KAB. LIMAPULUH KOTA

41 Bencana Terjadi dalam Enam Bulan, Pemkab Lima Puluh Kota Minta Nagari Aktifkan Kembali KSB

×

41 Bencana Terjadi dalam Enam Bulan, Pemkab Lima Puluh Kota Minta Nagari Aktifkan Kembali KSB

Sebarkan artikel ini
KSB

LIMA PULUH KOTA, HARIANHALUAN.ID – Rentetan bencana yang terus melanda Kabupaten Lima Puluh Kota sepanjang semester pertama 2026 menjadi alarm bagi pemerintah daerah. Dalam enam bulan, sedikitnya 41 kejadian bencana tercatat terjadi di berbagai kecamatan. Kondisi itu mendorong Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota mengajak seluruh pemerintah nagari segera mengaktifkan kembali Kelompok Siaga Bencana (KSB) yang selama ini banyak tidak lagi berfungsi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lima Puluh Kota, Zaimar Hakim, mengatakan keberadaan KSB memiliki peran vital sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan, mitigasi, hingga penanganan awal saat bencana terjadi di tingkat nagari.

“KSB sebenarnya sudah terbentuk di setiap nagari. Namun, saat ini banyak yang vakum sehingga perlu dilakukan penyegaran, terutama peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar kembali aktif menjalankan fungsinya,” ujar Zaimar saat ditemui di Kantor BPBD Kabupaten Lima Puluh Kota, Kamis (9/7/2026).

Baca Juga  Satgas PKH Temukan Perusakan Hutan Konservasi di Lima Puluh Kota

Menurutnya, keterlibatan masyarakat melalui KSB menjadi salah satu faktor penting dalam menekan risiko bencana. Pasalnya, kelompok tersebut merupakan unsur pertama yang berada di lokasi ketika bencana terjadi, jauh sebelum bantuan pemerintah tiba.

“Kami berharap pemerintah nagari memberikan perhatian terhadap keberadaan KSB. Jangan hanya dibentuk, tetapi juga terus dibina, dilatih, dan diaktifkan kembali sehingga mampu menjadi ujung tombak kesiapsiagaan bencana di tingkat nagari,” katanya.

Data BPBD mencatat, sejak Januari hingga akhir Juni 2026 terdapat 41 kejadian bencana yang ditangani di Kabupaten Lima Puluh Kota. Bencana didominasi tanah longsor, banjir, dan cuaca ekstrem yang menyebabkan pohon tumbang di sejumlah wilayah.

Kecamatan Situjuah Limo Nagari menjadi salah satu daerah dengan intensitas bencana tertinggi, meliputi tanah longsor, banjir, dan cuaca ekstrem. Sementara Kecamatan Harau menghadapi banjir, cuaca ekstrem, hingga kebakaran hutan dan lahan.

Baca Juga  Panen Raya, Gempita Sumbar Dorong Pemerintah Daerah Serius Manfaatkan Lahan Terlantar

Selain itu, banjir dan cuaca ekstrem juga terjadi di Kecamatan Mungka. Kecamatan Guguak, Suliki, dan Payakumbuh dilanda cuaca ekstrem, sedangkan Kecamatan Lareh Sago Halaban dan Luak mengalami banjir. Adapun tanah longsor tercatat terjadi di Kecamatan Gunuang Omeh, Akabiluru, dan Bukit Barisan.

Melihat tingginya ancaman tersebut, BPBD terus menggencarkan berbagai langkah mitigasi melalui sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar lebih memahami cara menghadapi potensi bencana sesuai karakteristik wilayah masing-masing.

Selain meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, BPBD juga terus mendorong kolaborasi dengan pemerintah nagari untuk menghidupkan kembali KSB melalui penyegaran organisasi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

“Dengan SDM yang terlatih dan organisasi yang aktif, KSB diharapkan mampu mempercepat penyampaian informasi, melakukan evakuasi awal, hingga meminimalkan risiko korban maupun kerugian ketika bencana terjadi,” ujar Zaimar.