Oleh : Dr. Yulihasri.SE.MBA.CHRM (Dosen FEB UNAND/Rektor ITB HAS Bukittinggi)
Beberapa hari yang lalu, kawasan Gedung DPR/MPR RI di Senayan kembali menjadi panggung suara rakyat. Namun yang menarik bukan hanya tuntutan yang dibawa, melainkan betapa berbedanya wajah massa yang berkumpul di titik yang sama. Warga Pati datang jauh-jauh membawa desakan pengesahan RUU Perampasan Aset, warga Depok menuntut hal yang berbeda, mahasiswa dari belasan organisasi turun dengan sepuluh tuntutan sekaligus, sementara di sisi lain berdiri kelompok relawan yang justru datang untuk menyatakan dukungan terhadap program pemerintah. Aksi yang semula diramalkan berpotensi memanas itu pada akhirnya berjalan relatif tertib massa Pati membubarkan diri usai audiensi, tongkat estafet aksi berpindah ke tangan mahasiswa dan hanya segelintir individu yang diamankan aparat karena membawa senjata tajam, bukan karena kerusuhan massal.
Potret ini menyingkap sesuatu yang lebih dalam dari sekadar berita hari itu: dalam satu ruang dan waktu yang sama, ribuan orang dengan motif yang bahkan saling berseberangan bisa berkumpul, berteriak, bernegosiasi, lalu bubar tanpa satu komando tunggal yang mengatur semuanya. Bagaimana itu bisa terjadi? Jawabannya tidak melulu ada di ranah politik atau hukum, melainkan di ranah yang jauh lebih klasik: perilaku manusia itu sendiri.
Setiap kali jalanan dipenuhi spanduk, orasi dan yel-yel massa, perhatian publik hampir selalu tertuju pada tuntutan yang dibawa: kebijakan yang ditolak, keadilan yang diminta, atau perubahan yang didesak. Media memberitakan angka massa, jalur yang macet dan pernyataan pejabat. Namun ada satu dimensi yang jarang dibahas secara serius: bahwa demonstrasi, pada akarnya, adalah peristiwa perilaku manusia. Ia bukan sekadar fenomena politik atau hukum, melainkan juga fenomena psikologis yang melibatkan cara manusia berpikir, merasa dan bertindak ketika berada dalam kelompok.
Beda Individu dan Massa
Ilmu perilaku telah lama menunjukkan bahwa cara seseorang bertindak sendirian berbeda jauh dari caranya bertindak ketika berada di tengah kerumunan. Ketika seseorang bergabung dalam massa yang besar, terjadi proses yang oleh para peneliti perilaku sosial disebut deindividuasi hilangnya sebagian rasa identitas pribadi karena melebur ke dalam identitas kelompok. Dalam kondisi ini, norma-norma sosial yang biasanya membatasi perilaku individu dapat melemah, digantikan oleh norma kelompok yang terbentuk secara spontan di lapangan.
Inilah salah satu alasan mengapa demonstrasi yang diawali dengan niat damai kadang bisa berubah arah. Bukan berarti pesertanya secara individu adalah orang-orang yang secara alami cenderung berbuat rusuh, melainkan karena dinamika kelompok memiliki logikanya sendiri. Ketika satu-dua orang mulai bertindak agresif dan tidak ada sinyal sosial yang jelas untuk menahan, perilaku tersebut bisa menyebar cepat sebuah proses yang dalam kajian perilaku organisasi maupun sosial dikenal sebagai penularan sosial (social contagion).
Identitas Kelompok sebagai Bahan Bakar
Selain deindividuasi, ada faktor lain yang mendasari perilaku manusia dalam demonstrasi: kebutuhan akan identitas sosial. Manusia secara alami mencari kelompok yang bisa memberi rasa memiliki, terutama ketika merasa terancam atau tidak didengar oleh sistem yang lebih besar. Ketika seseorang bergabung dalam aksi massa yang membawa isu yang ia yakini benar, ia tidak hanya menyuarakan pendapat, tetapi juga menegaskan siapa dirinya dan kelompok mana yang ia bela.
Fenomena ini menjelaskan mengapa demonstrasi sering kali memicu polarisasi yang tajam. Begitu seseorang mengidentifikasi diri dengan satu pihak baik itu kelompok pendemo, aparat, maupun pihak yang dituntut ia cenderung menilai peristiwa melalui kacamata kelompoknya sendiri. Informasi yang sesuai dengan keyakinan kelompok akan lebih mudah diterima, sementara informasi yang bertentangan cenderung ditolak atau diragukan. Proses ini dikenal luas dalam kajian perilaku sebagai bias konfirmasi kelompok dan ia berperan besar dalam memperkeruh narasi publik setelah sebuah aksi berlangsung.
Emosi Kolektif
Demonstrasi juga merupakan panggung bagi emosi kolektif kemarahan, kekecewaan, harapan, bahkan solidaritas yang dirasakan bersama oleh ribuan orang dalam waktu yang sama. Emosi semacam ini memiliki daya dorong yang jauh lebih kuat dibanding emosi individual, karena ia diperkuat oleh kehadiran orang lain yang merasakan hal serupa. Suara yel-yel yang menggema, tatapan mata yang saling menguatkan dan rasa senasib yang terbangun di lapangan menciptakan energi kolektif yang bisa menjadi kekuatan pendorong perubahan sosial, tetapi juga bisa menjadi pemicu tindakan anarki bila tidak dikelola dengan baik.
Di sinilah pentingnya peran pemimpin aksi dan aparat keamanan yang memahami dinamika perilaku manusia, bukan sekadar prosedur pengamanan. Pemimpin aksi yang mampu menjaga arah emosi massa mengarahkan kemarahan menjadi tuntutan yang terstruktur, bukan kekacauan akan jauh lebih efektif dalam mencapai tujuan advokasinya.
Belajar dari Perilaku
Memahami demonstrasi sebagai fenomena perilaku manusia bukan berarti mengabaikan substansi tuntutan yang dibawa massa. Justru sebaliknya, pemahaman ini membantu kita melihat persoalan secara lebih utuh. Pemerintah, aparat, akademisi, maupun masyarakat umum perlu menyadari bahwa setiap aksi massa adalah hasil dari akumulasi rasa tidak puas yang, jika tidak disalurkan melalui saluran komunikasi yang sehat, akan mencari jalan keluarnya sendiri melalui aksi kolektif di jalanan.
Pendekatan yang hanya berfokus pada pengendalian fisik massa, tanpa memahami akar psikologis dan sosial di baliknya, cenderung menghasilkan solusi jangka pendek yang tidak menyentuh akar masalah. Sebaliknya, pendekatan yang memperhitungkan perilaku manusia bagaimana kebutuhan akan didengar, rasa keadilan dan identitas kelompok bekerja akan lebih mungkin melahirkan dialog yang produktif antara pemerintah dan masyarakat.
Demonstrasi akan terus menjadi bagian dari kehidupan berdemokrasi, karena ia adalah salah satu bentuk paling nyata dari suara rakyat yang ingin didengar. Namun di balik setiap barisan massa, sesungguhnya tersimpan cerita tentang bagaimana manusia berperilaku ketika berkumpul: tentang identitas yang dipertahankan, emosi yang dibagi Bersama dan kebutuhan mendasar untuk merasa dianggap. Memahami sisi ini bukan untuk membenarkan atau menyalahkan salah satu pihak, melainkan untuk membangun cara pandang yang lebih manusiawi dalam menyikapi setiap gejolak sosial yang muncul di jalanan. Pada akhirnya, di balik setiap demonstrasi, yang berbicara bukan hanya tuntutan yang tertulis di spanduk, tetapi juga perilaku manusia yang ingin dipahami. (*)












