BUKITTINGGI, HARIANHALUAN.ID — MAN 2 Kota Bukittinggi memperkuat pelaksanaan program Madrasah Inklusi dan Ramah Anak melalui sosialisasi kepada seluruh guru pada Jumat (25/9) lalu.
Kegiatan tersebut dilakukan untuk membangun pemahaman dan komitmen bersama dalam menciptakan layanan pendidikan yang ramah, adil, dan mampu mengakomodasi keberagaman kebutuhan murid.
Kepala MAN 2 Kota Bukittinggi, Amri J, didampingi Wakil Kepala Madrasah, membuka dan mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut. Kegiatan ini merupakan bagian dari tindak lanjut setelah MAN 2 Kota Bukittinggi memperoleh Surat Keputusan (SK) sebagai madrasah inklusi dan ramah anak pada 2025.
Dalam kegiatan tersebut, guru diberikan pemahaman mengenai penyelenggaraan pendidikan inklusif, termasuk pentingnya memberikan kesempatan belajar yang setara kepada seluruh murid sesuai dengan kebutuhan, karakter, dan potensi masing-masing.
Sementara itu Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum sekaligus Koordinator Tim Inklusi MAN 2 Kota Bukittinggi, Murni Dian Rahmawati, mengatakan pemahaman terhadap konsep pendidikan inklusi menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan madrasah yang mampu menerima keberagaman.
“Program inklusi di madrasah sangat penting untuk membangun masyarakat yang adil sejak dini, karena memberikan hak pendidikan yang sama bagi setiap anak dan melatih empati murid non-ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) agar dapat hidup berdampingan dalam keberagaman,” ujarnya.
Ia juga menilai pemahaman orang tua mengenai konsep inklusi dan disabilitas perlu diperkuat. Hal tersebut penting agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berpotensi menimbulkan stigma negatif terhadap murid berkebutuhan khusus di lingkungan madrasah.
Kepala MAN 2 Kota Bukittinggi, Amri J, menekankan keberhasilan program Madrasah Inklusi tidak hanya bergantung pada tim khusus, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh guru.
“Setiap guru diharapkan mampu menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman, menghargai keberagaman karakter dan kemampuan murid, serta memberikan pendampingan yang tepat agar setiap murid dapat berkembang secara optimal,” ujarnya.
Menurut Amri, lingkungan pembelajaran yang inklusif perlu dibangun melalui sikap saling menghargai dan kepedulian terhadap kebutuhan setiap murid.
Dengan demikian, madrasah dapat memberikan ruang yang sama bagi seluruh murid untuk mengikuti proses pembelajaran dan mengembangkan potensinya.
Melalui sosialisasi tersebut, MAN 2 Kota Bukittinggi terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan madrasah yang inklusif dan ramah anak.
Sinergi antara pimpinan madrasah, tim inklusi, dan seluruh guru diharapkan mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada setiap murid untuk tumbuh, berkembang, dan meraih potensi terbaiknya.(h/ril)












