JAKARTA, HARIANHALUAN.ID – Anggota DPR RI periode 2019-2024 Guspardi Gaus meluncurkan tujuh buku pada peringatan ulang tahunnya yang ke-70, di Ruang Delegasi MPR-RI, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (10/6).
Hadir pada kesempatan tersebut sejumlah tokoh nasional, seperti Ketua Umum PAN, yang juga Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas), Wakil Ketua MPR RI Edy Soeparno, Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda, anggota DPD RI Irman Gusman, tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin dan Anwar Abbas, serta sejumlah anggota DPR RI.
Zulkifli Hasan sebagai pembicara kunci pada kesempatan itu menilai Guspardi Gaus sebagai sosok politisi cendekia, terlatih, serta memiliki keterampilan politik yang matang.
Zulkifli Hasan menyebut Guspardi sebagai tokoh asal Sumatera Barat yang dikenal piawai berdiplomasi, pintar berbicara, dan memiliki reputasi kuat di parlemen. Menurutnya, kiprah Guspardi di Komisi II DPR RI membuatnya disegani, baik oleh teman maupun lawan politik.
“Di Komisi II, beliau disegani oleh teman dan lawan. Pengabdiannya optimal dan maksimal untuk kepentingan Sumbar dan Indonesia,” ujar Zulkifli Hasan.
Dia juga menyinggung kedekatannya dengan Guspardi Gaus dalam berbagai dinamika politik. Ia mengaku kerap dihubungi banyak pihak untuk berdiskusi mengenai Guspardi, begitu pula sebaliknya, dirinya juga kerap berkomunikasi langsung dengan Guspardi.
Zulhas juga menilai Guspardi memiliki suara politik yang besar dan pengaruh yang kuat. Namun, menurutnya, pada usia 70 tahun, Guspardi seolah sedang diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk beristirahat sejenak dari padatnya aktivitas politik. Meski begitu, ia menyebut usia tersebut masih tergolong muda dibandingkan sejumlah tokoh senior bangsa yang tetap aktif berkarya.
Wakil Ketua MPR RI Edy Soeparno dalam sambutannya mengatakan Sumatera Barat memang dikenal sebagai daerah yang melahirkan banyak cendekiawan dan tokoh bangsa. Ia mengaku mengenal Guspardi sejak masih menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Sumatera Barat.
Menurut Edy, Guspardi adalah figur yang rajin, selalu tampil di depan, dan konsisten memperjuangkan gagasan. Ia menyebut peluncuran tujuh buku Guspardi sebagai capaian luar biasa yang dapat menjadi referensi bagi politisi, akademisi, dan masyarakat luas. “Guspardi itu rajin dan selalu di depan. Tujuh buku ini luar biasa,” kata Edy.
Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayuda juga memberikan penghormatan kepada Guspardi. Ia menyebut Guspardi sebagai anggota Komisi II yang hampir selalu menjadi penanya pertama dalam setiap rapat. Menurutnya, suara Guspardi bukan hanya lantang, tetapi juga bernas, nasionalis, dan sarat pesan moral.
Ia menilai pemikiran Guspardi perlu terus dirawat dan ditransformasikan ke ruang digital agar dapat menjangkau generasi muda.
Guspardi, katanya, tidak perlu menunggu momentum politik 2029 untuk terus hadir di ruang publik, melainkan dapat mulai membagikan gagasan melalui konten rutin.
“Dalam seminggu dua konten saja. Transformasikan pemikiran-pemikiran beliau. Komentari reformasi agraria, meritokrasi, dan isu-isu kebangsaan. Anak cucu perlu mencontoh,” ujarnya.
Sedangkan Din Syamsuddin mengenang Guspardi sebagai sahabat lama sejak masa kuliah pada 1976. Ia menyebut Guspardi dan Anwar Abbas sebagai tokoh Minang yang memiliki karakter ninik mamak, berwibawa, pemberani, serta mampu mendobrak keadaan.
Din menilai Guspardi adalah aktivis yang berani, tetapi bukan pemberontak yang nakal. Menurutnya, keberanian Guspardi dalam menyampaikan sikap dan gagasan menjadi teladan bagi banyak orang, termasuk dirinya.
“Guspardi itu pemberani mendobrak keadaan. Sebagai aktivis, saya juga terpengaruh dengan keberanian beliau,” ujar Din yang juga menilai tujuh buku Guspardi layak menjadi contoh bagi anggota DPR lainnya.
Menurutnya, tidak banyak politisi yang mampu mendokumentasikan pemikiran, pengalaman, dan gagasannya dalam bentuk karya tulis yang dapat diwariskan.
Buya Anwar Abbas dalam testimoninya menyebut Guspardi sebagai sosok yang memiliki perjalanan hidup inspiratif. Ia menuturkan bahwa Guspardi memulai usaha dari modal kecil, sekitar Rp1 juta, hingga berkembang menjadi puluhan outlet.
Menurut Anwar Abbas, keberhasilan Guspardi tidak hanya ditopang oleh kecerdasan dan kepiawaian bergaul, tetapi juga oleh doa banyak orang yang berada di sekelilingnya, termasuk para karyawan. Ia menyebut banyak karyawan Guspardi berasal dari kalangan anak yatim.
“Kelebihan Guspardi adalah pandai bergaul. Setelah saya telusuri, keberhasilan beliau juga karena doa karyawannya,” kata Anwar Abbas.
Pada kesempatan yang sama, Irman Gusman menyampaikan testimoni emosional atas nama keluarga. Ia mengenang Guspardi sebagai sosok sahabat yang lurus, patuh, dan memiliki jiwa aktivis yang kuat.
Irman menceritakan bagaimana Guspardi pernah datang ke KPU hanya untuk mempertanyakan alasan dirinya dicoret. Sikap itu, menurut Irman, menunjukkan ketulusan, keberanian, dan kesetiaan Guspardi sebagai seorang sahabat.
“Saya tidak lurus-lurus saja, tapi beda dengan Guspardi, beliau benar-benar lurus. Beliau patuh, itulah yang membuat beliau selamat,” kata Irman dengan suara bergetar.
Irman juga menyebut Guspardi sebagai sosok yang sehat karena terus berbicara dan memperjuangkan gagasan. Baginya, Guspardi adalah figur yang menjalani hidup dengan keteguhan, bahkan dalam badai sekalipun.
Acara tersebut menjadi momentum penghormatan bagi perjalanan hidup Guspardi Gaus sebagai pengusaha, intelektual, akademisi, politisi, sekaligus tokoh Sumatera Barat yang dinilai telah memberikan pengabdian maksimal bagi daerah dan bangsa. Peluncuran tujuh buku tersebut sekaligus menandai upaya mendokumentasikan pemikiran Guspardi agar tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)






