HEADLINEEkBis

Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Triwulan I 2026, Perbaikan Riil Mulai Nampak, Tapi Fondasi Masih Rapuh

×

Pertumbuhan Ekonomi Sumbar Triwulan I 2026, Perbaikan Riil Mulai Nampak, Tapi Fondasi Masih Rapuh

Sebarkan artikel ini

PADANG, HARIANHALUAN.ID — Ekonom Universitas Andalas (Unand), Prof. Syafruddin Karimi memandang pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat (Sumbar) sebesar 5,02 persen year on year (y-on-y) pada triwulan I tahun 2026 mencerminkan perbaikan riil dalam aktivitas ekonomi di daerah. Namun, di balik capaian itu, menurutnya masih tersimpan pekerjaan rumah besar terkait kualitas dan daya tahan pertumbuhan.
“Angka 5,02 persen ini mencerminkan perbaikan riil, karena ditopang ekspansi di banyak sektor dan komponen pengeluaran. Tapi, kualitasnya masih perlu diperkuat,” ujarnya kepada Haluan, Rabu (6/5).

Dari sisi produksi, ia melihat hampir semua sektor menunjukkan geliat positif. Sektor akomodasi dan makan minum tumbuh 17,77 persen, diikuti jasa lainnya 9,10 persen, jasa keuangan 7,94 persen, perdagangan 6,11 persen hingga industri pengolahan 5,05 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan didorong oleh ekspor barang dan jasa sebesar 15,24 persen, konsumsi pemerintah 14,77 persen, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) 7,64 persen, dan konsumsi rumah tangga 3,11 persen.

“Struktur dorongan ini menunjukkan pemulihan yang cukup luas. Artinya, ekonomi Sumbar tidak hanya bergerak di satu sektor, tapi mulai menyebar,” katanya.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kesehatan ekonomi Sumbar belum bisa dinilai sepenuhnya sempurna karena adanya lonjakan impor sebesar 20,14 persen, termasuk juga kontraksi sektor konstruksi sebesar 2,05 persen quarter to quarter (q-to-q) serta struktur ekonomi yang masih bertumpu pada sektor lama.

Menurut Guru Besar Ekonomi Pembangunan Unand ini, pertumbuhan ekonomi baru bisa disebut berkualitas jika mampu menciptakan nilai tambah tinggi, memperluas lapangan kerja produktif, serta memperkuat investasi dan ekspor bersih.

Pada triwulan I 2026, menurutnya, sejumlah tanda positif memang mulai terlihat. Industri pengolahan tumbuh 5,05 persen, perdagangan menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar PMTB meningkat, dan ekspor menunjukkan kinerja kuat. “Ini menunjukkan energi ekonomi yang mulai lebih beragam,” ujarnya.

Baca Juga  Berkah Ramadan dari Menara Agung, Motor Listrik Honda Mulai Rp17 Juta-an Saja dan Bonus Charging

Namun, ia menilai fondasi pertumbuhan masih rapuh. Konsumsi rumah tangga tetap mendominasi dengan porsi 51,84 persen, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi 22,03 persen, sementara impor tumbuh lebih cepat dibanding ekspor.

“Artinya, pertumbuhan ini belum sepenuhnya berkualitas. Baru bergerak ke arah yang lebih baik, tapi belum cukup kuat untuk disebut matang,” ujarnya.

Selama ini, ia menambahkan, struktur ekonomi Sumbar memang masih didominasi oleh sektor pertanian. Di mana sektor ini menjadi jangkar produksi dan pendapatan rumah tangga dengan kontribusi terbesar dan sumber pertumbuhan signifikan. Namun di sisi lain, dominasi yang terlalu lama justru menjadi sinyal lambatnya transformasi ekonomi.

“Daerah yang naik kelas itu memperbesar peran industri pengolahan dan jasa modern, tanpa memutus basis agrarisnya. Sumbar tidak perlu meninggalkan pertanian, tapi harus mengolahnya menjadi sumber nilai tambah,” kata Prof. Syafruddin.

Ia menekankan pentingnya hilirisasi menghubungkan pertanian dengan industri pangan, logistik, kuliner, hingga pariwisata. “Kalau tidak, pertanian bisa berubah dari kekuatan menjadi tanda stagnasi,” katanya.

Terkait lonjakan sektor akomodasi dan makan minum, ia memandang hal itu lebih mencerminkan pemulihan sektor pariwisata dan mobilitas ekonomi dibanding sekadar efek program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah.

Hal ini diperkuat dengan pertumbuhan sektor transportasi, perdagangan, serta konsumsi rumah tangga secara triwulanan.

“Kombinasi ini menunjukkan peningkatan pergerakan orang, belanja, dan aktivitas jasa. Ini pola khas kebangkitan pariwisata, termasuk MICE dan perjalanan domestik,” ujarnya.

Lebih jauh, Prof. Syafruddin juga menyoroti dominasi konsumsi rumah tangga sebagai pedang bermata dua. Dalam jangka pendek, konsumsi menjadi penopang stabilitas ekonomi.

Akan tetapi, dalam jangka panjang ketergantungan ini bisa menjadi sumber kerentanan. “Kalau pertumbuhan terlalu bergantung pada konsumsi, sementara investasi belum kuat dan impor tinggi, ekonomi akan mudah kehilangan tenaga saat daya beli melemah,” katanya.

Baca Juga  Telin dan Radius Perkuat Kolaborasi untuk Tingkatkan Konektivitas Digital di Filipina dan Wilayah Sekitarnya

Ia juga menyatakan kontraksi sektor konstruksi secara triwulanan sebagai peringatan dini.

Meski secara tahunan masih tumbuh, penurunan ini menunjukkan ekspansi kapasitas ekonomi belum stabil. “Kalau ini berlanjut, risikonya adalah perlambatan investasi dan tertahannya proyek produktif,” ujarnya.
Dengan kontribusi hanya 6,83 persen terhadap ekonomi Sumatera dan sekitar 1,5 persen terhadap nasional ia menilai posisi Sumbar masih belum kuat secara regional.

“Masalahnya bukan hanya ukuran ekonomi, tapi struktur yang masih berat di sektor primer dan lemahnya industrialisasi,” katanya.

Meski demikian, ia menilai posisi Sumbar di peringkat keempat pertumbuhan ekonomi Sumatera masih realistis, namun belum cukup ambisius. “Sumbar tidak boleh puas di papan tengah. Potensinya besar untuk naik kelas,” tuturnya.

Untuk memacu pertumbuhan ekonomi Sumbar yang lebih berkualitas dan berkelanjutan, Prof Syafruddin mendorong pemerintah daerah (pemda) untuk memperkuat investasi produktif, mendorong industri pengolahan dan hilirisasi, serta membenahi logistik dan konektivitas.

Langkah itu perlu diikuti dengan langkah kongkrit untuk menjaga konsumsi tanpa ketergantungan berlebih. Termasuk meningkatkan ekspor dan menekan impor serta menghubungkan pertumbuhan dengan ekonomi rakyat.

“Kalau ini dijalankan, pertumbuhan tidak hanya terlihat di angka, tapi benar-benar terasa dalam kehidupan masyarakat,” katanya.

Ke depan, Prof. Syafruddin memproyeksikan ekonomi Sumbar tetap tumbuh positif, namun dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Risiko utama datang dari pelemahan nilai tukar rupiah, tekanan geopolitik global, serta potensi perlambatan ekonomi nasional.

“Impor yang tinggi akan makin mahal saat rupiah melemah. Ini harus diantisipasi dengan memperkuat produksi domestik,” ujarnya.

Ia menegaskan, jika Sumbar mampu menjaga inflasi, memperkuat sektor pertanian, dan meningkatkan nilai tambah dari perdagangan serta pariwisata, maka peluang mempertahankan pertumbuhan tetap terbuka. “Modal awal sudah ada. Tinggal bagaimana memperkuat fondasinya agar tidak mudah goyah,” tuturnya. (*)