HEADLINE

Catatan Perjalanan ke Negeri Sakura Jepang (Bagian 9) : Praktik Beragama Orang Jepang Unik dan Sinkretisme

×

Catatan Perjalanan ke Negeri Sakura Jepang (Bagian 9) : Praktik Beragama Orang Jepang Unik dan Sinkretisme

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. H. Jufri Syahruddin

Tidak lengkap kiranya kalau sudah ke Jepang tidak menyingkap kehidupan religius masyarakatnya. Ternyata kehidupan beragama orang Jepang memiliki karakteristik yang sangat unik dan sering kali dianggap paradoks oleh pengamat luar. Secara umum, masyarakat Jepang mempraktikkan apa yang sering disebut sebagai sinkretisme yaitu perpaduan harmonis antara beberapa kepercayaan tanpa merasa ada konflik di antaranya.

Orang Jepang umumnya mempraktikkan konsep kehidupan beragama gabungan Shinto dan Buddha yaitu konsep Shinto di kelahiran dan konsep Buddha di kematian.
​
Bagi mayoritas orang Jepang, agama bukanlah identitas tunggal yang eksklusif, melainkan serangkaian tradisi yang dilakukan sesuai dengan fase kehidupan.

​Shinto digunakan untuk merayakan kehidupan, kesuburan, dan alam. Bayi yang baru lahir dibawa ke kuil Shinto (Jinja), dan upacara pernikahan sering kali dilakukan dengan ritual Shinto. Buddha lebih fokus pada urusan akhirat dan penghormatan leluhur. Hampir seluruh upacara pemakaman di Jepang dilakukan secara Buddhis.

Baca Juga  Puluhan Perangkat Daerah Ajukan Surat Penolakan Pj Wali Kota, DPRD Kota Pariaman Adakan Rapat

​Agama sebagai Budaya dan Tradisi (Gyoja)

​
Banyak orang Jepang yang mengaku “tidak beragama” (mushukyo) dalam pengertian teologis formal, namun mereka tetap menjalankan ritual keagamaan sebagai bagian dari adat istiadat sosial. Mereka melakukan Hatsumode yaitu kunjungan pertama ke kuil pada tahun baru untuk berdoa memohon keberuntungan. Selain itu, mereka mengadakan
​Matsuri yakni festival lokal yang biasanya berakar pada tradisi Shinto untuk menghormati dewa/spirit setempat.
​
Di Jepang juga ada tradisi Obon yang merupakan tradisi musim panas untuk menyambut kembali arwah leluhur ke rumah.
​
Hal yang unik adalah terdapatnya sinkretisme yang harmonis. Kita sangat umum menemukan sebuah rumah tangga yang memiliki dua altar sekaligus yakni Kamidana dan Butsudan.
​Kamidana adalah rak dewa Shinto untuk perlindungan rumah sedangkan Butsudan merupakan altar Buddha untuk mengenang anggota keluarga yang sudah meninggal.

Baca Juga  Kerja Sama BRIN, KDEKS, PT XREI, Akselerasi Industri Halal di Ranah Minang

Bagi mereka, kedua hal ini tidak saling bertentangan melainkan saling melengkapi dalam menjaga keseimbangan spiritual keluarga.
​
Orang Jepang juga memiliki etika kerja dan nilai-nilai Konfusianisme.

Meskipun bukan “agama” dalam pengertian ibadah, ajaran Konfusianisme sangat memengaruhi struktur sosial Jepang. Penghormatan kepada orang tua dan senior serta kedisiplinan sangat tinggi nilainya bagi mereka. Bagi orang Jepang harmoni kelompok berada di atas kepentingan pribadi.
​
Akan tetapi, meskipun didominasi Shinto dan Buddha, Jepang juga memiliki komunitas minoritas seperti agama Kristen. Menariknya, tradisi Kristen seperti perayaan Natal dan pernikahan bergaya Barat sangat populer di kalangan masyarakat umum, meski hanya sebagai tren gaya hidup.

​Secara umum kehidupan beragama di Jepang lebih bersifat praktis dan ritualistik daripada doktrinal. Fokusnya adalah pada keharmonisan dengan alam, penghormatan kepada leluhur, dan menjaga keteraturan sosial di dunia saat ini. (Bersambung)