Wujud Kemerdekaan Hakiki di Tengah Bencana Kota Padang

×

Barek Samo Dipikua, Ringan Samo Dijinjiang: Wujud Kemerdekaan Hakiki di Tengah Bencana Kota Padang

Sebarkan artikel ini

PADANG,HARIANHALUAN.ID— Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026 menjadi momentum untuk memaknai kemerdekaan tidak hanya melalui upacara dan perayaan, tetapi juga melalui kepedulian, solidaritas, dan semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Semangat tersebut diwujudkan oleh delapan orang pemuda asal Kota Padang melalui gerakan “Barek Samo Dipikua, Ringan Samo Dijinjiang”. Mereka menginisiasi aksi sosial berupa penggalangan donasi dan penyaluran bantuan kepada Panti Asuhan Puti Bungsu yang berada di kawasan Dadok Tunggul Hitam, Kota Padang.

Gerakan tersebut diinisiasi oleh Afif Permana Aztamurri, Rahman Karim dan Aditya Muhammad, tiga pemuda yang aktif sebagai penggiat sosial masyarakat yang mengajak rekan-rekannya melalui grup WhatsApp untuk bersama-sama mengumpulkan bantuan. 

Baca Juga  Kehadiran PLTS Dianggap Hanya akan Menambah Beban Lingkungan Danau Singkarak

Selain melibatkan pemuda yang berada di Kota Padang, gerakan ini juga mendapat dukungan dari sejumlah relasi yang berada di luar daerah, termasuk rekan yang bekerja di salah satu perusahaan BUMN, Pertamina.

Bantuan yang disalurkan berupa sejumlah peralatan memasak dan beberapa helai pakaian. Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi Panti Asuhan Puti Bungsu yang turut terdampak bencana banjir dan longsor yang terjadi di Kota Padang pada 3 Agustus 2026.

Panti Asuhan Puti Bungsu sendiri telah berdiri sejak 2008. Saat ini, terdapat 39 penghuni yang terdiri atas perempuan dan laki-laki dengan jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Bencana yang terjadi turut memberikan dampak terhadap aktivitas dan kebutuhan para penghuni panti.

Baca Juga  Kejati Sumbar Bagikan 350 Paket Sembako ke Panti Asuhan

Bagi para pemuda yang terlibat, aksi tersebut bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi juga menjadi cara untuk memaknai kemerdekaan secara lebih nyata. Kemerdekaan dianggap tidak hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dapat saling membantu dan memastikan setiap warga merasakan kepedulian serta manfaat dari kebersamaan.

Filosofi Minangkabau “Barek Samo Dipikua, Ringan Samo Dijinjiang” menjadi semangat utama dalam aksi tersebut. Ketika sebagian masyarakat menghadapi musibah, masyarakat lainnya hadir untuk membantu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.