PADANG, HARIANHALUAN.ID — Pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana hidrometeologi di sejumlah daerah di Sumatera Barat (Sumbar) terus dikebut. Sebagian bahkan telah kembali ditanami.
Salah satunya terlihat di Korong Tanah Taban, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Lubuk Alung, yang kini kembali hijau setelah sebelumnya tertutup material sedimentasi akibat bencana banjir bandang yang melanda pada akhir 2025.
Tanaman padi yang sebelumnya ditanam secara serentak pada 13 Mei 2026 kini tumbuh subur dan telah memasuki usia sekitar tiga bulan lebih. Jika tidak ada kendala, tanaman padi diperkirakan mulai dipanen dalam waktu sekitar satu minggu.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman, Irawati Febriani mengatakan, pulihnya lahan di Tanah Taban menjadi salah satu bukti bahwa lahan pertanian yang terdampak bencana dapat kembali dimanfaatkan melalui penanganan yang tepat dan kolaboratif.
“Pemulihan lahan ini merupakan hasil kolaborasi pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman. Setelah lahan dipulihkan, kemudian dilakukan penanaman secara serentak,” ujar Irawati.
Menurut Irawati, pemulihan tidak hanya dilakukan pada kondisi fisik lahan, tetapi juga diarahkan untuk memastikan kebutuhan dasar pertanian, terutama ketersediaan air. Sebelum bencana, petani di kawasan tersebut masih mengandalkan sumur karena belum memiliki jaringan irigasi teknis.
Namun, bencana menyebabkan sumur tertimbun sedimentasi sehingga sumber air yang selama ini digunakan petani ikut terdampak. Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah memberikan bantuan irigasi perpompaan dan membangun jaringan irigasi tersier.
“Dengan adanya sarana irigasi ini, kami berharap ketersediaan air dapat lebih terjamin sehingga lahan tetap produktif dan petani dapat terus melakukan kegiatan budidaya,” katanya.
Salah seorang petani, Yusmanidar mengaku bersyukur karena sawah yang sempat tertutup material sedimentasi kini kembali menghasilkan. Kondisi tersebut menjadi angin segar bagi petani setelah sempat kehilangan kesempatan menggarap lahan akibat bencana.
Ia memperkirakan tanaman padi di lahannya dapat dipanen sekitar satu minggu lagi, apabila tidak terdapat kendala yang memengaruhi pertumbuhan tanaman. Meski demikian, petani masih menghadapi tantangan berupa ketersediaan air yang belum sepenuhnya stabil.
Saat ini, kebutuhan air sawah masih bergantung pada curah hujan dan penggunaan pompa. Pembangunan jaringan irigasi yang sedang dilakukan pemerintah diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang bagi petani.
1.263 Hektare Sawah Terdampak
Pemulihan di Tanah Taban menjadi bagian dari upaya lebih besar Pemkab Padang Pariaman dalam menangani lahan pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi pada akhir 2025.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman mencatat, bencana tersebut berdampak terhadap 1.263 hektare lahan sawah. Dari jumlah tersebut, 446 hektare mengalami kerusakan ringan, 238 hektare rusak sedang, 450 hektare rusak berat, sementara 100 hektare lainnya dinyatakan hilang.
Untuk lahan dengan kerusakan ringan, pemulihan dilakukan melalui Program Optimalisasi Lahan (OPLAH) seluas 446 hektare. Sementara dari 238 hektare lahan yang mengalami kerusakan sedang, sebanyak 198 hektare telah selesai direhabilitasi.
Dengan demikian, pemulihan masih berlanjut untuk sekitar 40 hektare lahan rusak sedang dan 450 hektare lahan rusak berat. Dari lahan tersebut, sebanyak 234 hektare telah diajukan kepada Kementerian Pertanian (Kementan) melalui program rehabilitasi refocusing dan saat ini memasuki tahapan verifikasi serta validasi lapangan.
Sementara itu, sekitar 256 hektare lahan rusak lainnya dan 100 hektare lahan yang dinyatakan hilang masih dalam proses pengusulan untuk mendapatkan dukungan penanganan lebih lanjut dari pemerintah pusat.
Irawati menegaskan, pemerintah daerah (pemda) akan terus mendorong percepatan pemulihan lahan terdampak bencana. Penanganan tidak hanya menyasar rehabilitasi lahan, tetapi juga mencakup perbaikan irigasi dan dukungan sarana produksi pertanian.
“Target kami bukan hanya membuat lahan kembali bisa ditanami, tetapi memastikan lahan tersebut dapat kembali produktif dan memberikan manfaat bagi petani secara berkelanjutan,” ujarnya.
Sudah 100 Persen
Di Kabupaten Agam, pemulihan lahan pertanian juga dikebut melalui program rehabilitasi sawah seluas 311 hektare pada 2026. Lahan tersebut merupakan area yang terdampak bencana hidrometeorologi yang melanda daerah itu pada akhir 2025 lalu. Proses rehabilitasi 311 hektare sawah tersebut telah mencapai 100 persen. Pekerjaan dilakukan secara swakelola dengan melibatkan 20 kelompok tani.
Kepala Dinas Pertanian Agam, Heri Prasetyo Wibowo mengatakan, Program rehabilitasi tersebut merupakan bagian dari upaya mempercepat pemulihan lahan persawahan yang terdampak bencana hidrometeorologi.
Melalui program rehabilitasi sawah dan optimalisasi lahan yang dialokasikan Kementan, lahan persawahan yang terdampak bencana diharapkan dapat kembali diolah dan ditanami.
“Ini merupakan komitmen dari kita untuk segera menyelesaikan seluruh proses perbaikan dan pemulihan lahan sawah, sebagai bagian dari upaya menjaga ekonomi masyarakat dan memantapkan ketahanan pangan,” katanya.
Selain rehabilitasi sawah, terdapat pula program optimalisasi lahan yang difokuskan pada perbaikan infrastruktur pendukung pertanian, seperti irigasi perpompaan, irigasi tersier, dam parit, dan infrastruktur lainnya.
Sementara itu, di Kabupaten Solok, total dukungan anggaran yang diarahkan untuk pemulihan sektor pertanian mencapai Rp54,78 miliar, yang berasal dari APBN dan APBD Kabupaten Solok. Salah satu program utama adalah optimasi lahan sawah terdampak bencana seluas 1.247 hektare, dengan dukungan APBN sebesar Rp5,73 miliar. Selain itu, 253 hektare lahan sawah direhabilitasi dengan anggaran Rp3,41 miliar. Pemkab Solok juga mendapatkan dukungan APBN sebesar Rp23,39 miliar, untuk optimasi lahan nonrawa seluas 5.086 hektare. (*)












