Jabal Rahmah bermakna “Bukit Kasih” dalam bahasa Arab. Menurut tradisi Islam, bukit ini dianggap sebagai tempat di mana Nabi Adam dan Hawa bersatu setelah diusir dari surga. Bukit ini terletak di sebelah timur Padang Arafah dan memiliki tinggi sekitar 70 meter.
Nama Jabal Rahmah juga merujuk pada batu sebagai bahan utama semen yang dimaknai sebagai rahmat bagi umat manusia. Masjid ini mengusung konsep modern pada masanya, dengan fasilitas parkir yang luas, akses khusus bagi karyawan dari kawasan perusahaan, serta akses terbuka bagi masyarakat umum.
Dari sisi arsitektur, masjid ini memadukan nilai-nilai Islam dengan filosofi adat Minangkabau. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah yang berlandaskan lima Rukun Islam, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan sosial dan pembinaan keagamaan bagi karyawan maupun warga sekitar perusahaan.
Menurut Chairinal Chaidir, desain bangunan mencerminkan filosofi mendalam. Empat sudut menonjol pada struktur masjid melambangkan empat bacaan utama dalam Islam, yakni Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu Akbar. Filosofi ini sejalan dengan konsep “asal diri nan ampek” yang terdiri dari roh, jiwa, akal, dan jasad.
Nilai tersebut juga diperkaya dengan prinsip “kato nan ampek” dalam budaya Minangkabau, yakni pedoman etika komunikasi berdasarkan posisi lawan bicara: kato mandaki (kepada yang lebih tua atau dihormati), kato mandata (kepada sebaya), kato manurun (kepada yang lebih muda), dan kato malereang (kepada besan atau ipar).
“Prinsip ini menegaskan pentingnya harmoni sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu, lima kubah yang berdiri di atas masjid menjadi simbol lima Rukun Islam: mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan salat lima waktu, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu,” ujarnya.
Dengan perpaduan arsitektur, filosofi Islam, dan nilai adat Minangkabau, Masjid Raya Jabal Rahmah tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga ikon religius dan kultural di lingkungan PT Semen Padang—sekaligus menghadirkan kembali kenangan manis akan “Lorong Waktu” bagi para penggemarnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Masjid Raya Jabal Rahmah Semen Padang, Muhammad Thariq, menyampaikan bahwa selama Ramadan, Masjid Jabal Rahmah rutin menggelar kajian Subuh, Zuhur, dan Tarawih; kajian malam dengan menghadirkan berbagai ustaz di Kota Padang; i’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadan; serta kelas tahfiz ba’da Asar selama Ramadan.
“Kemudian juga ada kegiatan Pesantren Ramadan. Bahkan pada tahun lalu, Masjid Raya Jabal Rahmah Semen Padang meraih Juara I Pelaksanaan Pesantren Ramadan Terbaik Tingkat Kota Padang. Kami berharap tahun ini bisa kembali meraih penghargaan serupa,” kata Muhammad Thariq.












