HEADLINE

Melawat ke Negeri China (5) : WCICO dan Cara Chongqing Menduniakan Diri

×

Melawat ke Negeri China (5) : WCICO dan Cara Chongqing Menduniakan Diri

Sebarkan artikel ini
Rombongan wartawan se-Sumatera di Taman WCICO, Chongqing. Foto: IST

Laporan : Hasril Chaniago

Sebelum dibukanya penerbangan langsung Manila-Chongqing oleh Air China dan Xiamen Air awal Mei 2026, WCICO “mengajak” sejumlah vlogger dan penggiat media sosial kelas atas asal Filipina – yang punya pengikut dua juta atau lebih – untuk berkunjung ke Chongqing. Setelah menyaksikan betapa hebat dan fenomenalnya kota terbesar dan salah satu kota paling modern di Tiongkok ini, para influencer itu pun kembali ke negaranya dan membuat berbagai konten yang tentu saja bercerita tentang segala sesuatu yang wah mengenai Chongqing yang memang wah. Hasilnya bisa diduga, jutaan orang akan tercengang-cengang, dan ingin berkunjung ke Chongqing.

Menggunakan pengaruh para influencer,  vlogger, youtuber atau Tik-Tokers kelas dunia untuk mempromosikan Chongqing salah salah satu cara mereka. Di antaranya, mereka pernah “memanfaatkan” pebasket kenamaan Stephen Curry yang berkunjung ke China untuk mempromosikan Chongqing.

Selain promosi yang dirancang, ada pula promosi yang tidak sengaja. Chongqing Railway Station (Stasiun Kereta Chongqing Timur) saat ini diakui sebagai stasiun kereta terbesar di muka bumi. Stasiun ini memiliki total area konstruksi mencapai 1,22 juta meter persegi atau setara dengan luas 170 lapangan sepak bola standar internasional. Mega-proyek yang menelan investasi fantastis sebesar US$7,8 miliar atau sekitar sekitar Rp138,8 triliun ini diselesaikan dalam waktu 38 bulan, dan telah berfungsi penuh sejak Juni 2025.

Tak lama setelah stasiun tersebut beroperasi penuh Juni 2015, langsung menjadi pusat perhatian global setelah CEO Tesla dan SpaceX, Elon Musk, mengunggah video kekagumannya terhadap stasiun ini di platform X. Dalam waktu singkat, unggahan orang terkaya dunia ini langsung ditonton 56 juta kali, dan mata dunia pun tertuju ke Kota Chongqing.

Pupularitas Chingqing yang mendunia, lebih-lebih lima tahun terakhir, tak lepas dari kiprah dan peran  Western China International Communication Organization (WCICO) atau Pusat Komunikasi Internasional China Barat.  WCICO berdiri pada 16 Agustus 2023 sebagai platform komunikasi internasional yang dioperasikan oleh Chongqing Daily Newspaper Group, badan usaha milik pemerintah Kota Chongqing. Sebelumnya, lembaga ini bernama Chongqing International Communication Center (CICC) yang telah berdiri sejak 2018.

Kalau kita setarakan dengan lembaga pemerintah daerah yang menangani komunikasi di Indonesia, WCICO ini kira-kira berfungsi seperti Dinas Komimfo provinsi. Namun di kota Chongqing dan bagi wilayah bagian barat Tiongkok, perannya jauh lebih hebat dan luar biasa. Meskipun merupakan “anak” dari agensi resmi pemerintah, tetapi WCICO lebih menampakkan diri sebagai lembaga swasta yang profesional dan sangat efektif.

Baca Juga  Energy Terbarukan Kian Diminati, Pelanggan Bisnis dan Industri Bisa Dapatkan REC Langsung ke PLN

WCICO memiliki posisi sebagai hub komunikasi internasional Kota Chongqing dan kawasan China Tengah-Barat. Dalam menjalankan perannya, Pusat ini menetapkan jalur pengembangan inti ganda, yaitu “integrasi promosi luar negeri dan keterbukaan terhadap dunia luar” serta “integrasi komunikasi internasional dan pembangunan perkotaan”. Melalui strategi kolaborasi lintas sektor, keterlibatan sosial, dan pemberdayaan digital, WCICO berupaya membangun sistem komunikasi internasional perkotaan model baru dan telah terbukti efektif mempromosikan Chongqing kes eluruh dunia.

Pusat ini beroperasi dari komplek yang diberi nama Taman WCICO, menempati kawasan seluas sekitar empat hektare di Distrik Yubei, Chongqing. Ke sanalah berkunjung rombongan wartawan se-Sumatera yang difasilitas Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Medan, pada Rabu 24 Juni 2026.  Suasana hangat dan akrab terasa sekali saat rombongan jurnalis Indonesia disambut langsung oleh Deputi General Manager WCICO, Sang Jian. Dengan ramah, pria 45 tahun ini menyapa rombongan dan kemudian memandu langsung para jurnalis melihat berbagai fasilitas yang terdapat di dalam gedung tersebut. Mulai dari ruang kerja, studio siaran, ruang produksi konten, fasilitas pendukung komunikasi digital, hingga ruang kerja bagi sekitar 70 karyawan termasuk jurnalis.

Semua fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya Chongqing membangun platform komunikasi internasional yang menggabungkan kemampuan digital, produksi konten, dan jaringan kerja sama global.

Sang Jian yang didampingi Deputy Director Chongqing Bridget Yang serta Managing Editor Bridging News Liu Dan, menjelaskan bahwa WCICO merupakan platform komunikasi internasional yang dibentuk untuk mempromosikan dan memperkenalkan perkembangan Chongqing kepada dunia melalui berbagai saluran informasi.

Yang menarik, dengan hanya sekitar 70 pegawai, WCICO mampu mengelola platform iChongqing dan Bridging News; memproduksi lebih dari 10.000 berita berbahasa Inggris setiap tahun; mengoperasikan akun media sosial dengan total lebih dari 23 juta pengikut; dan, menyelenggarakan promosi internasional untuk investasi, pariwisata, budaya, dan pendidikan Kota Chongqing.

Pemerintah Tiongkok menilai WCICO telah  berhasil menjadikan Chongqing lebih dikenal secara internasional dan memperkuat citra kota tersebut sebagai pusat ekonomi, manufaktur, logistik, dan inovasi di Tiongkok barat. Hal ini merupakan salah satu alasan pemerintah terus memperluas peran WCICO melalui pengembangan platform media, layanan bagi warga asing, dan jaringan kerja sama global.

Baca Juga  Peringati Hari Jadi ke-21, Majelis Ilmu Jamilah Dante Hadirkan Hypnoterapist Kondang Hendri Navigator

Pengaruh WCICO terhadap arus investasi ke Chongqing tentu ada, tetapi bersifat tidak langsung. Hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan bahwa WCICO sendiri menyebabkan peningkatan investasi asing dalam jumlah tertentu. Namun demikian, dapat dilihat bahwa Chongqing kini menjadi basis bagi 325 perusahaan Fortune Global 500 dan memiliki lebih dari 8.700 perusahaan bermodal asing. Pemerintah kota mengaitkan pencapaian ini terutama dengan kekuatan industri dan iklim investasinya, bukan semata-mata dengan aktivitas komunikasi internasional.

Walaupun tidak dilihat pengaruh secara langsung, tetapi peran model WCICO telah menjadi cara yang ditiru oleh kota dan provinsi lain di Tiongkok. Sehingga, sejak 2023–2025, banyak provinsi dan kota di Tiongkok mendirikan lembaga serupa dengan WCICO. Hal ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat kemampuan pemerintah daerah berkomunikasi langsung dengan masyarakat internasional.

Semula komunikasi internasional Tiongkok didominasi oleh lembaga nasional di Beijing, seperti    Xinhua News Agency, China Media Group, dan China International Communications Group. Namun pemerintah pusat kemudian menyadari bahwa setiap daerah memiliki keunggulan yang berbeda. Karena itu, setelah melihat keberhasilan Chongqing dengan WCICO, maka provinsi-provinsi dan kota-kota lain didorong membentuk pusat komunikasi internasional sendiri agar dapat mempromosikan daerahnya di bidang investasi, ekspor, pariwisata, budaya, pendidikan, dan kerja sama luar negeri.

Menurut berbagai pemantauan terhadap perkembangan lembaga semacam International Communication Centers (ICC) ini, hingga 2025 terdapat lebih dari 200 ICC yang beroperasi di seluruh Tiongkok. Tidak semuanya berada di tingkat provinsi; sebagian berada di tingkat kota, kawasan otonom, bahkan pada perusahaan milik negara yang besar.

Selain WCICO sang pelopor, lembaga serupa yang lahir belakangan antara lain adalah South International Communication Center (SICC) untuk Provinsi Guangdong; Fujian International Communication Center (FICC) (Fujian); Sichuan International Communication Center (Sichuan), Jiangxi International Communication Center (Jiangxi), Guangxi International Communication Center (Guangxi), Zhejiang International Communication Center (Zhejiang) atau Inner Mongolia International Communication Center (Mongolia Dalam), dan banyak lagi.

Dengan meniru cara Chongqing menduniakan dirinya, kita banyak provinsi dan kota-kota di seluruh Tiongkok juga berlomba-lomba menduniakan diri mereka.

Dalam upaya mempromosikan negara kita, sekaligus daerah-daerah di Indonesia, cara yang dilakukan China ini mungkin patut pula menjadi inspirasi untuk dipelajari, dicontoh, lalu dikembangkan sesuai potensi negara dan daerah masing-masing. (*)