Oleh Dr. H. Jufri Syahruddin
Tidaklah lengkap rasanya melancong ke kota Tokyo jika kita tidak mengenal tentang perjalanan Ibu Negara Jepang ini dari dulu sampai sekarang. Menurut data dan literatur yang penulis dapatkan, Tokyo memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan amat dramatis, bertransformasi dari sebuah desa nelayan kecil yang sepi menjadi salah satu megapolitan terbesar dan paling maju di dunia. Sejarahnya adalah kisah tentang ketahanan, kehancuran, dan pembangunan kembali yang luar biasa.
Riwayat kota Tokyo dimulai sejak masih bernama Edo dari 1603–1868. Pada tahun 1603, Tokugawa Ieyasu seorang Panglima Militer legendaris Jepang mendirikan Keshogunan Tokugawa. Meskipun kaisar tetap tinggal di Kyoto, pusat administrasi dan kekuatan politik berpindah ke Edo. Selama periode ini, Edo berkembang menjadi salah satu kota terbesar di dunia dengan populasi mencapai satu juta jiwa pada abad ke-18.
Semenjak maraknya urbanisasi, budaya khas Jepang seperti teater Kabuki, seni lukis Ukiyo-e, dan tradisi kuliner seperti Sushi mulai berkembang pesat.
Setelah kekuasaan Shogun runtuh, pada tahun 1868 Kaisar Meiji pindah dari Kyoto ke Istana Edo. Kota ini pun berganti nama menjadi Tokyo yang berarti “Ibu Kota Timur”. Pada masa ini Jepang mulai membuka diri terhadap dunia Barat. Jalur kereta api pertama mulai dibangun yang menghubungkan Shimbashi dan Yokohama, gedung-gedung bergaya Eropa muncul, dan Tokyo menjadi pusat modernisasi nasional Jepang.
Pada awal abad ke-20 tepatnya tahun 1912 merupakan masa paling menantang bagi Tokyo. Pada tahun 1923 terjadi gempa besar Kanto. Gempa dahsyat ini menghancurkan sebagian besar kota dan menelan lebih dari 140.000 jiwa tewas. Setelah itu, Tokyo dibangun kembali dengan tata kota yang lebih modern dan jalan yang lebih lebar.
Menjelang akhir Perang Dunia II yakni pada tahun 1945, Tokyo mengalami pengeboman udara hebat oleh sekutu. Kota ini luluh lantak dan hampir separuh kota rata dengan tanah.
Era 1945 – sekarang
Pasca Perang Dunia II, Tokyo menunjukkan kemampuan regenerasi yang mencengangkan. Hal ini bermula dari digelarnya Olimpiade 1964 di Tokyo. Ini adalah menjadi simbol kembalinya Jepang ke panggung internasional. Infrastruktur modern seperti kereta cepat Shinkansen dan jalan tol layang mulai diperkenalkan.
Tokyo terus melaju dan berkembang pesat menjadi pusat keuangan global dengan harga tanah yang meroket tajam. Memasuki abad ke-21, Tokyo berdiri sebagai pemimpin global dalam teknologi, mode, dan kuliner, sambil tetap mempertahankan situs bersejarah seperti Kuil Senso-ji dan Istana Kaisar.
Melihat sejarahnya, Tokyo adalah kota yang terus-menerus mendefinisikan ulang dirinya tanpa pernah melupakan akar tradisinya. Makanya sekarang Tokyo menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, dan kebudayaan Jepang yang menawarkan perpaduan antara sejarah kuno dan inovasi masa depan. Sebagai sebuah prefektur metropolis, Tokyo memiliki struktur wilayah yang unik yang terdiri dari 23 distrik khusus, wilayah penyangga, serta beberapa pulau terpencil.
Oleh karena itu, secara keseluruhan dengan 23 distrik tersebut Tokyo sekarang dikenal sebagai kawasan metropolitan terpadat di dunia dengan jumlah penduduk lebih dari 37 juta jiwa. Untuk kota Tokyo sendiri populasinya mencapai sekitar 14 juta jiwa lebih.












