Tiga Spirit Keteladanan Nabi Ibrahim AS
Sementara itu, Ustaz Andriyaldi dalam khutbahnya yang berjudul “Tiga Spirit Keteladanan Nabi Ibrahim AS” menyampaikan tiga nilai utama keteladanan Nabi Ibrahim.
Pertama, uswah atau teladan dalam menjelmakan hakikat tauhid yang sesungguhnya. Ia menjelaskan bahwa tauhid merupakan fondasi utama dalam Islam yang berimplikasi bahwa hanya Allah SWT yang berhak disembah dan hanya kepada-Nya manusia memohon pertolongan.
“Konsep ini secara tegas tercantum dalam kalimat syahadat dan terangkum dalam Al-Qur’an Surah Al-Fatihah ayat 5, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ yang berarti ‘Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan’,” katanya.
Kedua, uswah dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Menurutnya, Nabi Ibrahim AS merupakan salah satu nabi yang mendapatkan julukan mulia karena ketabahan dan ketaatannya dalam menghadapi ujian Allah SWT, mulai dari dibakar, diusir, tidak memiliki keturunan selama 86 tahun, membangun Ka’bah, hingga diperintahkan menyembelih anaknya sendiri.
“Kisah Nabi Ibrahim AS adalah potret hamba yang totalitas dalam kepasrahan kepada Allah SWT. Karena itu, Nabi Ibrahim AS dijuluki Imam atau Ummah (pemimpin), Uswah (teladan), Khalilullah (kekasih Allah), dan Ulul Azmi (nabi dengan keteguhan hati tinggi),” ujarnya.
Ketiga, sosok pribadi visioner. Nabi Ibrahim AS, kata Ustaz Andriyaldi, merupakan sosok yang memikirkan generasi berikutnya. Kepeduliannya tidak hanya sebatas materi, tetapi juga mencakup aspek spiritual, fisik, intelektual, hingga sosial yang diwariskan kepada keturunannya.
Nabi Ibrahim mendidik keturunannya dengan cara yang demokratis dan penuh kasih sayang, bukan secara otoriter. Ia juga senantiasa berdoa agar keturunannya menyembah Allah SWT, bukan berhala. Kepedulian Nabi Ibrahim bahkan melampaui zamannya sendiri, termasuk mendoakan kehadiran Nabi Muhammad SAW sebagai keturunannya yang akan membawa pencerahan bagi generasi setelahnya.
“Kemudian, Nabi Ibrahim juga berdoa untuk keturunannya sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 40 yang artinya, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku’,” katanya. (*)












