Pada tahun yang sama, sekolah juga memperoleh bantuan hibah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk mendukung pendidikan siswa dari daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T). Program tersebut berjalan hingga 2019 sebelum akhirnya terhenti, karena bantuan pemerintah pusat dihentikan.
Setelah menjabat sebagai kepala sekolah di SMAN 1 Bukittinggi sekitar empat bulan lalu, Hernandar menggagas kembali pemanfaatan asrama yang selama ini tidak digunakan.
“Ide mengaktifkan kembali asrama muncul karena pengalaman saya saat menjadi Kepala SMA Cendekia Maninjau yang menerapkan sistem pendidikan berasrama,” ujarnya.
Saat ini, asrama memiliki kapasitas sebanyak 30 siswa putri. Dari sekitar 1.200 siswa SMAN 1 Bukittinggi, sebanyak 16 siswi telah menghuni asrama dan akan menjadi angkatan pertama sejak program tersebut kembali diaktifkan. (*)












