TANAH DATAR, harianhaluan-id – Semangat menjaga kelestarian alam berpadu dengan ajaran agama di lingkungan MAN 1 Tanah Datar. Dipimpin Ketua OSIM, Fajar, bersama segenap pengurus penuh semangat.
Dengan pendampingan Wakil Kesiswaan, Nofrizal SPd.I bersama‑sama mereka melaksanakan gerakan kreatif memanfaatkan barang‑barang bekas menjadi benda bernilai guna tinggi.
Di bawah bimbingan Nofrizal dan pengurus OSIM, Fajar mengajak teman‑teman mengumpulkan berbagai jenis limbah yang masih bisa didayagunakan : botol minuman, kaleng, kertas bekas, hingga potongan kain dan plastik kemasan. Barang‑barang yang sering dianggap sampah ini kemudian disulap menjadi pot tanaman, kotak penyimpanan, hiasan dinding, hingga alat peraga pembelajaran yang menarik dan bermanfaat.
“Kami belajar bahwa menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan adalah bagian dari ibadah. Allah menciptakan alam semesta seimbang, dan tugas kami sebagai khalifah adalah menjaganya agar tidak rusak. Mengolah barang bekas adalah cara sederhana mengurangi kerusakan sekaligus melatih kreativitas,” kata Fajar, Rabu (17/6/26).
Nofrizal menambahkan, kegiatan ini dirancang agar peserta tidak hanya terampil mengolah barang, tetapi juga memahami makna di baliknya.
“Kami ingin menanamkan kebiasaan memilah dan menghargai setiap ciptaan. Semangat ekoteologi harus tumbuh alami lewat karya nyata, sehingga menjadi karakter yang terbawa hingga dewasa,” jelasnya saat mendampingi proses pembuatan.
Kegiatan berlangsung secara berkelompok, melibatkan murid dari berbagai jenjang kelas. Di sana terjalin kerja sama, saling berbagi ide, dan kebersamaan yang menguatkan persaudaraan. Hasil karya yang sudah jadi kemudian dipajang di sudut‑sudut madrasah, dijadikan perlengkapan kelas, maupun disumbangkan untuk kegiatan sosial. Hal ini membuktikan bahwa sampah yang diolah dengan kasih bisa membawa manfaat luas bagi banyak orang.
Kepala MAN 1 Tanah Datar, Rika Maria, mengapresiasi inisiatif dan pendampingan yang berjalan baik. Gerakan tersebut mendukung visi madrasah menerapkan kepemimpinan berlandaskan ekoteologi.
“Anak‑anak belajar bahwa nilai keindahan dan kegunaan tidak harus selalu dibeli. Mereka diajak merenung: setiap benda adalah amanah Tuhan yang harus dimanfaatkan sebaik‑baiknya,” jelasnya.
Manfaat yang dirasakan pun nyata. Lingkungan madrasah menjadi lebih bersih dan asri karena sampah berkurang jumlahnya. Murid terbiasa memilah dan mengumpulkan barang bekas, serta tumbuh rasa bangga saat melihat hasil karya sendiri terpakai kembali. Nilai hemat, kreatif, dan bertanggung jawab melekat kuat dalam diri setiap anak.
Gerakan ini direncanakan akan terus berlanjut secara rutin, bahkan dikembangkan menjadi lomba karya daur ulang setiap tahunnya. Fajar dan pengurus OSIM, bersama Nofrizal, berniat mengajak siswa di madrasah dan sekolah sekitar untuk turut serta, menyebarkan semangat ekoteologi lebih luas ke tengah masyarakat. (humas).






