Oleh : Alfauzan, SAg, MM (Kepala MTsN 2 Pesisir Selatan)
Dalam kehidupan, kita sering menaruh sebuah harapan besar tentang keinginan untuk mencapai kehidupan di masa depan, kita telah mencoba membuat sebuah perencanaan yang detail, terukur dan rasional dengan matang tentang apa yang menjadi obsesi Kita untuk mencapainya.
Berbagai upaya dan kiat untuk menyiapkan segala sesuatu terkadang seringkali tidak sesuai apa yang kita bayangkan dengan hasil atau capaian yang sesuai dengan keinginan yang kita harapkan, malahan terkadang kenyataan lebih sering terjadi sebaliknya, dimana tidak selarasnya apa yang Kita harapkan tersebut dalam kenyataannya. Bahkan tidak jarang terjadi apa yang kita inginkan tersebut, tidak sesuai dengan apa yang selama ini Kita diinginkan.
Ketika Kita sering mengalami hasil swsuai harapan, tentu ini akan membuat rasa putus asa bahkan sampai terjatuh dan terpuruk di saat mental Kita benar-benar down mendapati kenyataan yang diluar ekspektasi, maka dalam kondisi demikian itu, sebagai manusia yang lemah, pastilah akan timbul rasa percaya diri, bahkan ragu terhadap kemampuan diri sendiri untuk survive lagi di masa dan kesempatan yang lain.
Sebetulnya ketika perasaan kecewa muncul terhadap diri sendiri itu, merupakan hal yang sangat manusiawi, tidak ada siapa pun yang siap menerima hasil dari kegagalan, walaupun demikian, di situlah kita sering di uji bukan sekadar dari sisi kemampuan, tetapi dari sisi kekuatan dan beban mental yang di hadapi oleh diri kita sendiri.
Ketika terjadinya penumpukan berbagai persoalan, maka hanya kedewasaan dan kematangan Iman dan pengalamanlah yang akan mampu memahami kenyataan yang tidak sesuai harapan Kita ini bisa dilewati. Ketahuilah bahwa Hidup yang kita jalani bukan hanya tentang kemampuan Kita mendapatkan hasil sesuai yang kita inginkan, tetapi sebaliknya adalah bagaimana Kita mampu bertahan dan bangkit lagi dari kegagalan yang menimpa Kita.
Menerima keadaan yang sedang terjadi bukan berarti kita ada rasa ingin menyerah tanpa melakukan usaha-usaha apa pun, penerimaan diri memiliki rasa kesadaran bahwa semua yang terjadi di luar jangkauan diri. kita bisa mengatur perilaku tetapi tidak dengan menentukan hasil pencapaian sepenuhnya, sejatinya dari sinilah kita harus mulai terbiasa untuk menerima serta memberikan kesempatan diri Kita mengontrol emosi, rasa sakit dan kecewa yang berlebih-lebihan.
Pada akhirnya kita harus bisa menerima kenyataan bahwa tidak selamanya harapan itu akan sesuai dengan apa yang Kita dambakan, sadarilah bahwa hal terpenting dari proses bertumbuh dewasa itu, bagaimana kehidupan yang kita jalani sekarang fahami sebagai sebuah proses dari bagian kehidupan yang harus dijalani. Kita harus bangkit dari rasa kegagalan, hargailah dari setiap hal yang kita lakukan walau sekecil apapun.
Hidup sejatinya adalah sebuah proses pendewasaan untuk mau dan mampu berdamai dengan keadaan yang telah berlaku, tanpa harus menyalahkan siapapun termasuk diri Kita sendiri atau keadaan yang memang telah dan harus terjadi sesuai sunnatullah.
Perlu di kunci dan disadari betul dengan pendekatan keimanan dan keyakinan yang sungguh-sungguh sebagai insan yang beragama dan ber-Tuhan, bahwa ketika semua upaya dan doa telah kita tunaikan, maka pastikan dan yakinkan diri kita, bahwa semua yang berlaku adalah atas kehendak-Nya dan pastikan bahwa segala sesuatu akan terasa indah nanti pada waktunya.
Semoga bermanfaat bagi kita semua. (*)






